Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva: Donald Trump Sumber Masalah Bagi AS
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan, kebijakan Donald Trump telah menciptakan masalah bagi AS.
Ringkasan Berita:
- Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan, kebijakan Donald Trump telah menciptakan masalah bagi AS.
- Harga bahan bakar di AS melonjak tinggi karena aliran minyak melalui Selat Hormuz terganggu, rata-rata mencapai 4,09 dolar per galon.
- Negosiasi antara Washington dan Teheran belum menghasilkan hasil sejak gencatan senjata sementara diberlakukan pekan lalu.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva melontarkan kritikan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia mengatakan, kebijakan Donald Trump telah menciptakan masalah bagi AS.
Warga Amerika yang menghadapi biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan harus membayar harga perang terhadap Iran, gara-gara ulah Trump.
Lula menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan El Pais yang diterbitkan Kamis, 16 April 2026.
“[Trump] sedang memainkan permainan yang sangat berbahaya. Dia beroperasi dengan premis bahwa kekuatan ekonomi, militer, dan teknologi Amerika menentukan aturan main. Pada akhirnya, hal itu menciptakan masalah bagi Amerika Serikat,” katanya.
“Ketika dia memutuskan menyerang Iran, saya tidak tahu apakah dia menyadari bahwa harga bahan bakar akan naik dan bahwa rakyatlah yang akan menanggung akibatnya,” kata Lula.
Perang AS melawan Iran menyebabkan harga bahan bakar di AS melonjak tinggi karena aliran minyak melalui Selat Hormuz terganggu.
Teheran menutup Selat Hormuz yang merupakan koridor kargo utama bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggapnya sebagai musuh. Perang juga menghancurkan fasilitas petrokimia utama di Iran.
Harga bensin di seluruh AS rata-rata mencapai 4,09 dolar per galon pada hari Kamis. Sebagai perbandingan, pada akhir Februari lalu harga masih 2,94 dolar sebelum konflik dengan Iran meletus, berdasar data dari American Automobile Association.
Negosiasi antara Washington dan Teheran belum menghasilkan hasil sejak gencatan senjata sementara diberlakukan pekan lalu.
Iran menyalahkan kegagalan pembicaraan tersebut pada "tuntutan yang tidak realistis" yang diajukan oleh AS, sementara Washington bereaksi dengan mengumumkan blokade Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang terkait dengan Teheran.
Kemungkinan pembicaraan baru sedang dibahas, kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada hari Rabu, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Dewan Keamanan Rusia telah memperingatkan bahwa AS dan Israel dapat memanfaatkan negosiasi untuk mempersiapkan invasi darat ke Iran, mengingat bahwa "Pentagon terus membangun kekuatan AS di kawasan tersebut."
Russia Today
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Brasil-Luiz-Inacio-OK.jpg)