Nyamuk Wolbitos Jadi Senjata Baru Brasil Melawan Demam Berdarah
Brasil menggunakan nyamuk yang diinfeksi bakteri Wolbachia untuk menghambat penyebaran dengue, Zika, dan chikungunya.
Ringkasan Berita:
- Brasil menggunakan nyamuk yang diinfeksi bakteri Wolbachia untuk menghambat penyebaran dengue, Zika, dan chikungunya.
- Program ini telah melindungi jutaan orang, tetapi perluasan produksinya masih menghadapi hambatan birokrasi dan logistik.
- Ilmuwan menilai metode ini efektif, namun tetap harus dikombinasikan dengan langkah lain seperti vaksinasi.
TRIBUNNEWS.COM - Ilmuwan Brasil Luciano Moreira dengan hati-hati memegang kotak kaca berisi kawanan nyamuk yang telah diinfeksi bakteri yang mampu menghambat penularan demam berdarah dengue.
Dilansir AFP, nyamuk-nyamuk ini telah melindungi jutaan orang di Brasil, namun penyakit yang melemahkan tersebut menyebar lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi dan distribusi nyamuk itu ke seluruh wilayah negara yang sangat luas tersebut.
Perubahan iklim “mempercepat penyebaran virus. Di bagian selatan negara, yang dulunya jauh lebih dingin, sebelumnya tidak ada dengue, tetapi sekarang sudah ada,” kata Moreira, 59 tahun, kepada AFP.
Pabrik pembiakan nyamuk terbesar di dunia — dijuluki “wolbitos” dari nama bakteri Wolbachia yang disuntikkan ke tubuh nyamuk — berada di kota Curitiba, Brasil selatan.
Para pekerja berkeringat deras di ruang pembiakan yang diatur pada suhu ideal untuk nyamuk Aedes aegypti, yang ditempatkan di kandang besar bercahaya terang berbahan kain transparan.
Nyamuk “wolbitos” diberi makan campuran berbau menyengat berupa darah kuda hangat dan air gula.
Bio-pabrik yang diresmikan pada 2025 itu mampu memproduksi hingga 100 juta telur per minggu, yang disimpan dalam kapsul lalu dikirim ke wilayah perkotaan sebagai tujuan akhir tempat telur-telur itu menetas.
Dalam beberapa bulan berikutnya, “wolbitos” ini — yang juga memiliki keunggulan reproduksi dibandingkan nyamuk biasa — perlahan menggantikan populasi nyamuk penyebar dengue, serta virus Zika dan chikungunya, penyakit lain yang juga ditularkan nyamuk.
Baca juga: Profesor BRIN: Gejala Hantavirus di Asia dan Eropa Mirip Demam Berdarah
‘Momen Penentu’
Metode menginfeksi nyamuk ini pertama kali dikembangkan di Australia pada 2008 oleh tim yang juga melibatkan ahli entomologi Moreira.
Pada 2025, Moreira diakui majalah Nature sebagai salah satu dari 10 ilmuwan terbaik dunia, dan tahun ini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time.
Untuk menjaga kerahasiaan metode tersebut, pengambilan foto peralatan di bio-pabrik dilarang.
Nyamuk anti-dengue ini telah diperkenalkan di 15 negara, tetapi tidak ada negara lain yang melindungi sebanyak Brasil — diperkirakan enam juta orang sejak 2011, ketika Moreira pertama kali menguji metode ini.
Namun lebih dari 200 juta orang masih berisiko di Brasil, negara yang mencatat lebih dari 6.000 kematian akibat wabah dengue pada 2024.
Dengue menyebabkan nyeri sendi dan tulang, sehingga dijuluki “breakbone fever” atau demam pematah tulang.
Dalam kasus berat, virus ini dapat memicu demam berdarah hingga kematian.
“Kami berada pada momen penting untuk memperluas program ini di Brasil,” kata Moreira.
Di dua kota tempat metode ini diuji secara ilmiah — Niteroi, dekat Rio de Janeiro, dan Campo Grande di Brasil tengah-barat — kasus dengue turun masing-masing 89 persen dan 63 persen.
Pemerintahan kiri Presiden Luiz Inacio Lula da Silva telah mengakui “wolbitos” sebagai langkah kesehatan publik, tetapi birokrasi negara belum mampu mengimbangi kecepatan produksi.
“Pabrik terpaksa mengurangi produksi karena permintaan dari kementerian kesehatan tidak terlalu tinggi,” kata Moreira.
Bukan ‘Solusi Ajaib’
Ahli biologi dan epidemiologi Ludimila Raupp, profesor di Pontifical Catholic University of Rio, mengatakan ada kebutuhan “mendesak” untuk memperluas proyek ini, tetapi hal tersebut “tidak mudah”.
Menurutnya, di Rio de Janeiro implementasi proyek mengalami “kelemahan serius” dan “kurangnya koordinasi institusional”.
Tim kesehatan lokal justru menghambat efektivitas program melalui penggunaan larvasida secara berlebihan, yang berbahaya bagi nyamuk terinfeksi Wolbachia.
Sementara itu, kekerasan terkait kejahatan terorganisir juga mengganggu pelepasan nyamuk di kawasan favela Rio yang luas, kata Moreira.
Menteri Kesehatan Brasil Alexandre Padilha mengatakan perluasan program menghadapi tantangan “teknis, operasional, logistik, dan finansial”.
Meski demikian, metode Wolbachia dijadwalkan diterapkan di 54 kota baru tahun ini, sehingga total kota peserta menjadi 70.
Moreira menegaskan metode ini bukan “solusi ajaib” untuk dengue, melainkan strategi pelengkap bagi langkah lain, seperti vaksin.
Brasil tahun lalu mengembangkan vaksin dosis tunggal pertama di dunia untuk dengue, sementara India berada di tahap akhir pengujian vaksin lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kasus-dbd-di-jakarta-terus-meningkat_20240417_183433.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.