Jumat, 24 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Bantah Klaim Trump, Presiden Masoud Pezeshkian Tegaskan Tak Ada Konflik Internal di Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah klaim Presiden AS Donald Trump tentang perpecahan internal di Iran.

Penulis: Nuryanti
Editor: Bobby Wiratama

Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang perpecahan internal di Iran.

Permusuhan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan dan melukai ribuan orang.

Teheran melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara regional yang menampung aset militer AS serta membatasi jalur melalui Selat Hormuz.

Masoud Pezeshkian menekankan bahwa terdapat “persatuan yang kokoh seperti baja antara rakyat dan negara.”

“Tidak ada kelompok garis keras atau moderat di Iran. Kita semua adalah warga Iran dan revolusioner,” kata Pezeshkian, Kamis (23/4/2026), sebagaimana diberitakan Anadolu Agency.

Presiden Iran pun bersumpah bahwa Teheran akan membuat "pihak agresor menyesali perbuatannya."

“Satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, dan satu jalan, jalan kemenangan Iran tercinta," tegas dia.

Klaim Trump

Trump mengklaim dalam sebuah unggahan di Truth Social bahwa Teheran sedang mengalami konflik internal yang hebat antara kelompok garis keras, yang menurutnya "kalah telak di medan perang," dan kelompok moderat, yang "tidak terlalu moderat" tetapi "mendapatkan rasa hormat."

"Iran sedang mengalami kesulitan besar dalam menentukan siapa pemimpin mereka," klaimnya, Kamis.

Trump menegaskan, Washington mempertahankan "kendali penuh" atas Selat Hormuz, dan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintasinya tanpa persetujuan Angkatan Laut AS.

Dia menggambarkan selat itu sebagai "tertutup rapat" sampai Iran "mampu membuat kesepakatan."

Baca juga: Blokade Pelabuhan Iran Masih Berlangsung, Pasukan AS Perintahkan 33 Kapal Balik Arah

Diberitakan AP News, Trump telah berulang kali mengatakan selama gencatan senjata yang dimulai pada 8 April bahwa timnya sedang bernegosiasi dengan para pejabat Iran yang ingin mencapai kesepakatan, sambil mengakui bahwa keputusannya untuk membunuh beberapa pemimpin puncak telah menimbulkan komplikasi.

Di sisi lain, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan klaim Trump tentang keretakan kepemimpinan adalah sebuah "pengalihan perhatian."

Pejabat Iran lainnya mengatakan di media sosial bahwa negara itu bersatu.

Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menolak pertanyaan tentang konflik yang melampaui jangka waktu empat hingga enam minggu yang sebelumnya telah ia dan para pembantunya tetapkan untuk perang tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved