Senin, 11 Mei 2026

Konflik India dan Pakistan

Konflik India dan Pakistan Tahun 2025, Evolusi Perang Udara Modern Disorot

Operasi Sindoor India itu berkembang menjadi salah satu pertempuran udara terbesar yang melibatkan jet tempur generasi keempat.

Tayang:
Editor: Wahyu Aji
tangkap layar/wn/x
DIHANCURKAN - Foto jet tempur F-16 Pakistan. India mengklaim, operasi Sindoor mereka berhasil menghancurkan lima jet jenis ini di hanggar panggkalan udara di Pakistan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konfrontasi militer singkat namun intens antara India dan Pakistan pada Mei 2025 disebut mengubah dinamika strategi pencegahan di Asia Selatan.

Dikutip dari Daily Mirror Online, Minggu (10/5/2026), konflik selama empat hari yang dipicu Operasi Sindoor India itu berkembang menjadi salah satu pertempuran udara terbesar yang melibatkan jet tempur generasi keempat sejak Perang Dunia II.

Operasi Sindoor dimulai sebagai respons India atas serangan teror di Pahalgam pada 22 April 2025 yang menewaskan 26 warga sipil.

Dalam Operasi Sindoor, India  melancarkan serangkaian serangan presisi terhadap sembilan lokasi yang diklaim terkait kelompok Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba di wilayah Azad Kashmir dan Punjab yang dikelola Pakistan.

Target serangan termasuk Markaz-e-Taiba di Muridke dan Jamia Masjid Subhan Allah di Bahawalpur.

India menyebut lokasi-lokasi tersebut dipilih untuk melemahkan infrastruktur teror sambil meminimalkan dampak terhadap warga sipil.

Sementara Pakistan mengecam serangan itu sebagai tindakan perang dan melaporkan adanya korban sipil di kawasan masjid dan permukiman.

Islamabad kemudian membalas dengan serangan artileri ke Jammu serta pengerahan drone dan rudal.

Konflik tersebut berkembang menjadi pertempuran udara besar yang melibatkan lebih dari 114 pesawat tempur dari kedua pihak dalam pertempuran jarak jauh.

“India mempertahankan dominasi eskalasi sepanjang operasi,” tulis penilaian militer Eropa yang dikutip Daily Mirror Online.

Aksi Saling Serang India-Pakistan

Menurut laporan itu, India mampu mengendalikan tempo dan batas konflik sambil mencegah Pakistan memperoleh keuntungan yang menentukan.

Meski demikian, Pakistan sempat meraih keberhasilan taktis pada fase awal konflik.

Pada 7 Mei, jet tempur J-10C Pakistan yang dipersenjatai rudal PL-15 buatan China dilaporkan menembak jatuh setidaknya dua hingga empat pesawat India, termasuk sebuah Rafale.

Insiden tersebut disebut menjadi kekalahan tempur pertama bagi jet tempur Rafale buatan Prancis.

Seorang pejabat senior AS menilai dengan keyakinan tinggi bahwa serangan awal Pakistan sempat mengganggu operasi India, terutama ketika lebih dari 125 pesawat bermanuver dalam jarak aman.

Pakistan kemudian melanjutkan tekanan melalui Operasi Bunyan-un-Marsoos pada 10 Mei dengan menyerang 26 lokasi di India, termasuk klaim kerusakan terhadap sistem pertahanan udara S-400 dan depot rudal BrahMos menggunakan jet JF-17 dan amunisi jelajah.

Namun laporan tersebut menilai keberhasilan taktis Pakistan belum mengubah situasi strategis secara keseluruhan.

Pada periode 8 hingga 10 Mei, Angkatan Udara India meningkatkan operasi penindasan pertahanan udara musuh atau SEAD/DEAD dengan menyerang radar Pakistan di Lahore dan pangkalan udara seperti Nur Khan, Rafiqui, dan Bholari.

Citra satelit disebut mengonfirmasi kerusakan hanggar yang menampung pesawat peringatan dini Saab 2000 Erieye serta kerusakan landasan pacu di Mushaf dan Rahim Yar Khan yang mengganggu operasi Angkatan Udara Pakistan.

Seruan Gencatan Senjata

India juga mengandalkan sistem pertahanan berlapis seperti S-400 dan jaringan terintegrasi Akashteer untuk menghadapi serangan Pakistan.

Lebih dari 600 drone Pakistan disebut berhasil dicegat dalam satu serangan besar, sementara rudal BrahMos dan SCALP-EG yang diluncurkan dari Su-30MKI dan Rafale menghantam sejumlah pusat komando Pakistan tanpa melewati ambang batas nuklir.

Pada jam ke-88 konflik, laporan tersebut menyebut Angkatan Udara India telah memiliki kebebasan untuk melakukan serangan jarak jauh, sementara operasi balasan Pakistan mulai melemah.

Islamabad akhirnya meminta gencatan senjata pada 10 Mei melalui jalur komunikasi langsung DGMO.

Analis Carnegie Endowment menilai India menunjukkan dominasi militer yang dibangun melalui jaringan ISR berkelanjutan dan kemampuan serangan presisi jarak jauh.

Sebaliknya, respons Pakistan berupa serangan siber, rudal, dan drone disebut hanya menimbulkan dampak terbatas.

Penilaian AS juga menyebut pertahanan udara India sebagian besar tetap utuh dan Pakistan gagal mempertahankan tekanan operasional.

Gencatan senjata kemudian tercapai melalui mediasi bilateral dengan fasilitasi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Gagal Memanfaatkan Momentum

Korban jiwa di kedua pihak mencerminkan intensitas konflik tersebut.

Pakistan melaporkan 40 warga sipil dan 13 personel militer tewas akibat serangan India, sementara India mencatat 21 warga sipil dan delapan personel keamanan tewas, sebagian besar akibat serangan artileri.

Laporan itu menilai Pakistan salah menghitung dinamika eskalasi dalam peperangan modern.

Keberhasilan awal yang diperkuat perang narasi disebut menutupi kelemahan sistem pertahanan udara Pakistan yang banyak bergantung pada teknologi China dan dinilai tidak mampu menandingi integrasi kekuatan serangan jarak jauh India.

“Operasi Sindoor mengubah strategi deterrence di Asia Selatan,” tulis laporan tersebut.

Operasi itu juga disebut menegaskan pola baru India berupa serangan mendalam terhadap target lawan, sekaligus memperlihatkan bahwa strategi full spectrum deterrence Pakistan, rentan ketika menghadapi tekanan berkelanjutan.

Baca juga: 7 Fakta Konflik India dan Pakistan, Dijuluki Operasi Sindoor hingga Serangan Rudal Dini Hari

Menurut laporan tersebut, kegagalan Pakistan mempertahankan momentum awal tidak hanya mengakhiri konflik sesuai kepentingan India, tetapi juga memicu sorotan terhadap modernisasi militernya dan ketergantungan pada pemasok eksternal.

SUMBER

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved