Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Babak Belur! Biaya Perang Melawan Iran Membengkak, Kerugian Militer Capai Miliaran Dolar

AS babak belur! Biaya perang melawan Iran tembus Rp34 triliun per hari, kerugian militer miliaran dolar, Trump ajukan dana jumbo ke Kongres.

Ringkasan Berita:
  • Biaya perang AS melawan Iran disebut mencapai sekitar 2 miliar dolar AS per hari, dengan total kerugian aset militer di kawasan diperkirakan mencapai 1,902 miliar dolar As.
  • Sejumlah aset strategis AS dilaporkan rusak, termasuk radar AN/FPS-132 di Qatar, jet F-15E di Kuwait, serta fasilitas komunikasi dan sistem pertahanan THAAD di Timur Tengah.
  • Trump mengajukan anggaran militer 1,5 triliun dolar AS untuk 2027, namun sektor non-pertahanan seperti pendidikan, perumahan, dan lingkungan terdampak.

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah laporan media Amerika Serikat yang mengutip pengarahan tertutup di Kongres menyebutkan bahwa biaya perang melawan Iran diperkirakan mencapai sekitar 2 miliar dolar AS per hari atau setara Rp 34 triliun.

Angka tersebut menunjukkan besarnya beban ekonomi yang ditanggung Amerika Serikat di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Selain biaya operasional, laporan tersebut juga mengungkap kerugian besar pada sejumlah aset militer strategis AS di kawasan.

Salah satunya adalah sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 yang berada di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Sistem yang memiliki nilai sekitar 1,1 miliar dolar AS itu dilaporkan terkena serangan rudal Iran dan mengalami kerusakan, yang kemudian dikonfirmasi oleh otoritas Qatar.

Kerugian lainnya terjadi pada tiga jet tempur F-15E Strike Eagle yang dilaporkan hancur akibat insiden tembakan salah sasaran oleh sistem pertahanan udara di Kuwait. 

Meski seluruh awak pesawat berhasil selamat, kerugian material dari insiden tersebut diperkirakan mencapai 282 juta dolar AS.

Di wilayah Bahrain, Iran juga disebut menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama. Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta beberapa bangunan besar.

Berdasarkan analisis sumber terbuka, salah satu terminal SATCOM yang terdampak diidentifikasi sebagai AN/GSC-52B dengan nilai sekitar 20 juta dolar AS.

Selain itu, Iran juga mengklaim telah menghancurkan komponen radar AN/TPY-2 dari sistem pertahanan rudal THAAD yang ditempatkan di Al-Ruwais, Uni Emirat Arab.

Citra satelit yang dianalisis menunjukkan adanya indikasi kerusakan di lokasi tersebut, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS.

Jika seluruh estimasi kerugian digabungkan, total aset militer Amerika Serikat yang terdampak disebut mencapai sekitar 1,902 miliar dolar AS.

AS Perkuat Militer di Timur Tengah

Meski mengalami pembengkakan kerugian, Amerika Serikat tetap mempertahankan opsi militer dalam penanganan konflik yang berkembang di Timur Tengah.

Baca juga: Iran Ubah Peta Selat Hormuz, AS dan Israel Dihapus dari Jalur Strategis Dunia

Pemerintahan Donald Trump dilaporkan memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan sekitar 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan tersebut.

Gedung Putih menegaskan bahwa operasi militer bertajuk “Operation Epic Fury” masih terus berjalan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Operasi ini disebut menjadi bagian dari strategi militer AS dalam merespons eskalasi yang terjadi di kawasan, meskipun komunikasi diplomatik tetap dibuka dengan sejumlah pihak terkait.

Selain itu, kehadiran pasukan Marinir Amerika Serikat di wilayah tersebut juga membuka kemungkinan dilakukannya operasi darat jika diperlukan.

Pemerintah AS menegaskan bahwa seluruh opsi militer masih berada dalam pertimbangan sebagai bagian dari strategi pertahanan dan respons cepat terhadap perkembangan situasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat belum mengurangi tekanan militernya di kawasan, sehingga situasi di Timur Tengah masih berada dalam kondisi tegang dan dinamis.

Trump Ajukan Dana Jumbo Militer ke Kongres

Mengutip dari Straits Times, demi menggenjot anggaran perang Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan permintaan anggaran pertahanan besar-besaran kepada Kongres dalam proposal yang diajukan pada 3 April.

Dalam usulan tersebut, Trump meminta persetujuan dana sebesar 1,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp 25.470 triliun untuk tahun fiskal 2027.

Berdasarkan rancangan anggaran yang dirilis Gedung Putih, tambahan dana tersebut akan meningkatkan total pagu anggaran pertahanan Amerika Serikat hingga sekitar 44 persen.

Jika disetujui oleh Kongres, kebijakan ini akan menjadi salah satu investasi militer terbesar dalam sejarah AS, bahkan disebut sebagai yang tertinggi sejak era Perang Dunia II.

Namun dibalik rencana peningkatan anggaran militer tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga menghadapi konsekuensi fiskal yang besar.

Untuk menutup lonjakan kebutuhan pembiayaan pertahanan, pemerintahan Trump mengusulkan pemotongan anggaran sekitar 73 miliar dolar AS dari sektor non-pertahanan.

Pemangkasan ini diperkirakan berdampak pada berbagai program domestik, termasuk sektor lingkungan, bantuan perumahan, hingga pendanaan pendidikan yang selama ini menjadi bagian dari layanan publik.

Dengan kebijakan tersebut, sebagian dana yang sebelumnya dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat akan dialihkan untuk memperkuat kebutuhan militer di tengah meningkatnya ketegangan global.

Gedung Putih menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menekan pengeluaran yang dinilai tidak efisien, sekaligus mendorong pembagian beban anggaran kepada pemerintah negara bagian dan daerah agar beban keuangan federal dapat lebih terkendali.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved