Wabah Hantavirus
Hantavirus Merebak dari Kapal Pesiar MV Hondius, WHO: Insiden Serius, tetapi Risiko Kesehatan Rendah
Sejak mendapat informasi merebaknya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026) lalu, WHO telah mengambil sejumlah tindakan.
Ringkasan Berita:
- Merebaknya kasus hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar, MV Hondius, menuai sorotan.
- Direktur Jenderal WHO (World Health Organization) Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan pernyataan terbaru.
- Kata Dr. Tedros, merebaknya kasus hantavirus memang insiden yang serius, tetapi risiko kesehatannya rendah.
- WHO berkoordinasi erat dengan berbagai negara di bawah Peraturan Kesehatan Internasional atau IHR (International Health Regulations) terkait munculnya hantavirus.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Jenderal WHO (World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan pernyataan terbaru mengenai timbulnya sejumlah kasus hantavirus (virus Hanta) yang terkait kapal pesiar, MV Hondius.
Tedros mengungkap, merebaknya kasus hantavirus memang insiden yang serius, tetapi risiko kesehatannya rendah.
Sejauh ini, tercatat ada delapan kasus, termasuk tiga kasus kematian. Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.
Hantavirus adalah infeksi yang ditularkan oleh hewan pengerat, seperti tikus, yang dalam kasus langka dapat ditularkan dari orang satu ke orang lainnya.
Namun, hantavirus yang diduga terlibat adalah strain hantavirus Andes, satu-satunya strain yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia, terkait dengan kontak dekat dan berkepanjangan.
“Meskipun ini merupakan insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah," kata Dr. Tedros, dikutip dari keterangan resmi yang dimuat di situs who.int, Jumat (8/5/2026).
Ia mencatat bahwa mengingat masa inkubasi, “Ada kemungkinan lebih banyak kasus yang akan dilaporkan.”
Dr. Tedros juga menyampaikan, WHO berkoordinasi erat dengan berbagai negara di bawah Peraturan Kesehatan Internasional atau IHR (International Health Regulations) terkait munculnya hantavirus.
IHR sendiri merupakan peraturan yang mendefinisikan hak dan kewajiban negara dan WHO dalam menanggapi peristiwa atau insiden kesehatan masyarakat.
Merebaknya berbagai virus, termasuk kasus hantavirus saat ini, menunjukkan alasan mengapa IHR ada, serta menekankan pentingnya kerja sama dan solidaritas global dalam menanggapi ancaman kesehatan yang tidak mengenal batas negara.
Dr. Tedros lantas menyebutkan prioritas utama dalam penanganan dan pencegahan penyebaran hantavirus.
Baca juga: Waspada Boleh Tapi Jangan Cemas Berlebihan, Pakar Ungkap Perbedaan Virus Hanta dan Covid-19
“Prioritas kami adalah memastikan pasien yang terdampak menerima perawatan, memastikan penumpang yang tersisa di kapal tetap aman dan diperlakukan dengan bermartabat, dan mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” tutur Dr. Tedros.
Sejak mendapat informasi mengenai merebaknya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026) lalu, WHO telah mengambil sejumlah tindakan.
Yang terbaru termasuk menempatkan seorang ahli di atas kapal, untuk mendukung penilaian atau assesment medis yang komprehensif terhadap semua penumpang dan awak kapal.
Ahli tersebut nantinya juga bertugas mengumpulkan informasi penting untuk mengevaluasi risiko infeksi mereka.
Selain itu, WHO telah mengatur pengiriman 2500 kit diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara untuk memperkuat kapasitas pengujian virus.
Organisasi yang didirikan pada 7 April 1948 ini juga tengah mengembangkan panduan operasional langkah demi langkah untuk penurunan dan perjalanan selanjutnya yang aman bagi penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius ketika mereka tiba.
Otoritas Kesehatan di 4 Benua Lacak dan Pantau Penumpang yang Turun dari Kapal Pesiar MV Hondius
Pada Kamis (7/5/2026), otoritas kesehatan di empat benua melacak dan memantau penumpang yang turun dari kapal pesiar MV Hondius yang terjangkit hantavirus.
Dikutip dari laman apnews.com, otoritas kesehatan tersebut juga mencoba melacak orang lain yang mungkin telah melakukan kontak dengan para penumpang kapal sejak turun.
Di Argentina, tim penyelidik belum berangkat ke kota di selatan tempat mereka menduga wabah itu berasal, kata pejabat dari Kementerian Kesehatan Argentina kepada Associated Press, Kamis.
Para penyelidik Argentina menduga pasangan Belanda mungkin tertular virus saat melakukan perjalanan pengamatan burung sebelum mereka naik kapal pesiar.
Pada 24 April, hampir dua minggu setelah penumpang pertama meninggal di kapal, lebih dari dua lusin orang dari setidaknya 12 negara berbeda meninggalkan kapal tanpa pelacakan kontak, kata operator kapal dan pejabat Belanda, Kamis.
Tiga penumpang telah meninggal dalam wabah tersebut — pasangan asal Belanda dan seorang warga negara Jerman — dan beberapa lainnya sakit.
Gejala biasanya muncul antara satu dan delapan minggu setelah terpapar.
Tidak ada penumpang atau awak kapal yang tersisa yang saat ini menunjukkan gejala, kata perusahaan kapal pesiar Oceanwide Expeditions yang berbasis di Belanda, Kamis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan risiko bagi masyarakat luas rendah.
Hantavirus biasanya menyebar melalui inhalasi kotoran tikus yang terkontaminasi dan tidak mudah menular antar manusia.
“Kami percaya ini akan menjadi wabah terbatas jika langkah-langkah kesehatan masyarakat diterapkan dan solidaritas ditunjukkan di semua negara,” kata Dr. Abdirahman Mahamud, Direktur Tindak Siaga dan Tanggap Cepat WHO, Kamis.
Baca juga: UPDATE Kemenkes: 2 Suspek Hantavirus Jakarta-Jogja Negatif, Pasien Sembuh
Strain Andes Hantavirus Diduga Menyebar Antarmanusia
Mengutip ABC 7, virus hanta varian/strain Andes dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus, penyakit paru-paru berat yang sering kali berakibat fatal.
Kementerian Kesehatan Argentina mencatat, terdapat 28 kematian akibat hantavirus tahun 2025 lalu, meningkat dibanding rata-rata 15 kematian per tahun dalam lima tahun sebelumnya.
Hampir sepertiga kasus hantavirus tahun lalu berujung fatal.
Karena kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Argentina, penyelidikan sumber wabah kini difokuskan ke negara tersebut.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pasangan Belanda yang menjadi dua kasus pertama sempat melakukan perjalanan pengamatan burung di Argentina, Chili, dan Uruguay sebelum menaiki kapal.
Pasangan itu diketahui mengunjungi habitat tikus pembawa virus Andes.
(Tribunnews.com/Rizki A./Tiara Shelavie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HANTAVIRUS-Tangkap-layar-YouTube-New-York-Post-4-kapal-pesiar-MV-Hondius.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.