Bukan Sekadar Filosofi, Ikigai Jepang Terbukti Turunkan Risiko Kematian
Ikigai terbukti turunkan risiko kematian dan tingkatkan kinerja kerja. Rahasianya ada pada makna hidup dan tujuan yang selaras
Ringkasan Berita:
- Konsep Ikigai terbukti memberi dampak positif bagi kesehatan dan kinerja kerja, dengan risiko kematian lebih rendah serta engagement lebih tinggi
- Praktik di perusahaan menunjukkan bahwa makna kerja, bukan sekadar work-life balance, mendorong produktivitas dan kepuasan
- Ikigai dapat ditemukan melalui makna pribadi, relasi, dan keselarasan tujuan individu dengan organisasi
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Ikigai Jepang ternyata memiliki efek positif bahkan telah diteliti oleh berbagai ahli di Jepang memang benar.
Ikigai (生き甲斐) adalah konsep dari Jepang yang berarti “alasan untuk hidup” atau “hal yang membuat hidup terasa bermakna.”
"Dalam sebuah studi epidemiologi berskala besar yang dilakukan di Jepang (2008), ditemukan bahwa orang yang menjawab memiliki ikigai cenderung memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memilikinya," ungkap Toshiya Kondo, CEO Link and Motivation Singapore Pte. Ltd di Jepang baru-baru ini.
Selain itu, penelitian psikologi organisasi di luar negeri (2017) juga melaporkan bahwa orang yang menemukan makna dan tujuan dalam pekerjaan (≒ memiliki ikigai) cenderung memiliki tingkat keterlibatan (engagement) yang lebih tinggi serta tingkat keluar kerja (turnover) yang lebih rendah.
"Di perusahaan di Singapura yang kami dukung, perubahan serupa juga mulai terlihat."
Sebuah perusahaan sebelumnya menekankan work-life balance dengan memisahkan secara jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Baca juga: Modus Tilang Sepeda di Jepang, Lansia Tertipu Polisi Gadungan dan Serahkan Uang Rp5 Juta
Namun, pendekatan ini justru menyebabkan keterlambatan dalam merespons permintaan pelanggan, karena karyawan cenderung menunda hal yang tidak langsung menguntungkan diri mereka.
Sebagai solusi, perusahaan tersebut tidak hanya meningkatkan fleksibilitas kerja, tetapi juga menciptakan ruang dialog untuk membahas pertanyaan seperti “mengapa kita melakukan pekerjaan ini?” dan “nilai apa yang saya ciptakan dalam organisasi?”
Hasilnya, setiap individu mulai mengaitkan pekerjaan mereka dengan tujuan perusahaan (purpose) dan merasakan kebahagiaan dalam mewujudkannya dengan berbagai cara.
Perubahan ini menunjukkan bahwa motivasi tidak hanya berasal dari pemisahan antara kerja dan kehidupan, tetapi dari titik di mana keduanya saling bertemu.
"Inilah esensi dari pengelolaan organisasi berbasis ikigai, yang mampu memperluas potensi bisnis," katanya.
Tiga Langkah Menemukan Kembali Ikigai
Lalu, bagaimana kita menemukan ikigai dalam pekerjaan? Dari berbagai praktik global, ada tiga poin utama:
(1) Memberi Makna Pribadi pada Pekerjaan
Ikigai tidak datang begitu saja. Ia muncul dari usaha untuk menemukan makna dalam pekerjaan.
Misalnya:
Apa yang ingin saya capai di perusahaan ini?
Nilai apa yang ingin saya ciptakan melalui proyek ini?
Ketika kita mampu menafsirkan tujuan kerja dengan cara kita sendiri, pekerjaan berubah dari sekadar kewajiban menjadi tantangan pribadi.
Baca juga: Bahasa Oyaji, Orang Dewasa Pekerja Jepang Malahan Jadi Populer Kini
(2) Memperluas Makna melalui Hubungan dengan Orang Lain
Makna kerja tidak akan bertahan lama jika hanya berpusat pada diri sendiri.
Makna menjadi lebih kuat ketika:
Melihat rekan atau bawahan berkembang
Membantu menyelesaikan masalah pelanggan
Menyadari bahwa pekerjaan kita memberi manfaat bagi orang lain
Relasi inilah yang memperdalam ikigai.
(3) Menyatukan Tujuan Pribadi dan Tujuan Organisasi
Ikigai paling kuat muncul saat motivasi pribadi selaras dengan tujuan organisasi.
Ketika apa yang kita ingin lakukan sejalan dengan arah perusahaan:
pekerjaan menjadi bagian dari hidup, bukan sekadar tugas
kita merasa terlibat dalam tujuan besar bersama tim
hasil kerja memberi dampak nyata bagi masyarakat
Inilah kondisi di mana pekerjaan menjadi sumber kepuasan hidup.
Saatnya Perusahaan Jepang Kembali ke Akar
Di tengah persaingan global, terutama dalam perekrutan di Asia Tenggara, perusahaan Jepang menghadapi tantangan besar.
"Bukan hanya soal gaji—tetapi apakah perusahaan mampu menunjukkan makna bekerja di sana."
Konsep ikigai, yang berasal dari budaya Jepang, kini justru kembali mendapat perhatian dunia. Nilai di mana pertumbuhan individu dan tujuan organisasi berjalan searah menjadi kekuatan penting di era modern.
Kembali pada ikigai bukan hanya menghidupkan semangat karyawan, tetapi juga bisa menjadi keunggulan budaya dalam menghadapi persaingan global ke depan.
"Dengan demikian, Ikigai bukan sekadar filosofi, tetapi sumber energi yang membuat pekerjaan dan hidup terasa bermakna." paparnya lagi.
Ada sepuluh rules Ikigai sebagai berikut:
1. Tetap aktif dan jangan pensiun.
2. Tinggalkan rasa terburu-buru dan jalani hidup dengan tempo yang lebih santai.
3. Makan hanya sampai 80 persen kenyang.
4. Kelilingi diri Anda dengan teman-teman yang baik.
5. Jaga kebugaran dengan olahraga ringan setiap hari.
6. Lebih sering tersenyum dan hargai orang-orang di sekitar Anda.
7. Kembali terhubung dengan alam.
8. Bersyukur atas segala hal yang mencerahkan hari Anda dan membuat Anda merasa hidup.
9. Hidup di saat ini (nikmati setiap momen).
10. Ikuti passion Anda.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kehidupanmanusia1111111.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.