Iran Vs Amerika Memanas
Unilever Stop Rekrut Karyawan Baru Secara Global, Perang Iran Jadi Biangnya
Unilever menyebutkan bahwa pembekuan rekrutmen ini dilakukan segera setelah mempertimbangkan efek domino dari ketegangan di Iran.
Ringkasan Berita:
- Unilever resmi menghentikan perekrutan karyawan baru (hiring freeze) di semua tingkatan operasional di seluruh dunia selama minimal tiga bulan mulai April 2026.
- Kebijakan ini diambil akibat ketidakpastian geopolitik dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu arus perdagangan serta pasokan energi global.
- Langkah ini merupakan bagian dari program efisiensi sebesar Rp13,7 triliun yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun untuk mengatasi melambatnya volume penjualan pascapandemi.
TRIBUNNEWS.COM – Raksasa produk konsumen global, Unilever, resmi menerapkan kebijakan penghentian perekrutan karyawan baru atau hiring freeze di seluruh tingkat operasionalnya secara global.
Sederhananya, hiring freeze adalah kebijakan sebuah perusahaan untuk menghentikan sementara proses perekrutan karyawan baru.
Jadi, meskipun ada posisi yang kosong atau ada kebutuhan tambahan tenaga kerja, perusahaan tidak akan membuka lowongan atau menerima orang baru dalam jangka waktu tertentu.
Langkah drastis ini sendiri diambil sebagai respons terhadap meluasnya dampak konflik Timur Tengah akibat eskalasi antara Iran dan koalisi Israel-AS yang mulai mengganggu stabilitas ekonomi perusahaan.
Melansir dari Reuters, pengumuman tersebut disampaikan melalui memo internal yang didistribusikan di dalam perusahaan pada Sabtu (28/3/2026).
Kebijakan ini sendiri rencananya akan berlaku setidaknya selama tiga bulan ke depan terhitung dari bulan April.
Unilever menyebutkan bahwa pembekuan rekrutmen ini dilakukan segera setelah mempertimbangkan efek domino dari ketegangan geopolitik yang terjadi.
Dalam memo yang dikirimkan kepada staf akhir pekan lalu, Unilever menyatakan bahwa langkah ini diambil dengan mempertimbangkan "tantangan signifikan" dari perang Iran yang telah berlangsung selama satu bulan.
Gangguan Pasokan Global dan Energi
Di dalam memo internal tersebut, Unilever menyebut dampak konflik Timur Tengah pada perusahaan-perusahaan global mulai dari sektor maskapai penerbangan hingga ritel membuat pihak perusahaan harus mengambil langkah sulit tersebut.
Konflik tersebut dinilai Unilever telah mengacaukan arus perdagangan global dan mengakibatkan gangguan pasokan minyak serta gas terburuk dalam sejarah.
Baca juga: AS Berencana Kuras 400 Kg Uranium dari Iran, Khawatir Teheran Bangun Senjata Nuklir
Lonjakan biaya energi yang cepat ini dinilai Unilever mulai merembat ke pasar lain, sehingga memperlambat produksi di berbagai industri, termasuk bahan kimia dan plastik, yang merupakan spesialisasi perusahaan berbasis di London, Inggris tersebut.
"Realitas makroekonomi dan geopolitik, terutama dalam konflik Timur Tengah... membawa beberapa tantangan signifikan untuk beberapa bulan mendatang," tulis Fabian Garcia, Kepala Bisnis Perawatan Pribadi Unilever, dalam memo tersebut.
"Karena hal ini, tim Eksekutif Kepemimpinan Unilever telah menyetujui pembekuan rekrutmen global di semua tingkatan. Ini akan berlaku segera dan berlangsung setidaknya selama tiga bulan."
Meskipun Unilever memproduksi sebagian besar barangnya di lokasi tempat barang tersebut dijual, mereka tetap bergantung pada pembelian bahan kimia, makanan, kemasan, dan bahan baku lainnya yang membutuhkan intensitas energi tinggi dalam proses pembuatannya.
Kebenaran terkait beredarnya isi memo internal perusahaan tersebut akhirnya juga dikonfirmasi secara resmi oleh pihak manajemen Unilever pada Senin awal pekan ini (30/3/2026).
"Karena lingkungan eksternal yang tidak pasti, kami telah memutuskan untuk memberlakukan penghentian sementara pada rekrutmen kami, perusahaan akan selalu menyesuaikan rencana sesuai kebutuhan." terang pihak Unilever seperti yang dilansir dari Reuters.
Program Efisiensi dan Pengurangan Karyawan
Kebijakan penghentian rekrutmen ini menambah panjang daftar upaya efisiensi yang telah dilakukan Unilever sejak tahun 2024.
Unilever diketahui tengah menjalankan program penghematan biaya yang ditargetkan mencapai sekitar 800 juta euro atau setara Rp13,7 triliun selama tiga tahun ke depan.
Rencana efisiensi tersebut sebelumnya diprediksi akan berdampak pada sekitar 7.500 posisi pekerjaan di seluruh dunia, yang mayoritas berbasis di kantor.
Data menunjukkan bahwa jumlah karyawan Unilever saat ini mencapai 96.000 orang, turun secara signifikan dibandingkan dengan tahun 2020 yang mencapai sekitar 149.000 orang.
Baca juga: Makin Berani Lawan Trump, Spanyol Tutup Wilayah Udaranya bagi Pesawat AS dalam Perang Iran
Unilever juga dilaporkan sedang berjuang untuk meningkatkan volume penjualan di seluruh unit bisnisnya pascapandemi Covid-19.
Sebagai bagian dari perombakan besar di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, Unilever juga sedang dalam pembicaraan untuk menjual bisnis makanannya kepada kompetitor, McCormick & Company.
Dalam skema kombinasi bisnis yang diusulkan tersebut, pemegang saham grup asal Inggris ini kemungkinan besar akan tetap memegang saham mayoritas dalam entitas baru tersebut.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/unilever-gedung-new.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.