Iran Vs Amerika Memanas
DPR AS Desak Marco Rubio Akui Nuklir Israel, Minta Akhiri Standar Ganda ke Iran
DPR AS meminta Marco Rubio untuk mengakui Israel punya senjata nuklir dan mengakhiri standar ganda yang dilakukan terhadap Iran.
Para anggota parlemen juga mencatat bahwa pejabat pemerintah Israel telah mengisyaratkan kepemilikan senjata tersebut.
Hal itu diperkuat dengan pernyataan Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, mengatakan pada tahun 2023 bahwa penggunaan bom nuklir di Gaza adalah "salah satu kemungkinan" setelah serangan 7 Oktober.
Pada tahun 2006, Ehud Olmert, Perdana Menteri Israel saat itu, mengatakan kepada sebuah stasiun televisi Jerman bahwa Iran bercita-cita untuk memiliki senjata nuklir, seperti Amerika, Prancis, Israel, dan Rusia.
Partai Demokrat keberatan dengan keengganan berkelanjutan dari para pejabat pemerintahan Trump untuk membahas subjek tersebut secara terbuka.
Mereka mencatat bahwa ketika Castro meminta Thomas DiNanno, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, untuk merinci kemampuan nuklir Israel pada sidang kongres pada bulan Maret.
Namun pada saat itu, DiNanno mengatakan bahwa ia tidak dapat menjawab permintaan parlemen.
"Amerika Serikat secara terbuka mengakui program senjata nuklir Inggris, Prancis, India, Pakistan, Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara."
Baca juga: Iran Bantah Serang UEA, Ancam Beri Balasan Dahsyat Jika Emirat Arab Jadi Basis Musuh
"Kami meminta agar Israel diperlakukan dengan standar yang sama seperti negara asing lainnya, dan agar pemerintah Amerika Serikat berbicara terus terang tentang potensi kemampuan senjata nuklirnya, apa pun itu," tegas Castro dalam surat tersebut.
Para anggota parlemen menambahkan bahwa ambiguitas yang berkelanjutan mengenai kepemilikan senjata tersebut oleh Israel merusak upaya untuk secara transparan menangani nonproliferasi nuklir di Timur Tengah.
Castro mencatat bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah menyatakan bahwa negaranya akan berupaya menambahkan bom tersebut ke persenjataan mereka jika Iran mengembangkan bom nuklir sendiri.
"Kami meminta Anda untuk menerapkan standar transparansi yang sama kepada Israel seperti yang diharapkan Amerika Serikat dari negara lain mana pun yang mungkin sedang mengembangkan atau mempertahankan kemampuan senjata nuklir," kata para anggota parlemen kepada Rubio.
Nuklir Iran Masih Kokoh
Laporan intelijen terbaru menunjukkan bahwa kerusakan pada program nuklir Iran sangat terbatas dan infrastruktur intinya masih berfungsi dengan baik.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Reuters, Iran diprediksi hanya membutuhkan waktu sembilan bulan hingga satu tahun untuk menciptakan bom nuklir pertamanya.
Angka ini mengejutkan banyak pihak, mengingat AS telah melancarkan dua operasi militer besar, yakni Operasi Midnight Hammer (2025) dan Operasi Epic Fury (2026).
Para ahli meyakini bahwa Iran telah belajar dari pengalaman masa lalu.