Iran Vs Amerika Memanas
Militer AS Siap Blokade Pelabuhan Iran, Analis Nilai Bakal Perburuk Krisis Energi Global
Para analis menilai blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan memperburuk krisis energi yang mengguncang perekonomian global.
Ringkasan Berita:
- Para analis menilai blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan memperburuk krisis energi yang mengguncang perekonomian global.
- Blokade AS disebut akan memiliki dampak berantai di seluruh ekonomi global.
- Blokade yang bertujuan untuk merampas pendapatan Iran akan menandai perubahan kebijakan yang tiba-tiba oleh AS.
TRIBUNNEWS.COM - Analis memperingatkan rencana blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump, akan semakin melumpuhkan pelayaran internasional.
Para analis juga menilai blokade AS itu akan memperburuk krisis energi yang mengguncang perekonomian global.
Harga minyak melonjak di atas $100 per barel pada Senin (13/4/2026) setelah Trump mengumumkan Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz dan "mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar tol kepada Iran".
Komando Pusat, komando militer AS yang bertanggung jawab atas operasi di Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan blokade tersebut hanya akan memengaruhi kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Hal ini menjadi sebuah langkah yang tampaknya mengurangi ancaman Trump untuk sepenuhnya memblokir Selat Hormuz.
Trita Parsi, salah satu pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft yang berbasis di AS, mengatakan blokade AS akan memiliki dampak berantai di seluruh ekonomi global.
“Apa pun yang saat ini mengurangi pasokan minyak di pasar akan mendorong harga naik, yang pada gilirannya akan mendorong harga gas lebih tinggi lagi,” kata Parsi kepada Al Jazeera, Senin (13/4/2026).
Menurut Parsi, harga minyak bisa naik di atas $150 per barel jika blokade tersebut memicu pembalasan dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman, yang dapat menutup Bab al-Mandeb, selat yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Selat ini merupakan jalur ekspor alternatif untuk minyak dan gas dari Teluk Persia.
Blokade yang bertujuan untuk merampas pendapatan Iran akan menandai perubahan kebijakan yang tiba-tiba oleh AS.
Bulan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan akan mencabut beberapa sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebagai upaya untuk membantu meringankan krisis energi global.
Baca juga: AS Blokade Pelabuhan, Militer Iran Sebut Ilegal dan Contoh Pembajakan, Singgung Kendali Selat Hormuz
Iran pada dasarnya telah menutup selat tersebut sejak dimulainya perang AS-Israel pada 28 Februari 2026, hanya mengizinkan sejumlah kecil kapal untuk melintas setelah melalui proses verifikasi dan otorisasi.
Anas Alhajji, mantan kepala ekonom di NGP Energy Capital Management, mengatakan kapal-kapal non-Iran yang diperkirakan akan melewati selat tersebut kemungkinan akan terus menghindari selat itu meskipun ada jaminan dari militer AS, mereka tidak akan dihalangi karena premi asuransi yang tinggi.
Menurut Alhajji, kapal-kapal mungkin juga khawatir akan pembalasan dari Iran.
“Oleh karena itu, blokade Trump terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebenarnya adalah blokade terhadap Selat Hormuz,” kata Alhajji kepada Al Jazeera.
Lalu, Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation di Singapura, mengatakan situasi bagi rantai pasokan global bisa menjadi "jauh lebih buruk" di bawah blokade tersebut.
“Beberapa masalahnya jelas terlihat, tetapi banyak yang tidak. Sebagai contoh, kain akan menjadi lebih mahal,” kata Elms kepada Al Jazeera.
Blokade Pelabuhan Iran
Komando Pusat AS mengatakan blokade AS, yang dimulai pukul 10 pagi ET pada hari Senin (1400 GMT), akan "diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman."
Militer AS mengatakan, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran tidak akan terhambat.
"Informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum dimulainya blokade," katanya, Senin, dikutip dari Al Arabiya.
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin melalui platform Truth Social miliknya mengonfirmasi pernyataan militer AS tersebut.
Trump mengatakan, pasukan AS juga akan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Iran.
“Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” ungkap Trump di media sosial, Minggu (12/4/2026).
“Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan dihancurkan," tegasnya.
Baca juga: Disebut Lemah oleh Trump Gara-gara Komentar Soal Iran, Paus Leo: Saya akan Terus Bersuara
Dia menambahkan, Angkatan Laut AS akan mulai menghancurkan ranjau yang dijatuhkan Iran di Selat Hormuz, titik rawan bagi sekitar 20 persen pasokan energi global.
Meskipun data pengiriman menunjukkan tiga kapal tanker super yang penuh muatan minyak melewati Selat pada hari Sabtu, kapal tanker menghindari jalur air tersebut pada hari Senin, menjelang blokade AS.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan melonjak lebih dari 7 persen hingga mencapai lebih dari $100 per barel dalam perdagangan Senin pagi di Asia, sementara dolar melonjak dan harga saham berjangka AS turun setelah pengumuman blokade tersebut.
“Trump menginginkan solusi cepat,” kata Dana Stroul, mantan pejabat senior Pentagon selama pemerintahan Biden yang sekarang bekerja di The Washington Institute for Near East Policy.
“Kenyataannya, misi ini sulit dilaksanakan sendirian dan kemungkinan besar tidak berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang," jelasnya.
Tanggapan Iran
Militer Iran mengatakan blokade angkatan laut AS yang akan dimulai pada Senin, akan ilegal dan sama dengan pembajakan.
Iran memperingatkan tidak ada pelabuhan Teluk yang akan aman jika pelabuhan mereka sendiri terancam.
“Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika yang kriminal terhadap navigasi dan transit maritim di perairan internasional adalah ilegal dan merupakan contoh pembajakan,” kata sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, yang dibacakan di televisi pemerintah, Senin, dilansir Al Arabiya.
Baca juga: Usai Buntu dengan AS, Presiden Iran Telepon Putin, Arah Diplomasi Mulai Bergeser
Iran akan secara tegas menerapkan “mekanisme permanen” untuk mengendalikan Selat Hormuz menyusul ancaman AS untuk memblokadenya.
“Jika keamanan pelabuhan Republik Islam Iran di perairan Teluk (Arab) dan Laut Arab terancam, tidak ada pelabuhan di Teluk (Arab) dan Laut Arab yang akan aman,” tambahnya.
Adapun perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir pada Minggu (12/4/2026) tanpa kesepakatan, menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi ketika gencatan senjata dua minggu akan berakhir pada 22 April 2026.
Saat perundingan berakhir di ibu kota Pakistan, Islamabad, kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
Tidak ada kabar apakah negosiasi akan dilanjutkan, dan Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.
Para negosiator kini akan kembali ke ibu kota masing-masing dan mempertimbangkan kembali langkah selanjutnya.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.