Iran Vs Amerika Memanas
Kecam Penyitaan Kapal, Presiden Iran Minta AS Bertindak Lebih Rasional
Iran juga memberikan peringatan keras terhadap Amerika Serikat maupun Israel jika kembali melakukan tindakan provokatif di wilayah tersebut.
Ringkasan Berita:
- Militer AS (CENTCOM) menyita kapal berbendera Iran, Touska, di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026) karena dituduh melanggar blokade laut menuju pelabuhan Iran
- Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyerukan pendekatan rasional dan jalur diplomasi untuk meredam ketegangan, namun tetap memperingatkan perlunya kewaspadaan penuh terhadap manuver AS
- Insiden ini terjadi saat masa gencatan senjata mediasi Pakistan akan berakhir pada Rabu (22/4/2026), di tengah kebuntuan negosiasi sebelumnya di Islamabad
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali memanas setelah pihak Amerika Serikat melakukan penyitaan terhadap sebuah kapal berbendera Iran di Teluk Oman.
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan pendekatan yang lebih rasional dan memperingatkan bahwa peperangan tidak akan menguntungkan pihak mana pun.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor berita resmi Iran, IRNA pada Senin (20/4/2026), Presiden Pezeshkian menegaskan pentingnya menggunakan saluran diplomatik untuk meredam situasi yang kian genting,.
"Setiap jalur rasional dan diplomatik harus digunakan untuk mengurangi ketegangan," ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip dari IRNA.
Namun, ia juga mengingatkan agar seluruh pihak di Iran tidak lengah dalam menghadapi manuver negara Barat.
Sembari menurunkan tensi yang ada, Pezeshkian tetap menunjukkan ketegasan terhadap segala bentuk ancaman yang dilakukan pihak AS dan aliansinya yang masih berulah di masa negosiasi.
"Pada saat yang sama, ketidakpercayaan terhadap musuh dan kewaspadaan dalam interaksi adalah kebutuhan yang tidak dapat disangkal," tambahnya.
Tolak Ultimatum Amerika Serikat
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa hingga saat ini Teheran belum memiliki rencana untuk melakukan pembicaraan lanjutan dengan pihak AS.
Melalui pernyataan resmi di kantor berita Tasnim, Baqaei menegaskan kedaulatan negaranya tidak bisa didikte oleh tekanan luar.
"Republik Islam Iran tidak menerima tenggat waktu atau ultimatum apa pun dalam mengejar kepentingan nasionalnya," tegas Baqaei.
Ia juga memberikan peringatan keras terhadap Amerika Serikat maupun Israel jika kembali melakukan tindakan provokatif di wilayah tersebut.
"Perlindungan kepentingan nasional akan berlanjut selama diperlukan, dan jika terjadi petualangan baru oleh Amerika Serikat atau rezim Israel, angkatan bersenjata akan membalas dengan kekuatan penuh dan kekuatan yang menentukan," pungkasnya.
Nasib Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Ketegangan ini terjadi justru saat masa gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan akan segera berakhir pada Rabu 22 April 2026 mendatang.
Sebelumnya, Iran dan AS sempat mengadakan negosiasi putaran pertama di Islamabad pada 12 April lalu, namun berakhir tanpa kesepakatan.