Iran Vs Amerika Memanas
Iran Tutup Selat Hormuz dari Sisi Laut Arab, Bakal Bertindak Cepat jika Pasukan AS Bergerak Maju
Komandan angkatan laut Iran mengatakan, Iran telah menutup Selat Hormuz dari sisi Laut Arab.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Iran telah menutup Selat Hormuz dari sisi Laut Arab dan akan mengambil "tindakan cepat" jika pasukan Amerika Serikat (AS) bergerak maju.
Hal ini sebagaimana disampaikan komandan angkatan laut Iran, Shahram Irani, Rabu (29/4/2026) malam.
Permusuhan di kawasan itu meningkat setelah AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap sekutu AS di Teluk dan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata diumumkan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan di Islamabad pada 11-12 April, tetapi tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengatakan gencatan senjata telah diperpanjang atas permintaan Pakistan, sambil menunggu proposal dari Teheran.
Terlepas dari upaya yang terus dilakukan untuk mengatur putaran pembicaraan berikutnya, ketidakpastian tetap ada.
“Musuh mengira bahwa dalam waktu sesingkat mungkin - seperti tiga hari hingga satu minggu - mereka dapat mencapai kesimpulan dalam perang melawan Iran, dan asumsi mereka ini telah menjadi bahan lelucon di universitas-universitas militer,” kata Irani dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi milik negara, IRIB, Rabu.
"Kami bersatu hingga tetes darah terakhir untuk membalas dendam atas para martir kami," tambahnya.
Trump Paksa Iran Menyerah
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan Presiden AS Donald Trump ingin memaksa Iran untuk menyerah melalui tekanan ekonomi dan "mengobarkan perselisihan internal".
"Masyarakat harus tahu bahwa solusi untuk konspirasi baru musuh hanya satu hal: menjaga persatuan," kata Qalibaf dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi milik negara Iran, IRIB.
Baca juga: AS Habiskan 25 Miliar Dolar Selama Perang Lawan Iran
Dia mengatakan AS dan Israel berupaya mengubah Iran menjadi Venezuela tetapi gagal.
“Kemudian mereka mencoba mengaktifkan kelompok separatis di bagian barat negara itu, tetapi berkat Tuhan dan upaya pasukan militer dan intelijen, mereka berhasil dikalahkan," tambahnya.
Gencatan Senjata Goyah
Dengan gencatan senjata yang rapuh, AS dan Iran terjebak dalam kebuntuan di Selat Hormuz.
Blokade AS dirancang untuk mencegah Iran menjual minyaknya, sehingga merampas pendapatan penting negara itu sekaligus berpotensi menciptakan situasi di mana Teheran harus menghentikan produksi karena tidak memiliki tempat untuk menyimpan minyak.
Sementara itu, penutupan selat tersebut telah memberikan tekanan pada Trump.