5 Populer Internasional: Rusia Jual 22 Ton Emas - Kata Analis soal Target Perang Iran Sebenarnya
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Rusia menjual 22 ton emas sejak awal 2026 untuk menutup defisit anggaran.
Israel kini secara terbuka memposisikan garis pertahanannya ratusan kilometer ke arah timur, tepat di jantung beranda Iran.
"Dukungan di medan tempur, bukan sekadar diplomasi di atas kertas, kini menjadi penentu loyalitas strategis di kawasan Teluk," ungkap seorang pejabat senior Emirat, merujuk pada bantuan militer langsung tersebut sebagai momen yang mengubah cara pandang UEA terhadap sekutu-sekutunya.
Struktur pertahanan udara baru ini terbentuk akibat tekanan luar biasa dari kampanye militer Iran. Dalam perang yang disebut beberapa laporan sebagai "Operasi Roaring Lion" tersebut, UEA menjadi salah satu target utama dengan menerima gempuran sekitar 550 rudal balistik dan jelajah, serta lebih dari 2.200 drone.
5. Analis: Target Tersembunyi dari Perang Iran-AS Mungkin China
Saat AS dan Iran berupaya mencapai gencatan senjata, salah satu pertanyaan terbesar yang membayangi konflik ini mungkin bukan tentang Iran saja, melainkan tentang China, menurut analis.
Mengutip Forbes, pada 20 April, pemimpin China Xi Jinping secara terbuka menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, sebagai tanda bahwa Beijing mengamati peristiwa tersebut dengan cermat.
Zineb Riboua, seorang peneliti di Hudson Institute yang mengkhususkan diri dalam pengaruh China di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan dalam sebuah podcast Iran International pada 25 April bahwa signifikansi yang lebih luas dari serangan AS-Israel ke Iran mungkin terletak pada pelemahan posisi strategis China.
“Saya termasuk dalam kelompok yang berpikir bahwa ini tentang melemahkan China,” kata Riboua.
“Saya rasa pemerintah tidak mengatakannya seperti itu, tetapi saya pikir ini sangat penting.”
Selama berminggu-minggu, China menghindari komentar publik langsung tentang krisis Hormuz, meskipun sangat bergantung pada aliran energi dari Teluk Persia.
Riboua mengatakan, pernyataan Xi Jinping mencerminkan kecemasan China dan mungkin juga mengungkap keterbatasan pengaruh China terhadap Iran.
Riboua menambahkan bahwa intervensi Xi Jinping menunjukkan AS mungkin sedang mengubah status quo yang sebelumnya menguntungkan China.
Ia juga menambahkan bahwa China tetap bergantung pada kehadiran AS di Selat Hormuz dan mungkin tidak memiliki pengaruh yang cukup untuk menekan Iran secara langsung.
(Tribunnews.com)