Rabu, 29 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Sejumlah Pangkalan AS di Timur Tengah Hancur Digempur Iran, Kerugian Capai Miliaran Dolar

Pangkalan AS di Timur Tengah digempur Iran, kerugian miliaran dolar. Dampak lebih parah dari laporan, Pentagon disorot, biaya perang melonjak drastis.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Banyak pangkalan di Timur Tengah rusak, termasuk radar, landasan pacu, dan pesawat, dengan kerugian miliaran dolar.
  • Namun Departemen Pertahanan Amerika Serikat dinilai tidak transparan, memicu kritik DPR karena minimnya informasi kerusakan.
  • Buntut kerusakan ini biaya perang melonjak drastis, hingga AS ajukan tambahan lebih dari 200 miliar dolar, dengan pengeluaran awal lebih dari 11 miliar dolar hanya dalam minggu pertama konflik.

TRIBUNNEWS.COM - Serangan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah telah menimbulkan kerusakan besar dengan nilai kerugian mencapai miliaran dolar.

Dampak serangan ini disebut jauh lebih parah dibandingkan yang selama ini disampaikan ke publik, karena menghantam berbagai aset vital militer AS di kawasan Teluk.

Sejumlah fasilitas penting dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari landasan pacu, sistem radar canggih, hingga pesawat tempur dan infrastruktur komunikasi.

Kerusakan pada elemen-elemen tersebut dinilai sangat krusial karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan operasional dan pengawasan militer AS di wilayah tersebut.

Beberapa pangkalan utama yang terdampak antara lain Camp Buehring di Kuwait, yang mengalami kerusakan pada fasilitas dan pesawat sejak hari-hari awal konflik.

Selain itu, pangkalan Al Dhafra dan Al Ruwais di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, serta Muwaffaq Salti di Yordania juga dilaporkan menjadi target serangan.

Kerusakan signifikan juga terjadi di fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain. Gedung utama markas Armada Kelima mengalami kerusakan cukup parah, dengan estimasi biaya perbaikan mencapai sekitar 200 juta dolar AS.

Selain itu, sedikitnya dua sistem pertahanan udara dilaporkan ikut mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Penilaian dari American Enterprise Institute menambahkan bahwa serangan Iran juga menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, landasan pacu di Al Udeid, Qatar, serta fasilitas penyimpanan amunisi di wilayah Irak utara.

Pentagon Bungkam, DPR AS Minta Transparansi

Hal tersebut turut dikonfirmasi sejumlah pejabat AS yang mengakui bahwa dampak serangan Iran sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan laporan resmi sebelumnya.

Besarnya dampak tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah yang terus memanas. 

Serangan yang meluas dinilai dapat mempengaruhi kemampuan operasional militer AS dalam jangka pendek maupun panjang.

Baca juga: Mossad Israel Klaim Menembus Operasi di Iran dan Lebanon, Akui Peroleh Intelijen Berharga

Namun hingga kini, Departemen Pertahanan Amerika Serikat belum memberikan rincian resmi terkait skala kerusakan yang terjadi. Bahkan Komando Pusat Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas operasi militer di kawasan tersebut juga memilih tidak memberikan komentar.

Sikap tertutup ini memicu reaksi keras dari sejumlah anggota parlemen, khususnya dari Partai Republik. Mereka menilai pemerintah tidak transparan dalam menyampaikan kondisi sebenarnya di lapangan.

Seorang ajudan parlemen mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali meminta penjelasan, namun belum memperoleh informasi yang jelas.

“Tidak ada yang tahu apa-apa. Kami sudah bertanya selama berminggu-minggu dan tidak mendapat rincian,” ujar ajudan parlemen, mengutip dari middle East Monitor.

Tekanan politik terhadap Pentagon diperkirakan akan terus meningkat, terutama di tengah kebutuhan anggaran militer yang besar dan tuntutan publik akan keterbukaan informasi terkait dampak konflik yang sedang berlangsung.

Biaya Perang Bengkak, Anggaran Militer Melonjak

Di tengah ketidakjelasan tersebut, AS dilaporkan mengalami lonjakan tajam di tengah ketidakjelasan dampak kerusakan di lapangan.

Pentagon disebut telah mengajukan anggaran tambahan lebih dari 200 miliar dolar AS untuk mendukung operasi militer yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan biaya ini terjadi sangat cepat. Dalam minggu pertama konflik saja, pengeluaran militer AS dilaporkan telah menembus lebih dari 11 miliar dolar AS. 

Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan operasional, mulai dari pengerahan pasukan, penggunaan sistem pertahanan, hingga dukungan logistik dan persenjataan.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga telah mendorong peningkatan besar dalam anggaran pertahanan, yakni hingga 1,5 triliun dolar AS. 

Usulan ini meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan kebutuhan memperkuat kekuatan militer.

Di sisi lain, Kongres Amerika Serikat telah lebih dulu menyetujui anggaran pertahanan sebesar 838,5 miliar dolar AS untuk tahun 2026. 

Namun, besarnya kebutuhan tambahan akibat konflik membuat angka tersebut dinilai belum mencukupi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya perang tidak hanya berdampak pada medan tempur, tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap keuangan negara. 

Dengan pengeluaran yang terus meningkat, pemerintah AS kini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebutuhan militer dengan transparansi anggaran di tengah sorotan publik dan tekanan politik.

(Tribunnews.com / Namira)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved