Iran Vs Amerika Memanas
Iran Terima Tanggapan AS, Washington Ogah Turuti Permintaan Teheran
Iran menerima tanggapan dari AS terhadap proposal yang diajukan sebelumnya. Washington menolak tuntutan Teheran dalam proposal tersebut.
Ringkasan Berita:
- Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat masih berlangsung melalui mediasi Pakistan meski Washington menolak proposal terbaru Teheran.
- Iran meminta pencabutan sanksi, pencairan dana yang dibekukan, dan pengakuan hak pengayaan uranium, namun menolak memindahkan uranium ke AS.
- Sementara itu, Donald Trump mengklaim Iran sangat ingin menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang.
- Negosiasi masih buntu karena kedua pihak tetap mempertahankan tuntutannya masing-masing.
TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan tetap melanjutkan komunikasi dengan Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan.
Teheran mengatakan Washington disebut menolak proposal terbarunya terkait upaya mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengatakan negaranya telah menerima sejumlah tanggapan dari pihak Amerika melalui mediator Pakistan.
“Meskipun Washington menolak proposal kami, kami menerima sejumlah tanggapan Amerika melalui mediator Pakistan,” ujar Baghaei pada Senin (18/5/2026).
Menurut Iran, proposal yang diajukan Teheran mencakup pencabutan seluruh sanksi Barat, pencairan aset dan dana Iran yang dibekukan di luar negeri, serta pengakuan atas hak Iran untuk memperkaya uranium.
Namun, Iran menolak tuntutan Amerika Serikat agar sekitar 400 kilogram uranium yang sangat diperkaya dipindahkan ke AS.
Teheran juga menolak pembatasan yang hanya mengizinkan satu fasilitas nuklir Iran tetap beroperasi.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat disebut hanya bersedia mencairkan maksimal 25 persen dana Iran yang dibekukan dan menolak memberikan kompensasi atas kerusakan akibat serangan terhadap wilayah Iran selama perang berlangsung.
Iran juga bersikeras agar situasi di Selat Hormuz tidak kembali seperti sebelum konflik pecah, sambil terus membangun mekanisme baru bersama Oman untuk menjaga jalur pelayaran penting tersebut tetap berjalan.
“Amerika Serikat dan Israel adalah ancaman bagi kawasan ini,” kata Baghaei meskipun Iran mengaku tidak memiliki permusuhan dengan negara-negara tetangganya.
Ia juga menyebut para ahli Iran dan Oman telah melakukan pertemuan untuk membahas mekanisme transit baru di Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir mengalami gangguan besar akibat konflik, seperti diberitakan Al Arabiya.
Baca juga: Iran dan Oman Rancang Mekanisme Transit Baru untuk Selat Hormuz
Trump Mengklaim Iran "Sangat Ingin" Mencapai Kesepakatan
Di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menilai Iran sangat ingin mencapai kesepakatan.
Dalam wawancara dengan majalah Fortune, Trump mengatakan bahwa “pihak Iran sangat ingin menandatangani perjanjian” guna mengakhiri perang. Ia bahkan menyebut “orang Iran menjerit karena dampak perang” dan menuduh Teheran terus mengubah syarat dalam pembicaraan.
Trump juga mengeluarkan peringatan keras kepada Iran melalui platform Truth Social.
“Mereka sebaiknya bertindak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulisnya.
Pernyataan itu muncul setelah sumber dari Pakistan mengungkap bahwa proposal revisi dari Iran telah dikirimkan kepada pemerintah AS, sementara kedua negara disebut masih terus mengubah syarat dalam proses negosiasi.
Meski komunikasi diplomatik masih berjalan melalui Pakistan, hingga kini belum ada titik temu antara kedua pihak.
Iran menilai Amerika Serikat tidak mau memberikan konsesi penting, sementara Washington tetap mempertahankan tuntutannya terkait program nuklir Iran dan pembatasan fasilitas nuklir Teheran.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran. Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Teheran.
Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kebutuhan energi dan riset sipil.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kepemimpinan Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga menghentikan pembicaraan nuklir serta memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia, sehingga memicu gangguan pasokan energi global dan kenaikan harga minyak internasional.
Setelah konflik berlangsung sekitar 40 hari, kedua pihak akhirnya menyetujui gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat sempat menjalankan operasi militer bernama “Project Freedom” di Selat Hormuz. Namun, operasi itu kemudian dihentikan sementara demi memberi kesempatan bagi jalur diplomasi.
Meski begitu, proses negosiasi kembali menemui jalan buntu pada 10–11 Mei setelah Iran menolak proposal terbaru dari pemerintahan Donald Trump. Salah satu hambatan utama adalah tuntutan Amerika Serikat dan Israel agar cadangan uranium Iran dipindahkan ke luar negeri.
Iran menolak syarat tersebut karena dinilai bertentangan dengan kedaulatan nasionalnya. Hingga kini, pembicaraan damai masih belum menemukan titik temu karena masing-masing pihak tetap mempertahankan tuntutan dan posisinya masing-masing.
Setelah pembicaraan Trump dan Xi Jinping di China pada hari Kamis, Presiden AS mengatakan Xi setuju untuk tidak memberikan peralatan militer kepada Iran, menentang militerisasi di Selat Hormuz, dan sepakat untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, seperti diberitakan Al Jazeera.
Pada 18 Mei, Iran mengatakan telah menerima tanggapan AS terkait proposal yang diajukan Iran sebelumnya, namun tanggapan tersebut berisi penolakan.
Sementara Trump mengklaim bahwa Iran sangat ingin menandatangani perjanjian dengan AS.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ism4il-B4gh4ei-453223.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.