Minggu, 26 April 2026

5 Populer Internasional: Menlu Iran Datang ke Islamabad - Persenjataan AS Kian Menipis

Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Menlu Iran Abbas Araghchi tiba di Islamabad tetapi menolak bertemu langsung dengan Amerika.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
  • Menlu Iran Abbas Araghchi tiba di Islamabad tetapi menolak bertemu langsung dengan Amerika Serikat
  • Iran memilih jalur diplomasi tidak langsung melalui Pakistan sebagai mediator. 
  • Amerika Serikat menghadapi krisis amunisi setelah perang 38 hari melawan Iran
  • Biaya perang mencapai triliunan rupiah per hari dan menguras anggaran militer. 
  • Sementara itu, IRGC menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz karena dugaan keterkaitan dengan Israel.

TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.

Menlu Iran Abbas Araghchi tiba di Islamabad namun menolak bertemu langsung dengan AS. 

Iran memilih jalur diplomasi tidak langsung melalui Pakistan untuk menyampaikan sikapnya.

Sementara itu, perang melawan Iran selama 38 hari, sebelum gencatan senjata, membuat militer AS menghadapi krisis amunisi.

Simak berita selengkapnya.

1. Menlu Iran Datang ke Islamabad, Tapi Enggan Duduk Satu Meja dengan AS

Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Islamabad, Pakistan PADA Jumat (24/4/2026)

Kunjungan ini sempat memicu spekulasi terkait kemungkinan perundingan langsung dengan delegasi Amerika Serikat (AS). Namun, Teheran dengan tegas membantah adanya agenda tersebut.

Mengutip dari Deutsche Welle,Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak ada rencana pertemuan langsung antara Iran dan AS selama kunjungan berlangsung.

Ia menyebut bahwa Araghchi hanya akan melakukan pembicaraan dengan pejabat tinggi Pakistan dalam rangka memperkuat jalur diplomasi tidak langsung.

Menurut Baghaei, pertemuan ini merupakan bagian dari upaya mediasi yang sedang dilakukan Pakistan guna meredakan konflik yang disebut Iran sebagai “perang agresi yang dipaksakan Amerika”.

Ia juga menekankan bahwa Iran akan menyampaikan pandangan dan posisinya kepada pihak Pakistan sebagai mediator, bukan kepada AS secara langsung.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, mengonfirmasi kedatangan delegasi Iran dan menyatakan bahwa pembicaraan bilateral akan difokuskan pada upaya menciptakan perdamaian serta stabilitas kawasan. 

Pakistan sendiri saat ini memainkan peran penting sebagai penengah dalam konflik yang semakin memanas.

Status Negosiasi Masih Tidak Jelas

Di sisi lain, situasi perundingan antara Iran dan AS masih diliputi ketidakpastian. Kedua negara menunjukkan sikap yang saling bertentangan terkait peluang tercapainya kesepakatan damai.

Putaran pertama negosiasi yang digelar di Islamabad, Pakistan, dua pekan lalu pun belum membuahkan hasil.

Pertemuan yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, berlangsung selama 21 jam, namun berakhir tanpa kesepakatan konkret. Kebuntuan tersebut memperlihatkan masih lebarnya perbedaan kepentingan antara kedua pihak.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. AS Jatuhkan Sanksi pada Kilang Minyak Kecil China, Buntut Beli Minyak Iran Senilai Miliaran Dolar

Pemerintahan Donald Trump mengatakan telah menjatuhkan sanksi pada kilang minyak "kecilan" independen di China.

Sanksi diberikan Amerika Serikat (AS) karena kilang minyak itu membeli minyak Iran senilai miliaran dolar.

Baru-baru ini, para pengolah minyak rumahan terpaksa membeli minyak Iran dengan harga premium di atas harga minyak Brent internasional setelah pencabutan sementara sanksi AS terhadap minyak Iran di laut, meningkatkan ekspektasi bahwa India mungkin akan membeli lebih banyak minyak tersebut.

Pekan lalu, AS membiarkan pencabutan sanksi tersebut berakhir.

Kini Departemen Keuangan menargetkan Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co, yang menurut mereka merupakan salah satu pelanggan terbesar minyak mentah dan produk petroleum Iran.

Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan mengatakan mereka juga menjatuhkan sanksi kepada sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal yang beroperasi sebagai bagian dari armada bayangan Iran.

Tahun lalu, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan kecil seperti Hebei Xinhai Chemical Group, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical, dan Shandong Shengxing Chemical.

Hal itu menciptakan beberapa kendala bagi kilang minyak, termasuk dalam hal menerima minyak mentah dan memaksa mereka untuk menjual produk olahan dengan nama yang berbeda.

Kilang-kilang kecil (Teapots) menyumbang sekitar seperempat dari kapasitas kilang minyak di Tiongkok, beroperasi dengan margin yang sempit dan terkadang negatif, serta baru-baru ini tertekan oleh permintaan domestik yang lesu.

Sanksi AS, yang memblokir aset AS milik mereka yang dikenai sanksi dan mencegah warga Amerika melakukan bisnis dengan mereka, telah menghalangi beberapa perusahaan penyulingan independen yang lebih besar untuk membeli minyak Iran.

China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang diekspor, menurut data tahun 2025 dari perusahaan analisis Kpler.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Persenjataan AS Menipis, Biaya Perang Rp 17 Triliun per Hari Melawan Iran Kuras Anggaran

Ketika pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan 'Operasi Epic Fury' menyerang Iran pada akhir Februari 2026 lalu, hanya sedikit orang di luar Pentagon yang sepenuhnya memahami berapa biaya perang yang dibutuhkan AS.

Sekarang saat gencatan senjata AS-Iran berlangsung, angka-angka  biaya perang tersebut mulai terungkap ke publik. 

Dan angka-angka tersebut sangat mengkhawatirkan jika Anda adalah seorang perencana pertahanan yang tahu seluk-beluk anggaran perang atau jika Anda adalah seseorang yang khawatir tentang bagaimana perang menggerogoti uang negara.

Berapa biaya perang yang dikeluarkan AS?

AS menghabiskan sekitar 1.100 rudal Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER) selama konflik tersebut, dengan harga sekitar $1,1 juta per unit (Rp 18 miliar).

Itu menurut perkiraan internal Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dan pejabat kongres seperti yang dilaporkan  New York Times/NYT.

Ini adalah rudal jelajah siluman jarak jauh dengan jangkauan lebih dari 600 mil atau lebih dari 960 km, yang dirancang khusus untuk menembus target yang diperkuat di luar jangkauan pertahanan udara musuh.

Menurut perkiraan internal Pentagon, hanya sekitar 1.500 rudal jenis itu yang tersisa saat ini.

Selain itu lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk ditembakkan menyerang Iran atau kira-kira 10 kali lipat jumlah yang saat ini dibeli Amerika Serikat dalam satu tahun.

Setiap Tomahawk harganya sekitar $3,6 juta (Rp 62 miliar).

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Aksi Heroik Perawat Iran Pertaruhkan Nyawa Selamatkan 3 Bayi Saat AS Membom Rumah Sakit

Rumah Sakit Khatam-al-Anbiya di Teheran, Ibu Kota Iran, termasuk di antara target yang dibom militer AS beberapa waktu lalu.

Saat rumah sakit itu diserang terjadi kepanikan luar biasa.

Dari video CCTV yang diposting Al Jazeera, orang-orang berlari mencari perlindungan agar selamat dari hantaman bom dan bangunan yang akan runtuh.

Namun seorang perawat di bangsal menunjukkan keberaniannya.

Dia menyelamatkan tiga bayi baru lahir ketika bangunan akan runtuh.

Videonya viral di media sosial dan mendapatkan simpati dari publik global.

Menurut kantor berita Iran Wana, bayi-bayi yang baru lahir tersebut belum genap satu jam sejak lahir ketika ledakan terjadi, dan ibu mereka masih berada di unit perawatan intensif.

Neda Salimi, seorang perawat di bangsal tersebut, sedang sibuk memeriksa tanda-tanda vital anak-anak ketika serangan terjadi pada tanggal 1 Maret 2026 lalu, hari ketiga AS menyerang Iran.

Orang-orang mulai berteriak dan dinding serta atap sudah mulai runtuh, seperti yang terlihat dalam video.

Debu tebal juga memenuhi udara.

Namun alih-alih mencari perlindungan untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, perawat bernama Neda itu bergegas ke tempat tidur bayi dan menarik keluar anak-anak bayi itu satu per satu.

Ia mampu melewati lorong-lorong yang dipenuhi asap dan puing-puing, sambil mendekap tiga bayi yang baru lahir ke dadanya, demikian dilaporkan media Iran.

Bayi-bayi tersebut kemudian diserahkan kepada ibu mereka.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Alasan IRGC Sita 2 Kapal Kargo di Selat Hormuz: Operasi Tanpa Izin, Dugaan Keterkaitan dengan Israel

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menahan dua kapal kargo komersial di Selat Hormuz.

Penyitaan dua kapal oleh Iran tersebut menurut sebuah laporan pada Jumat (24/4/2026).

Sejak perang yang diprakarsai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Teheran telah mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, diikuti oleh blokade angkatan laut AS pada 13 April, yang menghantam pasokan energi global, terutama di seluruh Asia.

Terbaru, IRGC menyita dua kapal kargo komersial di Selat Hormuz dengan alasan operasi tanpa izin dan dugaan keterkaitan dengan Israel.

IRGC mengidentifikasi kapal-kapal tersebut sebagai "MSC-Francesca" dan "Epaminondas."

Kedua kapal beroperasi di bawah perusahaan pelayaran MSC, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr.

Iran menuduh kapal-kapal tersebut melanggar peraturan maritim, mengganggu sistem navigasi, dan membahayakan kapal-kapal lain di jalur perairan tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak berwenang Iran mengatakan kapal-kapal tersebut diduga berusaha melewati selat tanpa terdeteksi sebelum dicegat dan dikawal masuk ke perairan teritorial Iran.

Konflik di Selat Hormuz

Permusuhan yang terjadi saat ini antara AS dan Iran di Selat Hormuz dimulai ketika Teheran, yang perairan teritorialnya membentang ke selat tersebut, menutup jalur bagi semua kapal setelah AS dan Israel mulai membombardir negara itu.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved