Sabtu, 9 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

China Sebut Perang AS-Israel Ilegal, Araghchi: Tiongkok Sahabat Dekat Iran

Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebut perang AS-Israel adalah tindakan ilegal. Menlu Iran memuji sikap China sebagai sahabat dekat Iran.

Tayang:
SNN/IRGC
ARAGHCHI KUNJUNGI CHINA - Tangkapan layar SNN TV, Rabu (6/5/2026). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam kunjungannya ke Beijing, Rabu (6/5/2026). Wang Yi menyebut perang AS-Israel adalah tindakan ilegal. Menlu Iran memuji sikap China sebagai sahabat dekat Iran. 

"Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran adalah tidak sah," lanjutnya.

Ia menekankan perlunya kelanjutan perundingan antara AS dan Iran.

"Kawasan ini berada di titik balik yang kritis dan pertemuan langsung antara pihak-pihak terkait sangat penting," ujarnya.

Bulan lalu, perwakilan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, mengatakan Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas pemblokiran Selat Hormuz.

"Akar penyebab hambatan navigasi di Selat Hormuz adalah tindakan militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Hanya penghentian tembakan dan permusuhan serta perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk Persia yang dapat menjamin pergerakan kapal yang aman dan tanpa hambatan di sepanjang jalur laut internasional," katanya dalam konferensi pers, Kamis (2/4/2026).

Diplomat tersebut juga menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk bekerja sama untuk meredakan situasi dan mencegah dampak negatif lebih lanjut dari ketidakstabilan regional terhadap keamanan ekonomi dan energi global, seperti diberitakan TASS.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari eskalasi ketegangan yang meledak pada 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran.

Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dan kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli.

Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Sejak lama, Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.

Ketegangan tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik terbuka. Iran merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Di saat yang sama, Teheran juga menghentikan proses perundingan nuklir dan memberlakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan krisis energi dunia.

Memasuki hari ke-40 konflik, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April.

Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang jelas. Sejak 13 April, Amerika Serikat juga disebut telah menerapkan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di wilayah tersebut.

Pada 25 April, rencana AS untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna membuka kembali negosiasi dibatalkan setelah Iran menolak dialog langsung.

Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran terus menjalin komunikasi dengan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan posisi dan tuntutannya sebagai syarat penghentian perang.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved