Iran Vs Amerika Memanas
Bagaimana China Melindungi Diri dari Krisis Minyak Iran
China mampu menghadapi krisis minyak global berkat cadangan strategis yang sangat besar dan perencanaan jangka panjang.
Artinya, terdapat surplus sekitar 1,24 juta barel per hari yang dialokasikan ke cadangan darurat, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1,13 juta barel per hari pada 2025.
Cadangan minyak strategis sendiri merupakan stok minyak mentah yang dikelola pemerintah untuk digunakan saat terjadi gangguan pasokan atau krisis pasar.
Konsep ini mulai berkembang sejak 1975, ketika Amerika Serikat merespons embargo minyak Arab yang memicu lonjakan harga hingga empat kali lipat dan kelangkaan energi di Barat.
Saat ini, banyak negara memiliki cadangan serupa, terutama anggota IEA, namun skala cadangan China tetap menjadi salah satu yang terbesar.
Kenaikan harga minyak saat ini telah berdampak luas terhadap harga berbagai produk global, meningkatkan risiko krisis ekonomi yang lebih besar.
Strategi Energi yang Berbeda
Selain membangun cadangan besar, China juga menjalankan strategi diversifikasi energi.
Menurut CNBC (mengutip data IEA), energi terbarukan (tidak termasuk nuklir dan tenaga air) menyumbang sekitar 1,2 persen dari total konsumsi energi China pada 2023, naik dari 0,2 persen dua dekade sebelumnya.
India dan Amerika Serikat mencatat angka sekitar 0,2 persen pada periode yang sama.
Meski porsinya masih kecil, tren peningkatan ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.
Dorongan China terhadap kendaraan listrik, khususnya truk, telah mengurangi kebutuhan minyak hingga lebih dari 1 juta barel per hari, menurut Rhodium Group (Juli 2025).
Angka tersebut, diperkirakan akan bertambah sekitar 600.000 barel per hari dalam 12 bulan berikutnya.
Lebih dari separuh kendaraan penumpang baru yang terjual di China kini merupakan kendaraan energi baru, yang lebih bergantung pada baterai dibandingkan bahan bakar fosil.
“Dengan permintaan bahan bakar transportasi yang mulai mencapai puncaknya dan kapasitas energi terbarukan yang terus berkembang, sensitivitas China terhadap fluktuasi harga minyak semakin menurun,” ujar analis OCBC.
“Dalam jangka panjang, elektrifikasi transportasi dan ekspansi energi terbarukan akan semakin melindungi perekonomian dari guncangan harga minyak.”
Saat ini, minyak dan gas hanya menyumbang sekitar 4 persen dari bauran energi China, jauh lebih rendah dibandingkan 40–50 persen di banyak negara Asia lainnya.
Sebaliknya, listrik, yang sebagian besar masih berasal dari batu bara namun semakin didukung energi terbarukan, menjadi komponen yang terus meningkat dalam konsumsi energi China, menurut lembaga think tank Ember.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/n-Fase-12-Kompleks-Gas-South-Pars-Assaluyeh-Serang.jpg)