Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.491, Zelenskyy: Tak Ada Kemajuan Diplomasi
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan tidak ada kemajuan dalam perundingan. Kyiv menilai Rusia tak serius untuk mengakhiri perang.
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.491, Presiden Ukraina Zelenskyy menyebut belum ada kemajuan damai karena Rusia tak serius bernegosiasi.
- Rusia terus menggencarkan serangan besar, termasuk ratusan drone dan rudal yang menghantam berbagai wilayah serta merusak bangunan bersejarah di Lviv.
- Dampaknya meluas hingga Moldova yang menetapkan darurat energi akibat jalur listrik terganggu.
- Sementara itu, Korea Utara menegaskan dukungan penuh ke Rusia dengan bantuan pasukan dan senjata.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.491 pada Rabu (25/3/2026).
Setelah mendengar laporan dari tim negosiasi Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan tidak ada kemajuan nyata dalam pembicaraan karena Rusia tidak ingin bergerak menuju perdamaian.
"Hari ini, tim negosiasi kami menyampaikan laporan setelah kembali dari Amerika Serikat. Sayangnya, belum ada kemajuan nyata – Rusia tidak memiliki keinginan untuk bergerak menuju perdamaian," kata Zelenskyy pada Selasa (24/3/2026) malam.
Zelenskyy menambahkan bahwa penting bagi Ukraina, AS, Eropa, dan aktor global lainnya untuk melakukan segala sesuatu yang mungkin dan perlu untuk memastikan bahwa Rusia benar-benar dan tulus tertarik pada diplomasi.
"Dan… bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak dari minyak dan membeli lebih banyak waktu untuk serangan dan agresi lebih lanjut. Perdamaian harus dapat diandalkan – itulah tujuan kita, dan itu akan tercapai. Dan kita akan menanggapi serangan. Itu sudah pasti," lanjutnya.
Sebelumnya, Zelenskyy menginstruksikan tim negosiasi Ukraina untuk terus bekerja seaktif mungkin dengan mitra Ukraina agar diplomasi bersifat substantif dan isu-isu kemanusiaan seperti pertukaran tahanan dapat diselesaikan.
Ia juga menginstruksikan tim tersebut untuk memberikan penjelasan kepada mitra Eropa dan Kanada tentang pertemuan di Florida, lapor Pravda.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer ke sejumlah kota di Ukraina. Serangan ini menjadi puncak dari ketegangan panjang yang sudah berlangsung sejak lama.
Akar konflik bermula setelah runtuhnya Uni Soviet, saat Ukraina mulai menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini membuat Rusia merasa pengaruhnya di kawasan tersebut terancam.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.490, Zelenskyy Klaim Rusia Bantu Iran
Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 melalui Revolusi Maidan di Kyiv yang mendorong perubahan arah politik Ukraina menjadi lebih pro-Barat. Sebagai tanggapan, Rusia mencaplok wilayah Krimea, sementara konflik bersenjata juga terjadi di Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan Rusia.
Situasi yang terus memanas akhirnya berubah menjadi invasi besar-besaran setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada 2022. Rusia menyatakan langkah ini bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas sekaligus menahan perluasan NATO.
Tindakan tersebut mendapat kecaman luas dari dunia internasional. Negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia dan memberikan bantuan militer serta keuangan kepada Ukraina. Hingga kini, konflik ini menjadi salah satu krisis global paling besar dengan dampak luas di berbagai sektor.
Amerika Serikat juga berperan sebagai penengah dalam upaya perundingan damai antara Rusia dan Ukraina. Namun, proses tersebut sempat terhambat setelah AS terlibat konflik dengan Iran, sehingga perhatian terhadap penyelesaian perang di Ukraina menjadi sedikit teralihkan.
Di tengah perang Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung, berikut ini perkembangan yang dirangkum dari berbagai sumber:
-
Moldova Darurat Energi 60 Hari, Jalur Listrik Lumpuh Imbas Serangan Rusia
Moldova menetapkan status darurat di sektor energi setelah jalur listrik utama yang terhubung ke Eropa terputus akibat serangan Rusia di Ukraina.
Status darurat ini mulai berlaku Rabu, 25 Maret 2026, dan direncanakan berlangsung selama 60 hari.
Perdana Menteri Alexandru Munteanu mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan listrik, terutama pada jam sibuk, serta tetap menjaga persatuan.
Moldova yang merupakan negara bekas Uni Soviet selama ini bergantung pada pasokan listrik dari Rumania melalui jaringan yang melintasi wilayah Ukraina selatan.
Pihak berwenang menyebutkan bahwa sebuah drone jatuh ditemukan di dekat jalur tersebut, sehingga diperlukan proses pembersihan ranjau sebelum perbaikan bisa dilakukan.
Menteri Energi Dorin Junghietu memperkirakan pemulihan jaringan listrik memakan waktu hingga tujuh hari.
“Hanya Rusia yang bertanggung jawab,” tulis Presiden Moldova Maia Sandu di X.
Pemerintah Moldova juga secara resmi mengecam serangan tersebut, yang merupakan bagian dari serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina sejak invasi 2022.
-
Zelenskyy Murka: Serangan Rusia ke Gereja Lviv Disebut “Kebejatan Mutlak”
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengecam keras serangan udara besar-besaran yang dilakukan Rusia di wilayah Ukraina.
Serangan tersebut terjadi pada siang hari dan dinilai tidak biasa karena menjangkau berbagai wilayah, termasuk kota bersejarah Lviv di bagian barat.
“Drone serang Iran, yang dimodernisasi oleh Rusia, menyerang sebuah gereja di Lviv – ini adalah kebejatan mutlak, dan hanya orang seperti (Vladimir) Putin yang bisa menganggap ini menarik,” kata Zelenskyy dalam pidato hariannya.
Ia juga menegaskan bahwa skala serangan menunjukkan Rusia tidak memiliki niat untuk mengakhiri perang.
“Skala serangan ini menunjukkan dengan jelas bahwa Rusia tidak berniat untuk benar-benar mengakhiri perang ini,” tambah Zelenskyy, seraya bersumpah bahwa Ukraina pasti akan membalas setiap serangan, lapor The Guardian.
Rusia dilaporkan meningkatkan intensitas serangan pada musim semi ini dengan tujuan melemahkan pertahanan Ukraina.
Dalam satu malam, Rusia meluncurkan hampir 400 drone jarak jauh dan 23 rudal jelajah, yang kemudian dilanjutkan dengan 556 drone dalam serangan siang hari yang tidak biasa.
Serangan besar tersebut menghantam berbagai kota di wilayah barat Ukraina dan menyebabkan sedikitnya tujuh orang tewas.
Aksi ini menjadi salah satu serangan udara terbesar sejak invasi skala penuh dimulai lebih dari empat tahun lalu.
Salah satu drone Rusia dilaporkan mengenai biara Bernardine, sebuah gereja abad ke-16 di pusat kota Lviv yang termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO, sehingga menyebabkan kerusakan pada bangunan bersejarah tersebut.
-
Kim Jong-un Tegaskan Dukungan Penuh ke Rusia, Kirim Pasukan dan Senjata
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menyatakan dukungan penuh negaranya kepada Rusia dalam pesan yang ditujukan kepada Presiden Vladimir Putin.
Pernyataan ini menegaskan semakin eratnya hubungan kedua negara sejak invasi Rusia ke Ukraina.
“Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Anda atas ucapan selamat yang hangat dan tulus atas pengangkatan kembali saya sebagai presiden urusan negara,” kata Kim dalam pesan tersebut.
“Saat ini DPRK dan Rusia bekerja sama erat untuk mempertahankan kedaulatan kedua negara,” kata Kim.
“Pyongyang akan selalu bersama Moskow. Ini adalah pilihan dan tekad kami yang tak tergoyahkan,” tambahnya.
Menurut berbagai laporan intelijen Barat dan Korea Selatan, Korea Utara telah mengirim ribuan tentara serta persenjataan seperti artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh ke Rusia.
Para analis menilai dukungan tersebut diberikan sebagai imbalan atas bantuan pangan dan teknologi militer dari Rusia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/z3l3nsky-345435tyrtufghf.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.