Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.489, Zelenskyy: Dunia Tak Bisa Stabil Tanpa Ukraina
Zelenskyy mengingatkan mitra Eropanya bahwa keamanan mereka tidak akan stabil tanpa peran Ukraina yang sedang berjuang melawan invasi Rusia.
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.489, dengan Volodymyr Zelenskyy menegaskan stabilitas global tak bisa tercapai tanpa Ukraina.
- Ia menyoroti pentingnya kerja sama internasional dan mengklaim serangan Rusia justru menimbulkan kerugian besar bagi pihak lawan.
- Negosiasi antara Ukraina dan Amerika Serikat tetap berjalan tanpa kehadiran Rusia pada hari Minggu.
- Zelenskyy juga khawatir konflik Timur Tengah dapat memperpanjang perang dan melemahkan posisi negaranya.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.489 pada Senin (23/3/2026).
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menegaskan bahwa stabilitas kawasan Eropa dan dunia tidak dapat dicapai tanpa peran Ukraina.
Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa keamanan yang nyata hanya bisa terwujud jika Ukraina berada dalam kondisi stabil dan terlindungi.
Zelenskyy juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional. Ia menyebut bahwa Ukraina saat ini menjalin hubungan dengan negara-negara Teluk untuk berbagi pengalaman dalam menjaga keamanan dan melindungi kehidupan masyarakat.
Upaya tersebut, menurutnya, telah menunjukkan hasil nyata melalui kontribusi unit-unit pertahanan Ukraina.
“Negara-negara lain di dunia sekarang juga harus memberikan kontribusi mereka untuk stabilisasi,” ujarnya, Minggu (22/3/2026) malam.
Ia menambahkan bahwa kerja sama global sangat dibutuhkan untuk menciptakan keamanan yang lebih luas.
Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa berdasarkan intelijen yang dimiliki, Rusia merasa terganggu dengan semakin besarnya peran Ukraina di mata dunia.
“Ini yang paling tidak dapat diterima oleh mereka seperti Rusia – ketika negara-negara di dunia tidak dibiarkan sendiri,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Zelenskyy menyampaikan apresiasi kepada negara-negara yang telah memberikan dukungan dan berdiri bersama Ukraina dalam menghadapi konflik yang masih berlangsung.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.488, Zelensky: Tim Ukraina-AS Bertemu di Miami
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina mulai meletus pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer ke berbagai kota di Ukraina. Serangan ini terjadi setelah hubungan kedua negara lama berada dalam kondisi yang tegang.
Akar permasalahan sebenarnya sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina semakin menjalin kedekatan dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang membuat Rusia merasa pengaruhnya di kawasan tersebut semakin berkurang.
Ketegangan meningkat pada tahun 2014 ketika terjadi gelombang demonstrasi besar di Kyiv yang dikenal sebagai Revolusi Maidan. Peristiwa ini mengubah arah politik Ukraina menjadi lebih condong ke Barat. Sebagai tanggapan, Rusia kemudian mengambil alih wilayah Krimea dari Ukraina.
Pada saat yang sama, konflik bersenjata juga terjadi di wilayah Donbas, Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina terlibat pertempuran dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya perdamaian, konflik di kawasan ini belum juga terselesaikan.
Puncak eskalasi terjadi pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan operasi militer skala besar ke Ukraina. Rusia menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas serta mencegah ekspansi NATO di wilayah tersebut.
Tindakan ini mendapat kecaman luas dari dunia internasional. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta memberikan dukungan militer dan finansial kepada Ukraina.
Sejak saat itu, perang Rusia–Ukraina menjadi salah satu konflik global paling penting dan berdampak besar dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini, perang masih berlanjut dan AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan.
Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa pasukan Rusia tengah berupaya meningkatkan intensitas serangan di garis depan dengan memanfaatkan kondisi cuaca yang lebih mendukung.
Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan panglima militer Ukraina, Oleksandr Syrsky.
Meski demikian, Zelenskyy menegaskan bahwa peningkatan serangan tersebut justru menyebabkan kerugian besar di pihak Rusia.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menguasai desa Potapivka di wilayah Sumy, Ukraina utara, yang berada dekat perbatasan Rusia, dikutip dari The Guardian.
Perwakilan Ukraina dan Amerika Serikat telah menuntaskan hari kedua perundingan di Florida untuk mencari solusi atas konflik yang telah berlangsung selama empat tahun dengan Rusia.
Namun, delegasi Rusia tidak turut hadir dalam pembicaraan tersebut, meskipun sebelumnya sempat direncanakan akan ikut serta dalam negosiasi yang dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi.
-
Kremlin Bantah Rusia Berkata Kasar kepada Prancis
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa pemerintah Rusia tidak menggunakan bahasa kasar dalam komunikasi dengan negara lain.
Pernyataan ini muncul setelah laporan Financial Times yang menyebut penasihat Presiden Prancis Emmanuel Macron, yakni Emmanuel Bonne dan Bertrand Buchwalter, melakukan kunjungan ke Moskow dan bertemu dengan ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Yuri Ushakov.
Menurut sumber diplomat Eropa, pertemuan tersebut membahas usulan keterlibatan Uni Eropa dalam pembicaraan damai.
Namun, laporan itu menyebut pertemuan berakhir dengan pernyataan Ushakov, “Maaf, sebenarnya, tidak, kami tidak [harus], persetan dengan kalian.”
Menanggapi hal itu, Peskov membantah, dengan mengatakan, “Tidak, tidak seorang pun dari kami pernah menggunakan kata-kata kasar untuk menyebut siapa pun.”
“Anda tahu, ada sebuah pepatah bijak dari seorang diplomat yang bijaksana. Apa itu diplomasi? Itu adalah kemampuan untuk menyuruh seseorang pergi ke neraka dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar berniat untuk pergi ke sana," ujarnya.
Peskov mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut memang terjadi, tetapi tidak menghasilkan sinyal positif. Ia juga menyatakan bahwa Rusia tetap terbuka pada penyelesaian diplomatik.
Sejak awal tahun, Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina telah menggelar tiga putaran pembicaraan, dengan pertemuan terakhir di Jenewa. Rencana pertemuan berikutnya sempat tertunda karena situasi di Timur Tengah, namun disebut akan dilanjutkan kembali, dikutip dari Russia Today.
-
Zelenskyy Berharap AS Tetap Fokus Akhiri Perang Ukraina Meski Konflik dengan Iran Memanas
Volodymyr Zelenskyy menyampaikan harapannya agar Amerika Serikat tetap berkomitmen membantu mengakhiri invasi Rusia, meskipun perhatian negara tersebut kini juga tertuju pada konflik dengan Iran.
Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan para utusan di Florida.
Sementara itu, negosiator dari kubu Donald Trump, yakni Steve Witkoff, menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan, meskipun tanpa rincian lebih lanjut.
Diskusi tersebut berlangsung setelah AS melonggarkan sanksi terhadap sektor minyak Rusia.
-
Zelenskyy Khawatir Konflik Timur Tengah Perpanjang Perang, Soroti Peran Vladimir Putin
Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait dampak konflik di Timur Tengah terhadap upaya mengakhiri perang di Ukraina serta kemampuan negaranya dalam bertahan.
Ia juga menyinggung ketegangan dalam hubungan antara Inggris dan Amerika Serikat di tengah konflik dengan Iran, sembari menegaskan bahwa hubungan historis kedua negara lebih kuat dari dinamika politik sesaat.
Selain itu, Zelenskyy menilai bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, kemungkinan menginginkan konflik di Timur Tengah berlangsung lama karena hal tersebut dapat melemahkan posisi Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Z3L3NSKYY-ERTERTERTRT.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.