Rabu, 29 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Terima Pesan Lewat Perantara, Iran Anggap Proposal AS Tak Realistis dan Berlebihan, Fokus Bela Diri

Iran menerima pesan melalui perantara yang mengindikasikan kesediaan Amerika Serikat untuk bernegosiasi.

Tayang:
Penulis: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Donald Trump mengatakan AS dan Iran telah bertemu "secara langsung dan tidak langsung."
  • Iran menerima pesan melalui perantara yang mengindikasikan kesediaan Amerika Serikat untuk bernegosiasi.
  • Namun, Iran menganggap proposal AS sebagai "tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan."

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan AS dan Iran telah bertemu "secara langsung dan tidak langsung."

Trump juga mengatakan para pemimpin baru Iran "sangat masuk akal," seiring dengan kedatangan lebih banyak pasukan AS di wilayah tersebut dan peringatan Teheran, mereka tidak akan menerima penghinaan.

Pernyataan Trump pada Minggu (29/3/2026) itu disampaikan setelah Pakistan, yang bertindak sebagai perantara antara Teheran dan Washington, mengatakan mereka sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah "pembicaraan yang bermakna" dalam beberapa hari mendatang yang bertujuan untuk mengakhiri perang Iran yang telah berlangsung selama sebulan.

“Saya rasa kita akan mencapai kesepakatan dengan mereka, saya cukup yakin, tetapi mungkin juga tidak,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu malam saat ia melakukan perjalanan dengan Air Force One ke Washington, dilansir Arab News.

Iran Sebut Proposal AS Tidak Realistis

Iran menerima pesan melalui perantara yang mengindikasikan kesediaan Amerika Serikat untuk bernegosiasi.

Namun, Iran menganggap proposal AS sebagai "tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan."

Hal ini sebagaimana disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Senin (30/3/2026).

Ia mengatakan Iran menyambut baik upaya negara-negara regional untuk mencapai perdamaian, tetapi pandangan "realistis" terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi sangat diperlukan.

“Posisi kami jelas. Kami sedang mengalami agresi militer. Oleh karena itu, semua upaya dan kekuatan kami difokuskan untuk membela diri,” kata Baghaei, dikutip dari Al Arabiya.

Trump Akui Ingin Rebut Minyak Iran

Donald Trump mengatakan dia ingin merebut sumber daya minyak Iran, Minggu (29/3/2026).

Ini menjadi sebuah langkah yang akan menandai eskalasi besar dalam konflik tersebut.

Baca juga: Trump Sebut Para Demonstran No Kings Bodoh, Ambisi Kuasai Minyak Iran Tetap Jalan

“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan: 'Mengapa Anda melakukan itu?'” katanya dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.

“Tapi mereka orang-orang bodoh,” lanjut Trump.

Mengambil minyak Iran akan membutuhkan operasi militer berisiko yang melibatkan invasi dan pendudukan pusat ekspor utamanya, Pulau Kharg, yang juga menampung pangkalan angkatan laut Iran.

Trump menambahkan, merebut Pulau Kharg “juga berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu.”

Presiden AS mengatakan perang akan berakhir “segera,” karena dampak ekonomi berisiko meningkat menjadi beban politik bagi Partai Republiknya menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

Tuntutan AS

Trump mengatakan, Iran "memberikan" sebagian besar dari 15 tuntutan yang diajukan AS kepada Teheran untuk mengakhiri perang, meskipun masih belum jelas apakah kedua pihak sedang bernegosiasi.

“Mereka memberi kami sebagian besar poin. Mengapa tidak?” katanya kepada wartawan di Air Force One pada Minggu, dilansir Al Arabiya.

“Kami akan meminta beberapa hal lain," tambahnya.

Namun, Trump menolak untuk merinci konsesi apa yang telah ditawarkan Iran.

Baca juga: Pernyataan Kedubes Iran Atas Gugurnya Prajurit TNI Karena Serangan Israel

MENGANCAM IRAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran jika tak kunjung membuka Selat Hormuz dalam 48 jam agar bisa kembali dilintasi kapal tanker pengangkut minyak. Ancaman tersebut dia lontarkan di akun Truth Social hari Sabtu, 21 Maret 2026.
MENGANCAM IRAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran jika tak kunjung membuka Selat Hormuz dalam 48 jam agar bisa kembali dilintasi kapal tanker pengangkut minyak. Ancaman tersebut dia lontarkan di akun Truth Social hari Sabtu, 21 Maret 2026. (HO/IST/X/Iran 24)

Secara publik, Iran telah menolak daftar 15 poin syarat gencatan senjata AS yang disampaikan oleh pemerintahan Trump melalui perantara di Pakistan, dan telah membalas dengan lima syaratnya sendiri — termasuk mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz.

AS telah mengirimkan pesan yang bertentangan tentang tahap selanjutnya dari perang tersebut.

Trump telah mendorong pembicaraan gencatan senjata dengan Iran bahkan ketika militer meningkatkan pasukan di wilayah tersebut.

Ia mengatakan, negosiasi tidak menghalangi tindakan militer lebih lanjut.

“Kita berjalan sangat baik dalam negosiasi itu,” kata Trump.

“Tapi Anda tidak pernah tahu dengan Iran, karena kita bernegosiasi dengan mereka, dan kemudian kita selalu harus meledakkan mereka," jelasnya.

Adapun serangan awal Israel pada 28 Februari 2026 menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba.

Perang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, menewaskan ribuan orang, menyebabkan gangguan terbesar yang pernah terjadi pada pasokan energi, dan menghantam ekonomi global.

Baca juga: AS Siapkan Operasi Darat, Ini Target Iran yang Dibidik Trump

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan pembicaraan antara para menteri luar negeri regional pada hari Minggu membahas cara-cara untuk mengakhiri perang secepat mungkin, dan potensi pembicaraan AS-Iran di Islamabad.

“Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang, untuk penyelesaian konflik yang sedang berlangsung secara komprehensif dan langgeng,” katanya. Tidak jelas apakah AS dan Iran telah setuju untuk hadir.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, sebelumnya menuduh AS mengirimkan pesan tentang kemungkinan negosiasi sementara pada saat yang sama merencanakan invasi darat. Teheran siap merespons jika tentara AS dikerahkan, katanya.

“Selama Amerika Serikat menginginkan Iran menyerah, tanggapan kami adalah kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” katanya dalam sebuah pesan kepada bangsa.

Departemen Pertahanan AS telah mengirimkan ribuan pasukan ke Timur Tengah, memberi Trump pilihan untuk melancarkan serangan darat.

Seorang pejabat Israel mengatakan tidak ada niat untuk mengurangi serangan terhadap Iran menjelang kemungkinan pembicaraan antara Washington dan Teheran, dan bahwa Israel akan terus melakukan serangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai target militer.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved