Rabu, 6 Mei 2026

5 Populer Internasional: Iran Serang UEA dengan Rudal Balistik - IRGC Dituding Bertindak Sendiri

Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Uni Emirat Arab, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Uni Emirat Arab, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. 
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras IRGC karena bertindak tanpa koordinasi dan menyebut serangan itu sebagai “kegilaan”. 
  • Di Selat Hormuz, Ketua Parlemen Iran menegaskan Amerika Serikat berada dalam tekanan besar sementara Iran bahkan belum memulai langkah penuh.

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah isu internasional menjadi perhatian utama dalam 24 jam terakhir.

Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan rudal dan pesawat tak berawak atau drone dari Iran.
UEA berhasil mencegat rudal balistik, rudal jelajah, dan drone di seluruh negeri.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian murka dan kecam Islamic Revolutionary Guard Corps karena serangan drone ke Uni Emirat Arab dinilai tanpa koordinasi, bahkan disebut “kegilaan”.

Selengkapnya, berikut berita populer Tribunnews di kanal Internasional.

1. Iran Serang UEA dengan Rudal Balistik hingga Drone, Jadi Sasaran Serangan Balasan Besar-besaran

Uni Emirat Arab (UEA), sekutu Amerika Serikat (AS), melaporkan adanya serangan rudal dan pesawat tak berawak atau drone dari Iran, Senin (4/5/2026).

Namun, sistem pertahanan udara di Uni Emirat Arab langsung mencegat rudal dan serangan pesawat tak berawak yang datang dari Iran itu.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pada Senin sore bahwa mereka berhasil mencegat rudal balistik, rudal jelajah, dan drone di seluruh negeri.

Kemudian dilaporkan bahwa tiga rudal telah dicegat, sementara yang keempat jatuh ke laut.

Serangan-serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk, dengan upaya untuk memperpanjang gencatan senjata dalam perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang gagal membuahkan hasil.

Seorang pejabat militer senior Iran mengatakan di televisi pemerintah bahwa "Iran tidak memiliki rencana untuk menargetkan UEA".

Kemudian disusul oleh laporan dari kantor berita Tasnim yang mengutip sumber militer Iran lain yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa jika UEA mengambil tindakan yang "tidak bijaksana" terhadap Iran, semua kepentingannya akan menjadi sasaran.

Diberitakan Al Jazeera, serangan pesawat tak berawak itu menghancurkan periode relatif tenang di UEA sejak gencatan senjata yang dimediasi Pakistan antara Washington dan Teheran dimulai pada 8 April, menghentikan lebih dari dua bulan pertempuran di wilayah Teluk.

UEA menjadi sasaran serangan balasan besar-besaran dari Iran, dan mencegat serta menghancurkan ribuan drone dan rudal Iran.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Presiden Iran Geram! IRGC Dituding Bertindak Liar Usai Kirim Serangan Drone ke UEA

Presiden Iran Masoud Pezeshkian meluapkan kemarahan kepada jajaran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) setelah muncul klaim bahwa serangan ke Uni Emirat Arab berasal dari Teheran.

Berdasarkan sumber internal yang mengetahui situasi di Teheran, Pezeshkian mengkritik keras serangan rudal dan drone yang terjadi pada Senin kemarin (4/5/2026) di kawasan Teluk Persia.

Ia menilai operasi tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan pemerintah sipil, bahkan menyebutnya sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab”.

IRGC yang dipimpin oleh Ahmad Vahidi disebut menjalankan operasi militer secara sepihak. Presiden Iran menilai strategi eskalasi seperti itu berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Dalam pernyataan yang dikutip caliber, Pezeshkian juga mengatakan langkah tersebut sebagai “kegilaan” yang dapat membawa konsekuensi besar bagi negara, berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Kronologi Serangan Drone ke UEA

Adapun sasaran pertama dilaporkan terjadi pada pagi hari ketika sejumlah drone terdeteksi memasuki wilayah udara UEA.

Sistem pertahanan udara setempat segera merespons dengan melakukan pencegatan. 

Meski sebagian besar drone berhasil dihancurkan di udara, satu serangan tetap memicu kebakaran di fasilitas pelabuhan minyak strategis di Fujairah, menandai dampak langsung terhadap sektor energi.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang serangan yang lebih luas, termasuk rudal balistik dan jelajah. 

Total puluhan ancaman udara dilaporkan berhasil dicegat dalam satu hari, menunjukkan skala serangan yang signifikan.

Hingga saat ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) tidak secara terbuka mengklaim bahwa serangan tersebut berasal langsung dari Teheran.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Parlemen Iran: Situasi di Selat Hormuz Tak Tertahankan bagi AS, Sementara Kami Bahkan Belum Mulai

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut situasi di Selat Hormuz kini tidak tertahankan bagi Amerika Serikat, sementara Iran, menurutnya, bahkan belum memulai langkah apa pun.

Dalam unggahan di X pada Selasa (5/5/2026), Qalibaf menegaskan bahwa tatanan baru tengah terbentuk di jalur perairan strategis tersebut.

"Keamanan pelayaran dan transit energi telah terancam oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui pelanggaran gencatan senjata serta pemberlakuan blokade," tulis Qalibaf.

PARLEMEN IRAN - Potret Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang diunggah oleh Press TV, media yang berafiliasi dengan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), lembaga penyiaran negara Iran.
PARLEMEN IRAN - Potret Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang diunggah oleh Press TV, media yang berafiliasi dengan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), lembaga penyiaran negara Iran. (PressTV)

"Tentu saja, kejahatan mereka akan berkurang."

Ia menekankan bahwa Iran sepenuhnya menyadari tekanan yang kini dihadapi AS.

"Kami tahu betul bahwa kelanjutan situasi saat ini tidak tertahankan bagi Amerika Serikat, sementara kami bahkan belum memulai," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Iran memberlakukan blokade terhadap pelayaran asing yang melintasi Selat Hormuz setelah konflik dimulai dengan serangan AS-Israel pada 28 Februari, yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi negara tersebut.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Eks Pengacara Trump Blak-blakan soal Kesehatan Mental Sang Presiden AS

Di tengah perang melawan Iran yang kembali memanas, Mantan Pengacara Donald Trump bersuara.

Dia mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) itu harus mundur dari jabatannya.

Alasannya terjadi penurunan serius kondisi kesehatan mental Donald Trump. 

Pernyataan tersebut  menambah daftar tokoh di AS yang ingin Trump mundur dari jabatannya menggunakan  Konstitusi AS  yakni Amandemen ke-25.

Ty Cobb, yang bekerja di tim hukum Trump dari Juli 2017 hingga Mei 2018, mengatakan saat pertama kali menjabat presiden AS, Trump kerap diperingatkan oleh para pembantunya mengenai kebijakan ekstrem atau saat mengambil keputusan yang tidak bijaksana atau ilegal.

Dan tampaknya saat itu masih berhasil.

Tetapi pada masa jabatan keduanya yan dimulai 2024 lalu, kata Cobb, Trump telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang terlalu takut untuk menantangnya sama sekali.

Sehingga saran dari pembantu terdekatnya saat ini tidak mempan lagi untuk memperingatkan sang presiden.

Menurut The Mirror, Cobb juga percaya bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda "penurunan fungsi lobus frontal" dan "kemungkinan demensia."

Ia berpendapat bahwa narsisisme Trump yang sudah lama ada telah memburuk akhir-akhir ini.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. China ‘Ngeyel’! Tetap Impor Minyak Dari Iran Meski Disanksi AS

China secara tegas menolak mematuhi sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membeli minyak dari Iran. Sikap ini menandai perlawanan terbuka Beijing terhadap tekanan ekonomi Washington.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah China memerintahkan perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk tetap melanjutkan transaksi minyak Iran.

Kebijakan ini diambil di tengah upaya AS yang berusaha menekan pemasukan Iran dari sektor energi melalui sanksi ketat dan pembatasan jalur perdagangan.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Departemen Keuangan AS juga memperingatkan lembaga keuangan global agar tidak terlibat dalam transaksi dengan kilang minyak independen China, yang dikenal sebagai “kilang teko”.

Pihak AS menilai keterlibatan dengan perusahaan-perusahaan tersebut berisiko memicu sanksi lanjutan terkait perdagangan minyak Iran.

Namun, tekanan tersebut tidak membuat China mundur. Untuk pertama kalinya, Beijing secara aktif menggunakan undang-undang anti-sanksi yang dirancang untuk melindungi kepentingan nasional dan perusahaan domestik dari tekanan asing.

Melalui aturan ini, perusahaan China justru dapat dikenai sanksi di dalam negeri jika mematuhi kebijakan luar negeri yang dianggap merugikan negara.

Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Hengli Petrochemical. Perusahaan ini masuk dalam daftar hitam AS karena diduga membeli minyak Iran.

Namun, pihak Hengli membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan internasional.

Langkah China ini memperlihatkan strategi tegas dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “yurisdiksi jarak jauh” oleh AS, yaitu penerapan hukum domestik Amerika terhadap perusahaan di luar wilayahnya.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved