Sabtu, 2 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Gunakan AI untuk Mendeteksi Ranjau Iran di Selat Hormuz

Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz.

Tayang:
Editor: Nuryanti
HO/IST/dok. Roland Berger
TERTUTUP UNTUK AS DAN ISRAEL - Iran menolak Selat Hormuz kembali ke status quo yang dinikmati sebelum pecah perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz tertutup bagi AS dan sekutunya, tetapi kapal dari negara lain tetap dapat menggunakannya. - Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz. 
Ringkasan Berita:
  • Angkatan Laut AS meningkatkan penggunaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
  • Presiden AS Donald Trump menegaskan pembersihan ranjau penting bagi stabilitas energi global.
  • Melalui kerja sama dengan Domino Data Lab, Angkatan Laut AS akan lebih cepat mendeteksi ranjau.
  • Teknologi ini memangkas waktu analisis dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari serta mengurangi risiko bagi personel.

TRIBUNNEWS.COM - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah meningkatkan kemampuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan memburu ranjau laut yang diduga dipasang Iran di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengguncang ekonomi global.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan pihaknya saat ini sedang melakukan upaya pembersihan ranjau di selat tersebut.

Ia menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz sangat penting bagi kelancaran distribusi energi dunia.

Namun, proses pembersihan ranjau bawah laut bukanlah pekerjaan mudah.

Para ahli memperkirakan operasi ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh antara AS dan Iran setelah konflik yang berlangsung beberapa pekan terakhir.

Untuk mempercepat proses tersebut, Angkatan Laut AS menggandeng perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan, Domino Data Lab.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini mendapatkan kontrak hingga hampir 100 juta dolar AS untuk mengembangkan sistem AI yang mampu melatih drone bawah laut dalam mengidentifikasi berbagai jenis ranjau dengan cepat.

Thomas Robinson, Kepala Operasional Domino Data Lab, menjelaskan bahwa pendekatan ini menandai perubahan besar dalam strategi militer laut.

“Perburuan ranjau dulunya adalah pekerjaan kapal. Sekarang ini menjadi pekerjaan untuk AI,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters, Jumat (1/5/2026).

Baca juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara untuk Lawan Drone Pengintai, Situasi Kembali Normal

“Angkatan Laut membayar platform yang memungkinkan mereka melatih, mengatur, dan menerapkan AI dengan kecepatan yang dibutuhkan di perairan yang diperebutkan," jelasnya.

Program ini merupakan bagian dari Proyek AMMO (Accelerated Machine Learning for Maritime Operations), sebuah inisiatif Angkatan Laut AS untuk meningkatkan kemampuan deteksi ranjau secara lebih cepat, akurat, dan minim keterlibatan manusia.

Teknologi yang dikembangkan Domino mampu mengintegrasikan data dari berbagai sensor, seperti sonar pemindaian samping dan sistem pencitraan visual. 

Dengan sistem ini, Angkatan Laut dapat memantau kinerja model AI secara real-time, mengidentifikasi kesalahan, serta melakukan pembaruan sistem secara cepat.

Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi waktu.

Sebelumnya, pembaruan sistem AI untuk mengenali jenis ranjau baru bisa memakan waktu hingga enam bulan.

Kini, proses tersebut dapat dipangkas menjadi hanya beberapa hari.

“Jika ada kendaraan bawah laut tanpa awak di Laut Baltik yang dilatih untuk mendeteksi ranjau Rusia, lalu harus dipindahkan ke Selat Hormuz untuk mendeteksi ranjau Iran, dengan teknologi kami Angkatan Laut bisa siap dalam seminggu, bukan setahun," kata Robinson memberikan ilustrasi terkait fleksibilitas teknologi ini.

Penggunaan kendaraan bawah laut tanpa awak (UUV) yang didukung AI ini juga diharapkan dapat mengurangi risiko bagi personel militer, sekaligus meningkatkan efektivitas operasi di wilayah yang berbahaya.

Meski demikian, hingga kini pihak Angkatan Laut AS belum memberikan komentar resmi terkait detail implementasi proyek tersebut, lapor Economic Times.

Perang AS-Israel Vs Iran

Sebelumnya, AS dan Israel memulai agresinya terhadap Iran pada 28 Februari dengan menyerang sejumlah wilayah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, lalu digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, melalui persetujuan Majelis Ahli Ulama Iran.

Serangan AS-Israel terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa yang belum menghasilkan kesepakatan.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa programnya hanya untuk kepentingan energi sipil.

Menanggapi serangan kedua negara tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Iran juga menghentikan perundingan nuklir dengan AS dan memblokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran krisis energi global.

Pada hari ke-40 konflik, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan mulai 8 April, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.

Perundingan berikutnya pada 11 April di Islamabad, Pakistan, tidak membuahkan kesepakatan karena masih ada isu krusial yang belum terselesaikan.

AS melakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz setelah gagalnya mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut.

Pada 25 April, AS berencana mengirim delegasi ke Islamabad untuk membuka peluang negosiasi, namun Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS, sehingga AS membatalkan kunjungan delegasinya.

Pihak Iran terus berkomunikasi dengan mediator, Pakistan, untuk menyampaikan posisinya dan tuntutan terhadap AS sebagai syarat mengakhiri perang.

Namun, AS bersikeras bahwa Iran harus memenuhi tuntutannya, di antaranya meminta Iran menghentikan program nuklirnya, membuka kembali Selat Hormuz, mengurangi pengaruh militer Iran di kawasan, serta jaminan keamanan bagi sekutu-sekutunya.

Laporan terbaru Axios, menyebutkan Iran telah menyampaikan tanggapannya terhadap amandemen AS atas draf perjanjian untuk mengakhiri perang kepada para mediator di Pakistan pada hari Jumat (1/5/2026).

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved