Jumat, 12 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Gempur Lebih dari 10 Ribu Target Militer Iran hingga Pekan Keempat, 1.500 Orang Tewas

AS klaim serang 10 ribu target Iran, negosiasi tetap berjalan di tengah perang dan penolakan publik yang terus meningkat

Tayang:
Penulis: Gita Irawan
Editor: Glery Lazuardi
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
GEMPUR IRAN - Jet-jet tempur Israel berangkat untuk menggempur Iran. Israel kini memasuki operasi milite rfase dua yang menargetkan sejumlah fasilitas penting, seperti pabrik senjata dan nuklir Iran. 
Ringkasan Berita:
  • Pasukan Amerika Serikat diklaim telah menghantam lebih dari 10 ribu target militer Iran
  • Di sisi lain, negosiasi masih berlangsung meski saling klaim berbeda. 
  • Dampak perang terasa di AS, sementara penolakan publik dan kritik politik terus meningkat.

TRIBUNNEWS.COM - Komandan US Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyatakan pasukan Amerika Serikat telah menyerang lebih dari 10 ribu target militer di Iran hingga pekan keempat operasi militer sejak akhir Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui video resmi yang diunggah di akun media sosial CENTCOM pada Kamis (26/3/2026).

Cooper mengklaim serangan besar-besaran ini bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya.

“Pasukan AS telah menyerang lebih dari 10.000 target militer. Bahkan, kami menghantam target Iran yang ke-10 ribu baru beberapa jam yang lalu,” ujar Cooper.

Ia juga mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran secara signifikan. Selain itu, sekitar 92 persen kekuatan kapal besar Angkatan Laut Iran disebut telah dihancurkan.

Tak hanya itu, Cooper menyebut kemampuan Iran dalam meluncurkan drone dan rudal telah menurun lebih dari 90 persen akibat operasi gabungan militer Amerika Serikat dan sekutunya.

“Hari ini, kami telah merusak atau menghancurkan lebih dari dua pertiga fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut serta galangan kapal Iran, dan kami belum selesai,” tegasnya.

Dalam operasi tersebut, AS juga mengerahkan ribuan penerbangan tempur untuk mempertahankan keunggulan udara di wilayah Iran.

Pesawat pengisian bahan bakar memperluas jangkauan misi, sementara jet tempur dan pengebom melakukan serangan presisi ke berbagai target strategis.

Cooper turut menyoroti peran pesawat pengebom B-52 Stratofortress yang mampu membawa hingga 70 ribu pon atau sekitar 31,7 ton amunisi dalam setiap misi serangan.

“Pilot dan awak pesawat B-52 kami menunjukkan keberanian dan ketangguhan luar biasa dalam operasi ini,” tambahnya.

Sementara itu, laporan dari The Associated Press menyebutkan media Iran yang mengutip kementerian kesehatan setempat melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas sejak dimulainya serangan militer AS dan sekutunya.

Situasi ini menandai eskalasi besar dalam konflik di kawasan Timur Tengah, dengan dampak kemanusiaan dan geopolitik yang terus berkembang.

Baca juga: Trump Sebut Iran Ogah Akui Ikut Negosiasi karena Takut: Mereka Mengira Akan Dibunuh Rakyat Sendiri

Negosiasi AS-Iran Berlanjut di Tengah Perang

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung di tengah konflik bersenjata yang memasuki hari ke-27.

Namun, kedua pihak menunjukkan narasi yang bertolak belakang terkait posisi masing-masing dalam negosiasi.

Presiden Donald Trump mengklaim Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan.

Sebaliknya, Iran menilai keinginan Washington untuk berunding justru menjadi tanda kelemahan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi tetap berlangsung melalui mediator.

Namun, ia menilai perubahan sikap AS—yang sebelumnya menuntut “penyerahan tanpa syarat”—sebagai bentuk pengakuan kegagalan.

Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan pembicaraan terus berjalan dan bahkan tengah mengupayakan pertemuan lanjutan di Pakistan untuk mencari jalan keluar konflik.

Baca juga: Iran Tolak Gencatan Senjata AS, Siapkan Syarat Sendiri di Tengah Eskalasi Konflik

Dampak Perang Mulai Terasa di AS

Di dalam negeri AS, dampak perang mulai dirasakan masyarakat. United States Postal Service (USPS) mengumumkan biaya tambahan bahan bakar sebesar 8 persen untuk pengiriman paket, yang akan berlaku mulai 26 April 2026.

Kebijakan ini menjadi sinyal meningkatnya beban ekonomi akibat perang, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha.

Selain itu, kritik juga datang dari parlemen. Anggota House Armed Services Committee dari dua partai menyatakan ketidakpuasan terhadap penjelasan pemerintah terkait tujuan dan durasi perang.

Ketidakjelasan ini muncul di tengah rencana pemerintah mengajukan tambahan anggaran untuk mendukung operasi militer dan pengadaan ulang amunisi.

Opini Publik Berbalik

Hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS tidak mendukung perang ini.

Sekitar 59 persen responden menilai keputusan menyerang Iran adalah langkah yang salah, sementara 61 persen tidak puas dengan penanganan konflik oleh Trump.

Gedung Putih sendiri menyebut operasi militer yang dinamai “Operation Epic Fury” masih ditargetkan berlangsung selama empat hingga enam pekan, meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan.

Ketegangan di Lapangan Meningkat

Di lapangan, situasi masih memanas. Iran dilaporkan memperkuat pertahanan di Pulau Kharg sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan operasi militer AS.

Selain itu, sumber militer Iran memperingatkan potensi pembukaan front baru di Selat Bab el-Mandeb jika tekanan militer terus meningkat.

Jalur ini merupakan salah satu titik vital perdagangan global, khususnya untuk minyak dan gas.

Serangan juga terus berlanjut, termasuk operasi militer Israel di kota Esfahan. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait melaporkan berhasil mencegat serangan yang masuk ke wilayah mereka.

Latar Belakang Konflik

Perang ini dipicu kegagalan negosiasi nuklir di Geneva dan menjadi eskalasi terbaru dari konflik panjang sejak Revolusi Iran 1979.

Sebelumnya, upaya diplomasi seperti Iran Nuclear Deal 2015 sempat meredakan ketegangan, namun konflik kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan militer pada 2025.

Sejumlah akademisi, seperti Daniel Philpott, menilai perang ini tidak memenuhi kriteria “perang yang adil” karena tujuan yang dinilai tidak jelas dan tidak adanya ancaman langsung.

Kritik juga datang dari mantan pejabat keamanan seperti Joe Kent yang mengundurkan diri karena menilai tidak ada ancaman mendesak dari Iran.

Meski demikian, sebagian pihak tetap melihat adanya alasan kuat bagi AS untuk bertindak, terutama terkait kekhawatiran terhadap program nuklir Iran dan dukungannya terhadap kelompok seperti Hezbollah.

Hingga kini, masa depan konflik masih belum jelas. Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa kegagalan menentukan tujuan akhir dapat memicu dampak besar, termasuk gangguan energi global di Selat Hormuz serta potensi konflik berkepanjangan di kawasan.

(CNN/Tribunnews)

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved