Iran Vs Amerika Memanas
Hubungan Israel dan AS Kembali Tegang, Beda Pendapat soal Cara Mengakhiri Perang Iran
Hubungan antara Israel dan Amerika Serikat (AS) kembali tegang terkait rencana penghentian perang di Iran. Israel tegas dengan pendiriannya.
Ringkasan Berita:
- Hubungan antara Israel dengan Amerika Serikat (AS) kembali mengalami keretakan pasca Washington mengupayakan perdamaian di Iran.
- Keduanya dilaporkan berbeda pandangan terkait draf proposal perdamaian yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik bersenjata dengan Iran.
- Berdasarkan laporan dari media publik Israel, KAN, setidaknya ada tiga poin krusial yang memicu keretakan pendapat ini.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Israel dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mengalami ketegangan.
Keduanya dilaporkan berbeda pandangan tentang draf proposal perdamaian yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik bersenjata dengan Iran.
Berdasarkan laporan dari media publik Israel, KAN, setidaknya ada tiga poin krusial yang memicu keretakan pendapat ini.
Pertama, mengenai nasib program rudal balistik milik Iran.
Kedua, soal prosedur penyerahan cadangan uranium Iran ke Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Terakhir, masalah pelonggaran sanksi ekonomi yang selama ini mencekik Teheran.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah menyodorkan 15 poin rencana damai kepada Iran melalui perantara Pakistan.
Salah satu poin yang paling disorot adalah usulan gencatan senjata sementara selama satu bulan.
Langkah ini diambil Washington sebagai upaya "buka pintu" bagi meja perundingan.
Namun, langkah AS ini justru membuat pihak Israel waswas.
Sumber internal politik Israel membocorkan bahwa Tel Aviv khawatir gencatan senjata prematur ini hanya akan memberi ruang bagi Iran untuk mengatur ulang strategi tanpa memberikan konsesi yang berarti.
Baca juga: Pangeran MBS Dilaporkan Desak Trump untuk Melanjutkan Perang Melawan Iran, Pemerintah Membantah
Sinyal Damai dari Iran
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengungkapkan adanya sinyal kuat bahwa Iran mulai melunak dan bersedia membuka pintu negosiasi.
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Witkoff secara perdana membocorkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah melayangkan "daftar tindakan" berisi 15 poin krusial kepada Teheran.
Pesan diplomatik ini disampaikan melalui perantara Pemerintah Pakistan.
"Kami akan melihat ke mana arah proses ini. Harapannya, Iran sadar bahwa ini adalah titik balik."
"Tidak ada pilihan lain yang lebih baik bagi mereka selain berunding, kecuali jika mereka memilih kehancuran yang lebih parah," tegas Witkoff dalam keterangannya yang dikutip dari Arab News.
Lampu hijau untuk berunding ini bukan tanpa syarat.
Washington menuntut komitmen penuh dari Teheran, terutama terkait aktivitas nuklirnya.
Beberapa poin utama dalam proposal 15 butir tersebut di antaranya:
- Larangan total pengembangan senjata nuklir.
- Penutupan permanen fasilitas nuklir Fordow.
- Penghentian total aktivitas pengayaan uranium.
- Penyerahan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada pihak Amerika Serikat.
Langkah diplomasi ini juga dikonfirmasi oleh pihak Eropa.
Baca juga: Ribuan Burung Gagak Terbang di Atas Tel Aviv Israel di Tengah Perang Lawan Iran, Pertanda Apa?
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyebutkan bahwa komunikasi intensif di balik layar terus terjadi.
Wadephul membocorkan bahwa dalam waktu dekat, perwakilan dari Washington dan Teheran dijadwalkan akan bertemu secara tatap muka di Pakistan untuk membahas langkah deeskalasi lebih lanjut.
"Informasi yang kami terima menunjukkan persiapan pertemuan langsung sudah matang."
"Pakistan akan menjadi tuan rumah bagi pertemuan bersejarah tersebut dalam waktu dekat," ujar Wadephul.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.