Iran Vs Amerika Memanas
AS dan Iran Saling Lempar Ancaman, Trump Beri Batas Waktu Diplomasi, Teheran: Hadapi Rudal Kami!
Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah saling melempar ancaman satu sama lain. Diplomasi kembali menemui kebuntuan?
Ringkasan Berita:
- AS dan Iran dilaporkan telah saling melempar ancaman satu sama lain di tengah kebuntuan diplomasi di antara keduanya.
- Presiden AS, Donald Trump menegaskan jika Iran tidak segera mengajukan proposal perdamaian yang lebih masuk akal, Washington tidak akan ragu untuk meluncurkan gelombang serangan militer yang jauh lebih destruktif.
- Sementara Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei menyebut AS harus bersiap menerima rudal Teheran.
TRIBUNNEWS.COM - Genderang perang di Timur Tengah kembali terdengar, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melempar ancaman.
Presiden AS, Donald Trump baru saja melayangkan ancaman paling agresifnya terhadap rezim Teheran.
Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk berkompromi sudah hampir habis.
Jika Iran tidak segera mengajukan proposal perdamaian yang lebih masuk akal, Washington tidak akan ragu untuk meluncurkan gelombang serangan militer yang jauh lebih destruktif.
"Waktu terus berjalan bagi Iran," ujar Trump.
"Jika mereka tidak datang membawa tawaran kesepakatan yang lebih baik, mereka akan dihantam dengan jauh lebih keras!" tegasnya.
Sebelumnya, rencana gencatan senjata yang sempat diupayakan lewat jalur diplomasi Pakistan dikabarkan telah mati suri atau berada dalam kondisi kritis.
Hubungan kedua negara kian memburuk setelah Gedung Putih secara tegas menolak draf kesepakatan dari Iran yang dinilai "tidak pantas".
Pihak Teheran melalui media pemerintahnya meminta AS menghapus seluruh sanksi ekonomi, mencairkan aset yang dibekukan, serta menghentikan blokade laut di Selat Hormuz secara instan sebelum negosiasi dimulai.
Di sisi lain, Iran sama sekali tidak menawarkan konsesi apa pun terkait program nuklir mereka—sebuah sikap yang membuat Trump meradang.
"Saya tidak suka surat (tanggapan) mereka. Sangat tidak pantas," ucap Trump saat menolak mentah-mentah penawaran tersebut.
Baca juga: Media Israel: Mesir Perkuat Perisai Udara Arab Saudi, UEA, dan Kuwait di Tengah Ancaman Iran
Guna merumuskan langkah taktis selanjutnya, Trump dijadwalkan memimpin rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Selasa (19/5/2026) besok bersama tim keamanan nasionalnya.
Dua pejabat senior AS membocorkan bahwa militer telah menyiapkan cetak biru operasi yang sangat masif jika diplomasi benar-benar buntu.
Berbeda dengan serangan-serangan terbatas sebelumnya, opsi militer kali ini dirancang untuk melumpuhkan urat nadi perekonomian Iran secara total.
Para analis politik internasional menilai bahwa manuver Trump yang tidak dapat diprediksi ini sengaja dilakukan sebagai strategi perang urat syaraf.
Trump sengaja membiarkan publik dan musuh meraba-raba apakah ia akan memilih diplomasi "Tekanan Maksimum" atau benar-benar menekan tombol serangan udara skala penuh.
Ancaman dari Iran
Sementara itu, Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei menyampaikan pernyataan keras kepada AS.
Rezaei memberikan pilihan mutlak kepada pemerintah Washington dalam menentukan arah hubungan bilateral kedua negara.
Dalam keterangan resminya yang dirilis oleh WANA News Agency, Rezaei menegaskan bahwa AS kini berada di persimpangan jalan dan harus memilih antara berkompromi melalui jalur diplomatik resmi atau berhadapan langsung dengan kekuatan militer Teheran.
"Amerika Serikat harus menerima syarat-syarat dari Republik Islam Iran dan tunduk kepada para diplomat kami."
"Jika tidak, Iran akan bernegosiasi dari posisi yang jauh lebih kuat, dan mereka terpaksa harus tunduk kepada rudal-rudal kami," tegas Rezaei.
Baca juga: Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz
Pernyataan ini mencerminkan sikap keras Teheran di tengah mandeknya proses negosiasi dan meningkatnya tekanan blokade serta ancaman keamanan di wilayah Teluk.
Pihak legislatif Iran menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa negara tersebut tidak akan melonggarkan ataupun membatalkan satu pun dari prasyarat mendasar yang telah mereka tetapkan di meja perundingan.
Rezaei juga menambahkan bahwa Teheran saat ini berada dalam posisi siap secara taktis dan strategi pertahanan.
Ultimatum ini secara tidak langsung mengirimkan pesan kepada sekutu-sekutu Washington di kawasan Timur Tengah bahwa Iran tidak akan ragu memanfaatkan kapabilitas persenjataan dan teknologi rudal balistiknya jika jalur diplomasi dinilai menemui jalan buntu akibat pemaksaan kehendak oleh pihak luar.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.