Jumat, 17 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pengamat: Donald Trump Terdesak Akhiri Perang Lawan Iran

Trump sekarang sedang mengemis untuk gencatan senjata, agar perang segera diakhiri karena tekanan di dalam negeri sudah kuat

|
TRIBUNNEWS/Lendy Ramadhan
AS DINILAI GAGAL - Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf berikan keterangan kepada Host Tribun Network Geok Mengwan di Studio Tribunnews, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026). Faisal Assegaf menilai, posisi Trump saat ini bukan lagi sebagai pihak yang mendikte, melainkan pihak yang sedang 'mengemis'. 

Ringkasan Berita:
  • Trump disebut tertekan dan ingin gencatan senjata dengan Iran akibat tekanan domestik AS 
  • Lonjakan harga BBM karena penutupan Selat Hormuz membuat ekonomi AS terguncang, bensin naik 4–5 dolar per galon dan kepuasan publik turun segera 
  • Situasi diperparah ancaman pemakzulan dan kerusakan militer, sehingga AS melunak dan cari diplomasi di AS cepat ini
 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut tengah berada dalam posisi sulit dan sangat menginginkan gencatan senjata dengan Iran secepat mungkin.

Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai, posisi Trump saat ini bukan lagi sebagai pihak yang mendikte, melainkan pihak yang sedang 'mengemis'.

Kondisi ini disebabkan oleh tekanan ekonomi yang luar biasa hebat di dalam negeri Amerika Serikat akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Hal itu diungkapkan Faisal saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

"Trump sekarang sedang mengemis untuk gencatan senjata, agar perang segera diakhiri karena tekanan di dalam negeri sudah kuat," ujar Faisal.

Salah satu faktor utama adalah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat yang mencekik rakyatnya.

Baca juga: Donald Trump Ogah Minta Maaf ke Paus Leo XIV

Faisal memaparkan, harga bensin di Amerika yang tadinya berada di kisaran 2 dolar per galon, kini meroket hingga menyentuh angka 4 sampai 5 dolar per galon.

Hal ini memicu ketidakpuasan publik yang sangat tinggi terhadap kinerja sang Presiden.

"Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Trump sekarang cuma 26 persen. Mereka tidak puas karena faktor ekonomi," paparnya.

Survei dari Newsweek bahkan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan bagi Trump, di mana 77 persen rakyat Amerika ingin Kongres segera memecat Trump.

Kekecewaan ini diperparah dengan pandangan masyarakat AS terhadap sekutu utama mereka, Israel.

Berdasarkan data Pew Research, sekitar 60 persen orang dewasa di Amerika Serikat kini sudah tidak menyukai Israel.

Faisal menilai, Trump menyadari bahwa posisi politiknya dan Partai Republik akan terancam dalam Pemilu Sela bulan November mendatang jika perang terus berlanjut.

Oleh karena itu, Amerika Serikat melalui delegasinya mulai menurunkan ego dan mencari jalan keluar diplomasi di Islamabad.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved