Rabu, 13 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Mau Keruk 'Debu Nuklir', Trump Klaim Iran Tak Bisa Ambil Uranium di Reruntuhan

Trump sebut Iran meminta AS untuk mengambil sisa uraniumnya dari fasilitas nuklir yang rusak karena Iran tak punya teknologi untuk melakukannya.

Tayang:
Editor: Nuryanti

Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran meminta AS mengambil "debu nuklir" dari fasilitas nuklir yang hancur karena Teheran disebut tak punya teknologi untuk mengambil sisa uraniumnya.
  • Iran menolak klaim Trump, sebut tak ada pemindahan uranium apa pun.
  • Trump juga ingin menghidupkan kembali "Project Freedom" di Selat Hormuz setelah menolak proposal Iran.
  • Meski sempat ada gencatan senjata, negosiasi terbaru kembali gagal. Gedung Putih kini kembali mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan para negosiator Iran memberitahu Washington bahwa AS perlu mengambil apa yang ia sebut sebagai "debu nuklir" dari fasilitas nuklir Iran yang rusak akibat serangan AS-Israel.

Trump mengklaim Iran tidak memiliki teknologi untuk melakukan hal tersebut.

Berbicara kepada Fox News, Trump mengatakan Washington masih ragu tentang bagaimana proses tersebut akan dilakukan, khususnya mengenai akses ke wilayah Iran.

“Para negosiator Iran memberi tahu kami bahwa Amerika harus mengambilnya dari fasilitas yang hancur karena mereka tidak memiliki teknologi yang diperlukan,” kata Trump, menurut kutipan yang ditayangkan oleh Fox News, Senin (11/5/2026).

“Mereka berkata, 'Anda harus menyingkirkan debu nuklir itu,'” tambahnya.

Sementara itu, Iran menegaskan tidak ada pemindahan uranium yang diperkaya ke negara lain, membantah klaim Presiden AS Donald Trump soal rencana pengambilalihan “debu nuklirIran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut stok uranium Iran “tidak akan dipindahkan ke mana pun” dan isu tersebut tidak pernah menjadi bagian negosiasi.

Teheran juga menegaskan program nuklirnya tetap berada di bawah kendali Iran sendiri, seperti diberitakan Ahram Online.

Baca juga: Trump Kepergok Angkut 13,5 Kg Uranium Venezuela, Publik Curiga AS Siapkan Agenda Nuklir Besar

Trump Ingin Lanjutkan Project Freedom di Selat Hormuz

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan operasi militer yang ia sebut sebagai “Proyek Kebebasan” atau “Project Freedom.”

Operasi tersebut sebelumnya diumumkan Trump sebagai misi untuk “membebaskan” kapal-kapal yang terjebak dan terganggu aktivitas pelayarannya di Selat Hormuz.

Namun, Trump menegaskan bahwa jika proyek itu kembali diluncurkan, skalanya akan jauh lebih besar dibanding sebelumnya dan tidak hanya berfokus pada pengawalan kapal dagang.

“Saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan kembali Project Freedom. Peran Amerika Serikat dalam mengawal kapal melalui Selat Hormuz hanya akan menjadi bagian kecil dari operasi militer yang lebih luas,” ujarnya.

Trump sebelumnya sempat menangguhkan operasi tersebut sekitar 48 jam setelah diumumkan. Penangguhan itu dilakukan untuk membuka ruang diplomasi dan memberi kesempatan bagi negosiasi damai dengan Iran.

Meski demikian, Trump mengaku kecewa terhadap respons Iran atas proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.

Ia bahkan menyebut tanggapan Teheran sebagai “proposal bodoh.”

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved