PM Jepang Sanae Takaichi Bantah Terlibat Video Serangan Politik terhadap Kandidat Lain
PM Jepang Sanae Takaichi membantah tuduhan kubunya membuat video fitnah politik jelang pemilihan ketua LDP
Ringkasan Berita:
- PM Jepang Sanae Takaichi membantah tudingan bahwa kubunya membuat video fitnah terhadap kandidat lain dalam pemilihan ketua LDP
- Tuduhan muncul setelah seorang pria mengaku berkomunikasi dengan sekretaris kantor Takaichi saat membuat video tersebut
- Kasus ini memicu sorotan publik terhadap penggunaan media sosial dalam politik Jepang
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Popularitas Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tetap tinggi meski telah lebih dari enam bulan menjabat.
Namun di tengah tingginya dukungan publik, muncul tudingan yang menyerang dirinya melalui media sosial.
Takaichi membantah laporan media yang menyebut kubunya membuat video untuk menyerang kandidat lain dalam pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal Jepang.
Dalam pernyataannya pada Selasa (19/5/2026), ia menegaskan kantor maupun timnya tidak pernah membuat atau menyebarkan video berisi fitnah terhadap kandidat lain.
“Kantor kami sama sekali tidak pernah membuat video ataupun menyebarkan konten yang memfitnah kandidat lain,” ujar Takaichi.
Pernyataan itu muncul setelah beredar laporan mengenai dugaan keterlibatan kubu Takaichi dalam penyebaran video bernada serangan politik saat pemilihan ketua LDP berlangsung.
Baca juga: PM Jepang, Sanae Takaichi: Keamanan Kian Ketat, Jepang Tetap Pegang Prinsip Negara Damai
Di sisi lain, seorang pria yang disebut terlibat dalam pembuatan video tersebut tampil dalam sebuah program internet pada 18 Mei 2026.
Ia mengklaim sempat berkomunikasi dengan sekretaris kantor Takaichi selama proses pembuatan dan penyebaran video itu.
Menanggapi klaim tersebut, Takaichi mengatakan dirinya maupun sekretarisnya tidak pernah bertemu langsung dengan pria tersebut.
Saat ditanya kemungkinan adanya komunikasi secara daring antara pria itu dan staf sekretarisnya, Takaichi mengaku tidak mengetahui hal tersebut.
Kasus ini memicu perhatian publik Jepang di tengah meningkatnya sorotan terhadap penggunaan media sosial dan video kampanye dalam dunia politik Jepang.
Pengamat politik menilai isu tersebut berpotensi memengaruhi citra pemerintahan Takaichi, terutama menjelang sejumlah agenda politik penting di Jepang tahun ini.
“Ini mungkin sisi buruk masyarakat Jepang. Ada yang tidak bisa melihat wanita sukses dan populer terus menjadi PM Jepang. Akibatnya muncul fitnah melalui media sosial. Kita lihat saja nanti apakah kasus ini sampai ke pengadilan atau tidak,” ujar seorang politisi senior Jepang kepada Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sanae-Takaichi-122222.jpg)