Kamis, 16 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perusahaan LNG AS Raup Cuan Besar Saat Perang Iran

Imbas dari perang, dengan modal 3 dolar AS per MMBtu, perusahaan Gas Amerika Serikat bisa jual 20 dolar AS per MMBtu di Asia dan Eropa.

Editor: Willem Jonata
Sana
PERANG IRAN. Foto dari SANA menunjukkan Fasilitas gas Habshan di Abu Dhabi. Serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran kembali menghantam fasilitas energi strategis di kawasan Teluk.Target serangan mencakup fasilitas gas di Uni Emirat Arab (UEA) dan kilang minyak di Kuwait pada Jumat (3/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz secara tidak langsung telah mengukuhkan posisi AS sebagai pemasok gas utama dunia
  • Lumpuhnya produksi LNG dari QatarEnergy milik Qatar yang memasok seperlima kebutuhan dunia juga ikut andil dalam situasi tersebut
  • Meski perusahaan LNG AS saat ini menikmati "durian runtuh", para analis memperingatkan adanya risiko besar jika harga gas tetap tinggi dalam waktu lama

 

TRIBUNNEWS.COM - Krisis energi global akibat eskalasi perang di Timur Tengah, rupanya membawa angin segar bagi industri gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) Amerika Serikat.

Blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz secara tidak langsung telah mengukuhkan posisi AS sebagai pemasok gas utama dunia di tengah kelangkaan pasokan global.

Kondisi ini diperparah dengan lumpuhnya produksi dari QatarEnergy, raksasa gas milik negara Qatar yang memasok seperlima kebutuhan dunia.

Fasilitas LNG mereka mengalami kerusakan serius akibat serangan udara di awal perang dan diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk perbaikan, bahkan bertahun-tahun untuk kembali ke kapasitas penuh.

Baca juga: Iran Serang 9 Negara dalam Semalam, Fasilitas LNG Qatar hancur, Krisis Energi Global di Ambang Mata

Alih-alih pesimis melihat dampak perang Irak-AS dan Israel terhadap industri energi global, dalam acara tahunan CERAWeek di Houston baru-baru ini, pemimpin perusahaan LNG di AS justru menunjukkan wajah penuh optimisme. 

Mereka pesta minum di tengah iringan musik jazz, merayakan lonjakan keuntungan yang luar biasa.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa investasi besar akan terus digelontorkan untuk meningkatkan ekspor gas.

Saat ini, perusahaan gas AS membeli bahan baku sekitar 3 dolar AS per MMBtu, namun karena kelangkaan akibat perang, mereka mampu menjualnya hingga 20 dolar AS per MMBtu ke pasar Asia dan Eropa.

"Selisih harga ini memberikan suntikan uang tunai yang sangat besar bagi perusahaan-perusahaan ini," ujar Ira Joseph, pakar gas internasional dari Universitas Columbia, seperti diberitakan NPR. 

Hal ini terlihat dari meroketnya saham perusahaan seperti Cheniere Energy sebesar 10 persen dan Venture Global yang melonjak hingga 30 persen sejak perang pecah.

Meski perusahaan LNG AS saat ini menikmati "durian runtuh", para analis memperingatkan adanya risiko besar jika harga gas tetap tinggi dalam waktu lama. 

Fenomena yang disebut sebagai "penghancuran permintaan" atau demand destruction mulai membayangi industri ini.

Mark Abbotsford, Chief Commercial Officer di Woodside Energy, memperingatkan bahwa jika harga gas terlalu mahal, konsumen akan berhenti membelinya dan beralih ke sumber energi lain yang lebih murah.

"Kenyataannya adalah, jika harga tetap pada level saat ini, kita akan melihat ekonomi negara berkembang beralih kembali ke batu bara," kata Abbotsford.

Tanda-tanda perlawanan konsumen mulai terlihat di Asia Tenggara. Negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand dilaporkan mulai meningkatkan penggunaan batu bara karena tidak sanggup membayar harga gas yang selangit.

Namun, ancaman yang lebih nyata bagi masa depan LNG adalah pesatnya pertumbuhan energi terbarukan.

Pakistan, misalnya, telah mulai mengurangi impor LNG karena mereka beralih secara masif ke penggunaan panel surya dan baterai.

Para ahli memprediksi langkah Pakistan ini akan segera diikuti oleh negara-negara lain seperti Bangladesh, yang lebih memilih berinvestasi pada energi bersih daripada bergantung pada gas alam yang harganya tidak stabil akibat perang.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved