Iran Vs Amerika Memanas
Timur Tengah Makin Panas, UEA Sebut Iran Tak Bisa Dipercaya Jaga Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah makin panas setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyebut Iran tidak bisa dipercaya untuk menjaga Selat Hormuz.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan pernyataan terkait Selat Hormuz.
- Kementerian Luar Negeri UEA menyebut Iran tidak lagi bisa dipercaya dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.
- Tak hanya itu, menurut UEA, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kini telah menemui jalan buntu alias deadlock.
TRIBUNNEWS.COM - Situasi di Timur Tengah setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyindir Iran.
Kementerian Luar Negeri UEA menyebut Iran tidak lagi bisa dipercaya dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.
Padahal, selat tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia yang sangat vital.
Bahkan, Abu Dhabi menegaskan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kini telah menemui jalan buntu alias deadlock.
"Pengalaman masa lalu dan apa yang terjadi saat ini membuktikan bahwa Iran tidak punya komitmen jujur untuk stabilitas kawasan maupun keamanan jalur pelayaran," tegas Kementerian Luar Negeri UEA dalam pernyataan resminya, Jumat (1/5/2026), sebagaimana diberitakan Reuters.
Perubahan sikap UEA ini terbilang drastis.
Sebagai pusat perdagangan regional, UEA biasanya dikenal lebih kalem dan hati-hati dalam merespons manuver politik Iran.
Namun, serangkaian insiden gangguan kapal di perairan tersebut nampaknya telah menghabiskan kesabaran mereka.
UEA kini justru mendesak adanya campur tangan dunia internasional yang lebih kuat.
Menurut mereka, Selat Hormuz bukan hanya urusan negara tetangga, melainkan kepentingan global yang harus dijaga bersama dari ancaman sabotase.
Baca juga: UEA Larang Warganya ke Iran, Lebanon, dan Irak, Minta yang Masih di Sana Segera Pulang
Harga Minyak Naik Lagi
Harga minyak mentah dunia terpantau meroket tajam seiring belum adanya titik terang kapan perang di Iran akan berakhir.
Blokade di Selat Hormuz dan pelabuhan-pelabuhan utama Iran menjadi pemicu utama tipisnya pasokan minyak dunia.
Berdasarkan data terbaru dari Al Jazeera pada Jumat (1/5/2026), minyak mentah jenis Brent merangkak naik ke level US$ 111,29 per barel.
Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan jika dibandingkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, di mana harga minyak masih anteng di kisaran US$ 65 per barel.
Bahkan, kontrak berjangka Brent sempat menyentuh angka fantastis US$ 126,41 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.