Eks Menlu Keluhkan Hubungan India-AS, Singgung Sanksi Gara-gara Beli Minyak Rusia
Shyam Saran sebut hubungan India–AS seperti “pendulum terbalik”, tegang di atas tapi kerja sama teknis tetap stabil
Ringkasan Berita:
- Shyam Saran menyebut hubungan India–AS kini mengalami “pendulum terbalik” akibat ketegangan politik dan ekonomi
- Ia menyoroti tarif hukuman AS atas keputusan India membeli minyak dari Rusia, meski kini mulai menurun
- Di sisi lain, kerja sama teknis seperti pertahanan dan teknologi tetap stabil dan kuat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Menteri Luar Negeri India periode 2004-2006, Shyam Saran, menyebut hubungan bilateral antara India dan Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam kondisi anomali yang ia istilahkan sebagai pendulum terbalik.
Saran menyoroti adanya tekanan ekonomi berupa tarif hukuman yang sempat dijatuhkan pihak AS sebagai respons atas langkah India membeli minyak dari Rusia.
"Dalam dalam satu sisi terkait hubungan bilateral, saya dapat mengatakan bahwa ini seperti pendulum terbalik. Bahwa ada osilasi yang lebih besar terjadi di bagian atas, jauh lebih sedikit di bagian bawah," ujar Shyam Saran dalam diskusi FPCI bersama sejumlah diplomat dunia di Hotel St Regist, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menurut Saran, meskipun terjadi ketegangan dan ketidakpastian di pucuk kepemimpinan tertinggi, kerja sama fungsional di level teknis justru tetap stabil.
Ia menjelaskan bahwa gejolak politik di puncak tidak selalu mencerminkan kondisi kerja sama di lapangan yang masih berjalan cukup baik.
Saran menyinggung masa-masa sulit saat India harus menghadapi tekanan tarif yang sangat tinggi akibat dinamika geopolitik tersebut.
Baca juga: Demi Keadilan, Ibu di India Jadi Detektif Usut Anak Tewas Ditabrak Truk
Ia mencatat bahwa pengenaan tarif tersebut merupakan bentuk hukuman atas keputusan strategis India terkait impor energi.
"Di sana juga, dari periode di mana kita harus menghadapi Anda tahu tarif 50 persen, 25% yang sebenarnya merupakan tarif hukuman karena membeli minyak dari Rusia," ungkapnya.
Namun, ia menambahkan bahwa beban tarif hukuman tersebut kini telah mengalami penurunan signifikan.
Hal ini menyusul adanya ketetapan hukum Mahkamah Agung AS yang membuat skema tarif menjadi lebih merata bagi berbagai pihak.
"Itu sekarang telah turun menjadi 10% yang sekarang berlaku untuk semua orang karena keputusan Mahkamah Agung, dan ini akan berlanjut selama 150 hari lagi sejak saat itu," tambahnya.
Meski hubungan politik sedang mengalami tekanan, Saran menegaskan bahwa sektor-sektor krusial seperti pertahanan dan teknologi tetap menjadi jangkar utama kedua negara.
Ia menilai pilar-pilar kerja sama ini masih sangat kokoh dan tidak terganggu oleh kebisingan politik di tingkat atas.
"Dalam artian banyak kerja sama fungsional yang kita miliki dengan Amerika Serikat, baik itu di dalam Anda tahu pertahanan, dalam teknologi, dalam hal penanggulangan terorisme misalnya, semua itu utuh saat ini," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/menluindia122222.jpg)