Jumat, 15 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Netanyahu Diam-Diam Berkunjung ke UEA di Tengah Perang, UEA Membantah, Iran Keluarkan Peringatan

Netanyahu diklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang Iran, tetapi dibantah pemerintah UEA.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Tangkap layar YouTube IsraeliPM pada 6 April 2025
KUNJUNGAN NETANYAHU - PM Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan sambutan dari Hungaria sebelum berangkat ke AS, Minggu 6 April 2025. Netanyahu diklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang Iran, tetapi dibantah pemerintah UEA. 

Para pemimpin Israel juga beberapa kali melakukan kunjungan ke UEA sejak kedua negara menormalisasi hubungan diplomatik.

Peringatan Iran

Terkait isu kunjungan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengunggah pesan bernada sindiran di media sosial dalam bahasa Arab.

“Siapa pun yang berkhianat secara diam-diam akan terbongkar di depan umum," tulisnya, seperti dikutip Iran International.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh aktor-aktor regional yang tidak disebutkan namanya berkolusi dengan Israel dan memperingatkan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban.

JUBIR KEMENLU IRAN - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei saat berbicara di konferensi Pers pada tanggal 8 Oktober 2024. Pada hari Senin (3/2/2025) Esmail Baghaei menyampaikan apresiasi ke Donald Trump yang membekukan USAID yang selama ini dinilai mendanai pihak oposisi pemerintah yang berbasis di luar negeri
JUBIR KEMENLU IRAN - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei saat berbicara di konferensi Pers pada tanggal 8 Oktober 2024. (Dokumen Kementerlian Luar Negeri Iran di mfa.gov.ir)

Mengenal Abraham Accords atau Perjanjian Abraham

Abraham Accords adalah serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab (Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko) yang ditandatangani mulai 15 September 2020 dengan dukungan Amerika Serikat.

Mengutip Reuters, Jared Kushner, menantu Donald Trump, membantu menengahi kesepakatan itu.

Pejabat Palestina mengaku merasa dikhianati oleh negara-negara Arab tersebut karena menjalin hubungan dengan Israel tanpa terlebih dahulu menuntut kemajuan menuju pembentukan negara Palestina.

Bagi Israel, salah satu keuntungan terbesar dari kesepakatan itu adalah hubungan dengan Uni Emirat Arab, negara produsen minyak utama sekaligus pusat perdagangan dan bisnis berpengaruh di Timur Tengah.

Sejak saat itu, Israel dan UEA mengembangkan hubungan ekonomi serta keamanan yang erat, termasuk kerja sama pertahanan dan perjanjian perdagangan bebas.

Namun, hubungan tersebut belakangan dilaporkan mulai mengalami ketegangan.

UEA sempat memperingatkan Israel pada Agustus 2025 bahwa aneksasi wilayah Tepi Barat akan menjadi garis merah yang dapat merusak semangat Kesepakatan Abraham.

AS selama ini berharap momentum kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan ekonomi dapat memperluas Kesepakatan Abraham ke negara-negara Arab lain, terutama Arab Saudi.

Namun, Arab Saudi menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel tidak mungkin terjadi tanpa adanya jalan jelas menuju pembentukan negara Palestina.

Sikap tersebut ditolak oleh pemerintahan sayap kanan Israel yang disebut paling ekstrem dalam sejarah negara itu.

Sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, negara-negara Arab semakin menjauh dari Israel dan kemarahan publik di kawasan Arab terus meningkat.

Meski demikian, baik di bawah pemerintahan Joe Biden maupun Donald Trump setelah kembali menjabat, AS tetap mendorong pengakuan Arab yang lebih luas terhadap Israel sebagai bagian dari penyelesaian konflik regional di masa depan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved