Iran Vs Amerika Memanas
Donald Trump Ditantang Berani Hentikan Perang dan Keluar dari 'Jebakan' Israel
Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik menilai serangan militer Israel ke wilayah Lebanon Selatan merupakan tindakan sabotase serius.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik menilai serangan militer Israel ke wilayah Lebanon Selatan merupakan tindakan sabotase serius untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Mahfuz, tindakan tersebut membuktikan bahwa Israel menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kekacauan keamanan di Teluk Persia serta dampak global yang ditimbulkannya.
"Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang menolak kompromi dan akan melanjutkan perang adalah bukti bahwa Israel lah yang menginginkan dan paling berkepentingan dengan perang ini," kata Mahfuz dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Kekhawatiran akan sabotase ini mencuat tepat di hari saat Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran.
Namun, di saat yang sama, militer Israel justru memborbardir Lebanon Selatan, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran ke wilayah Israel pada Rabu (8/4/2026).
Oleh karena itu, Mahfuz mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menjaga komitmen gencatan senjata yang telah disambut positif oleh masyarakat dunia.
Ketua Komisi I DPR RI periode 2010-2017 ini meminta Trump beralih dari posisi sebagai "alat pukul" kepentingan Israel.
"Sebagaimana pernah diucapkan Trump bahwa Amerika tidak punya kepentingan terhadap dinamika di kawasan Teluk Persia, maka langkah penghentian perang oleh Amerika Serikat akan menjadi keputusan positif yang disambut dunia," ujarnya.
Mencermati perubahan peta kekuatan akibat perang, Mahfuz mengusulkan agar pemimpin negara di kawasan Timur Tengah (Middle East), Asia Barat (West Asia), dan Afrika Utara (North Africa) segera melakukan dialog komprehensif.
Ia menyarankan pembentukan format kerja sama baru yang mandiri guna mewujudkan stabilitas keamanan, politik, serta pengamanan jalur pelayaran dan perdagangan dunia.
Mahfuz menilai penting bagi negara-negara di kawasan tersebut untuk mendefinisikan ulang siapa ancaman terbesar dan musuh bersama mereka.
"Iran tidak lagi relevan diposisikan sebagai ancaman. Pelajaran dari perang ini adalah Iran dengan kekuatan dan posisi strategisnya justru harus menjadi mitra utama, menggantikan Amerika Serikat dan Israel," ungkapnya.
Ia meyakini format kerja sama negara muslim dalam blok "MEWANA" akan mampu menjadi penyeimbang baru bagi ambisi dominasi Israel di kawasan tersebut.
Mahfuz menegaskan bahwa stabilitas dunia dan keamanan kawasan Teluk Persia saat ini sangat bergantung pada keputusan Presiden Trump.
Dia menilai Trump berada di persimpangan jalan: apakah akan kembali mendukung Israel untuk melanjutkan perang, atau mengambil inisiatif penghentian perang dengan keluar dari tekanan serta jebakan politik Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mahfuz-sidik-di-kantor-tribun.jpg)