Kamis, 14 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Rusia: Moskow Tak Berbagi Data Intelijen dengan Teheran di Tengah Konflik Panas AS-Israel Vs Iran

Rusia menegaskan tidak memberikan intelijen kepada Iran, sembari menyebut Teheran sebagai korban yang berhak membela diri.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Moskow tidak berbagi data intelijen dengan Teheran,” tegas Andrey Rudenko.
  • Rusia menyebut Iran sebagai korban: “Teheran menggunakan haknya untuk membela diri.”
  • Eskalasi konflik meningkat setelah serangan AS-Israel dan balasan drone serta rudal Iran ke berbagai wilayah.

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menegaskan bahwa Moskow tidak membagikan data intelijen kepada Iran.

Terlebih di tengah konflik panas antara Amerika Serikat (AS) - Israel vs Iran yang saat ini masih terus berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri acara di Kolombo, Sri Lanka.

“Moskow tidak berbagi data intelijen dengan Teheran, tidak seperti AS dan Inggris, yang mentransfer informasi tersebut ke Ukraina untuk menyerang infrastruktur sipil Rusia,” kata Rudenko, mengutip Anadolu Agency, Rabu (1/4/2026).

Ia menambahkan bahwa Rusia tidak mengikuti langkah AS dan Inggris yang disebut memberikan dukungan intelijen kepada Ukraina.

Rudenko juga menegaskan posisi Rusia terhadap Iran dalam konflik yang tengah berlangsung.

Baca juga: AS Sebut Akhir Perang di Iran Sudah Dekat, Isyaratkan Potensi Pembicaraan Langsung Tanpa Kesepakatan

“Iran adalah korban dari serangan yang tidak beralasan dan tidak sah,” ujarnya.

“Teheran menggunakan haknya untuk membela diri,” lanjutnya lagi.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan udara oleh AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. 

Berdasarkan laporan kelompok aktivis HAM berbasis di AS, lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah negara lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Serangan tersebut memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.

Iran Ajukan Empat Syarat Perdamaian ke AS dan Israel

Sementara itu Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyampaikan bahwa Teheran memiliki empat tuntutan utama yang harus dipenuhi untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.

Hal tersebut disampaikan dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS.

“Pertama, penghentian akhir dan penyelesaian tindakan teroris dan teroris. Kedua, pemberian jaminan yang obyektif dan kredibel untuk mencegah kekambuhan agresi dan perang. Ketiga, kompensasi penuh untuk kerusakan material dan moral. Keempat, menghormati yurisdiksi hukum Iran di Selat Hormuz untuk melindungi keamanan maritim internasional,” ujar Kazem Jalali.

Ia menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat tercapai apabila seluruh tuntutan tersebut dipenuhi secara menyeluruh.

“Sementara sangat menghargai peran dan upaya mediator, kami percaya bahwa perdamaian hanya bergantung pada ketaatan kewajiban ini,” tegasnya.

Jalali juga menyampaikan bahwa Iran terbuka terhadap upaya diplomatik yang konstruktif untuk menciptakan stabilitas kawasan.

“Republik Islam Iran selalu menyambut setiap upaya konstruktif dan tulus untuk membangun stabilitas dan keamanan di kawasan ini,” katanya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa setiap inisiatif perdamaian harus mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan serta memenuhi tuntutan hukum dan politik Iran.

Baca juga: Awal Mula Keretakan Hubungan NATO dengan AS di Perang Iran, Sikap Eropa Buat Trump Marah

“Setiap inisiatif atau rencana yang diusulkan untuk mencapai perdamaian yang adil dan gencatan senjata yang langgeng membutuhkan mempertimbangkan realitas di lapangan dan pemenuhan kondisi dan tuntutan hukum dan politik ini,” lanjutnya.

Di tengah situasi yang masih memanas, Jalali menegaskan Iran akan tetap menggunakan haknya untuk membela diri.

“Iran akan terus menggunakan hak yang melekat untuk membela diri sampai sumber ancaman sepenuhnya dihilangkan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Iran terus melakukan koordinasi dengan sekutu strategisnya, termasuk Rusia, dalam upaya diplomasi yang berjalan.

“Teheran selalu memasukkan pertukaran pandangan dan koordinasi dengan sekutu strategisnya, termasuk Rusia, dalam agenda diplomatiknya,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved