Kamis, 14 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Jelang Bertemu Xi Jinping, Trump Sesumbar: Tak Butuh Bantuan China di Perang Iran

Presiden AS, Donald Trump sesumbar menjelang pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping. Trump sebut tak butuh China untuk atasi perang Iran.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Presiden AS, Donald Trump sesumbar menjelang pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping di Beijing dalam acara pertemuan puncak KTT.
  • Dalam pernyataannya kepada awak media sebelum bertolak ke Beijing, Trump menyatakan keyakinannya bahwa AS mampu menangani situasi di Timur Tengah secara mandiri.
  • Trump menegaskan bahwa perang Iran tidak masuk ke dalam agenda pembahasannya dengan Xi.

TRIBUNNEWS.COM - Jelang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dengan Presiden China, Xi Jinping diwarnai pernyataan nyeleneh.

Diketahui, saat ini Trump telah tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) malam untuk menghadiri pertemuan puncak KTT.

Menjelang pertemuan keduanya, Trump sesumbar bahwa AS tidak membutuhkan China dalam menangani perang di Iran.

Dalam pernyataannya kepada awak media sebelum bertolak ke Beijing, Trump menyatakan keyakinannya bahwa AS mampu menangani situasi di Timur Tengah secara mandiri.

"Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran."

"Kita akan memenangkan ini dengan satu atau lain cara, baik secara damai maupun cara lainnya," ujar Trump, mengutip Reuters.

Trump menegaskan bahwa perang Iran tidak masuk ke dalam agenda pembahasannya dengan Xi.

Presiden AS itu sekali lagi yakin bahwa dirinya mampu mengatasi masalah Iran tanpa bantuan dari China.

"Kami memiliki banyak hal untuk didiskusikan, namun jujur saja, saya tidak akan memasukkan Iran ke dalam daftar utama karena kami telah mengendalikan Iran dengan sangat baik," tegasnya.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah meredupnya harapan akan kesepakatan damai yang permanen.

Meskipun gencatan senjata sementara telah berlangsung selama lebih dari satu bulan, belum ada kemajuan berarti dalam negosiasi formal.

Baca juga: 3 Poin Panas Jelang Pertemuan Trump dengan Xi Jinping di China, Iran Jadi Fokus Utama

Sementara itu, Teheran dilaporkan semakin memperketat kendalinya atas Selat Hormuz—jalur pelayaran vital yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia.

Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan negara-negara tetangga seperti Irak dan Pakistan untuk tetap mengalirkan ekspor minyak dan gas alam meskipun di bawah tekanan blokade AS dan sekutunya.

Taiwan jadi Isu Utama?

Peta kekuatan diplomasi antara AS dengan China tampak mengalami pergeseran signifikan.

Berbeda dengan periode pertamanya yang penuh konfrontasi tak terduga, kali ini Beijing diyakini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kokoh dalam membahas isu sensitif, yaitu Taiwan.

Para pengamat politik internasional menilai bahwa Trump kini berada dalam posisi "butuh" terhadap China.

Dengan agenda domestik yang padat dan pemilu akhir tahun yang kian dekat, Trump memerlukan stabilitas di kawasan Asia Timur untuk mengamankan poin politiknya.

Analis senior, Wu, mengungkapkan bahwa fokus Trump terhadap Taiwan telah memudar jika dibandingkan dengan masa jabatan pertamanya satu dekade lalu.

"China yang dihadapi Trump sekarang bukanlah China yang sama dengan sepuluh tahun lalu," jelas Wu kepada SCMP.

Menurutnya, Trump saat ini lebih memprioritaskan kesepakatan besar di bidang perdagangan, pengaturan tarif yang menguntungkan, serta kerja sama keamanan global — termasuk upaya meredam ketegangan di Timur Tengah.

Dalam skenario ini, Taiwan dipandang bukan lagi sebagai prioritas utama, melainkan bisa menjadi "kartu tawar" atau bahkan beban jika mengganggu agenda besar Washington.

Baca juga: Iran Dukung Proposal Empat Poin Xi Jinping Jelang Kunjungan Trump ke China

Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi pemerintah di Taipei.

Selama ini, Taiwan sangat bergantung pada dukungan militer dan diplomatik AS untuk menghadapi tekanan Beijing.

Namun, jika Trump memilih untuk bersikap pragmatis demi mencapai kesepakatan ekonomi dengan Xi, posisi Taiwan bisa terancam.

Wu menambahkan, jika dalam pertemuan mendatang Trump secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap gerakan kemerdekaan Taiwan, hal itu akan menjadi kemenangan diplomatik besar bagi Beijing.

"Dampaknya akan sangat positif bagi stabilitas hubungan lintas selat dari perspektif China, namun akan menjadi pukulan telak bagi partai berkuasa di Taiwan (DPP)," tambahnya.

Beijing tetap pada pendiriannya bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatannya.

Dengan kekuatan ekonomi dan militer China yang terus tumbuh pesat, ruang bagi gerakan kemerdekaan di pulau tersebut dinilai kian terjepit.

Selama hubungan AS-China tetap berada dalam jalur komunikasi yang normal, para analis meyakini bahwa Washington tidak akan mengambil risiko besar dengan membiarkan isu Taiwan merusak stabilitas ekonomi global yang sedang mereka coba bangun kembali bersama China.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved