Iran Vs Amerika Memanas
Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan
Donald Trump membalas kritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait kegagalan diplomasi AS dengan Iran.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump membalas kritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait kegagalan diplomasi AS dengan Iran.
- Merz menilai Iran berhasil mempermalukan AS dalam negosiasi yang buntu.
- Ketegangan antara Trump dan Eropa meningkat di tengah konflik Iran dan perbedaan sikap diplomasi.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menanggapi pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menyebut bahwa Iran sedang mempermalukan AS akibat buntunya diplomasi.
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Rabu (29/4/2026), Donald Trump menulis:
"Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa jika Iran memiliki senjata nuklir.
Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!
Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera.
Saya sedang melakukan sesuatu terhadap Iran saat ini yang seharusnya sudah dilakukan oleh negara atau presiden lain sejak lama.
Tidak heran Jerman begitu terpuruk, baik secara ekonomi maupun dalam hal lainnya!
Presiden DONALD J. TRUMP"
Sebelumnya, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa pemerintahan Donald Trump kalah di meja perundingan dari Teheran, mengutip The Guardian.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Iran Tawarkan Kesepakatan Baru - Kanselir Jerman Ejek Pemerintahan Trump
Berbicara kepada mahasiswa di Marsberg, Senin (27/4/2026), Merz menegaskan bahwa pihak Trump justru berada dalam posisi tertekan dalam negosiasi.
“Jelas bahwa Iran sangat pandai dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan Amerika datang ke Islamabad lalu pulang tanpa hasil apa pun,” ujarnya.
“Seluruh bangsa dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusi. Karena itu, saya berharap situasi ini segera berakhir.”
Merz menyinggung keputusan Donald Trump yang membatalkan kunjungan para negosiator AS ke Islamabad untuk pembicaraan tidak langsung dengan delegasi Iran.
Putaran sebelumnya di ibu kota Pakistan dua minggu sebelumnya, saat JD Vance, Wakil Presiden AS, memimpin delegasi, berakhir tanpa kemajuan.
Iran mengajukan proposal baru pada Senin (27/4/2026) untuk kesepakatan gencatan senjata yang berfokus pada pembukaan Selat Hormuz, dengan pembahasan soal nuklir, rudal, sanksi, dan isu lain ditunda, menurut pejabat kawasan.