Sabtu, 23 Mei 2026

Rekor Pecah, 274 Pendaki Taklukkan Puncak Gunung Everest dalam Sehari

Rekor fantastis terjadi setelah 274 pendaki Gunung Everest berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia tersebut hanya dalam waktu satu hari. 

Tayang:
Penulis: Bobby W
Editor: Tiara Shelavie
Instagram/gelje_sherpa_
PENDAKIAN EVEREST - Ilustrasi seorang Sherpa pemandu Gunung Everest, Gelje Sherpa dari Nepal saat mengevakuasi seorang pendaki Malaysia pada 18 Mei 2023. Rekor fantastis terjadi pada Rabu (20/5/2026) di mana 274 pendaki berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia tersebut hanya dalam waktu satu hari.  
Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 274 pendaki memecahkan rekor dunia setelah berhasil menaklukkan puncak Gunung Everest dalam waktu satu hari (Rabu, 20 Mei 2026) melalui rute selatan di Nepal karena memanfaatkan jendela cuaca cerah
  • Lonjakan jumlah pendaki di rute Nepal terjadi karena otoritas China menutup total jalur pendakian dari rute utara (Tibet),sehingga seluruh aktivitas pendakian menumpuk di satu sisi
  • Pendaki veteran Kami Rita Sherpa juga memperbarui rekor dunia dengan mencapai puncak Everest untuk ke-32 kalinya

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah rekor menarik berhasil dipecahkan dalam sejarah pendakian puncak Gunung Everest.

Hal ini terjadi setelah 274 pendaki berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia tersebut hanya dalam waktu satu hari. 

Angka fantastis ini menjadi rekor tertinggi untuk jumlah pendaki yang sukses mencapai puncak dari rute selatan di Nepal dalam waktu sesingkat itu.

Adapun rekor ini terjadi karena banyaknya para pendaki yang memanfaatkan jendela cuaca cerah yang langka pada Rabu waktu setempat (20/5/2026).

Hal ini diutarakan oleh Rishi Ram Bhandari dari Expedition Operators Association Nepal (Asosiasi Operator Ekspedisi Nepal) mengonfirmasi bahwa kondisi cuaca pada hari itu memang sangat mendukung.

"Ini adalah jumlah pendaki tertinggi yang mencapai puncak dalam satu hari dari rute populer di sisi selatan yang terletak di Nepal," ungkapnya seperti yang dilansir dari NBC News.

Sebagai informasi, gunung setinggi 8.848,86 meter ini memiliki dua jalur utama pendakian.

Dari rute selatan, pendakian dapat dilalui melalui Nepal sedankan rute utara melalui wilayah Tibet, China.

Sebelumnya, pada 22 Mei 2019, tercatat ada 223 pendaki dari sisi Nepal dan 113 dari sisi China yang mencapai puncak.

Namun, tahun ini otoritas China menutup total rute utara.

Akibatnya, seluruh aktivitas pendakian menumpuk di Nepal, yang akhirnya memicu lonjakan jumlah pendaki di rute selatan.

Baca juga: Ramai Isu Pesugihan Gunung Kawi, Sarwendah Posting Kalimat Bernada Sindiran Singgung Ketenaran Nama

Awal musim pendakian Everest tahun ini sebenarnya sempat tertunda akibat tingginya risiko dari serac atau bongkahan es raksasa yang menggantung di sepanjang jalur kunci menuju puncak.

Meski berbahaya, sekitar 494 pendaki beserta pemandu diperkirakan akan tetap mencoba peruntungan mereka hingga akhir Mei 2026, sebelum musim pendakian resmi ditutup.

Sherpa Setempat Ikut Pecahkan Rekor

Sebelum rekor harian tersebut pecah, pekan ini juga diwarnai oleh pencapaian luar biasa dari para pendaki Sherpa.

Sherpa sendiri adalah suku asli yang tinggal di pegunungan tinggi Nepal.

Karena sudah terbiasa dengan kadar oksigen yang tipis sejak lahir, mereka memiliki ketangguhan fisik yang luar biasa di dataran tinggi.

Dalam industri mendaki gunung, kata "Sherpa" juga digunakan sebagai profesi pemandu lokal, pembuka jalur, dan pemikul logistik yang menjadi kunci keselamatan para pendaki asing.

Di kategori ini, sosok pendaki veteran Kami Rita Sherpa menjadi sosok yang memcahkan rekor.

Kami Rita Sherpa berhasil menapakkan kaki di puncak Everest untuk yang ke-32 kalinya, memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri.

Di posisi kedua, ada sosok rekan terdekatnya yakni Pasang Dawa Sherpa, yang memiliki catatan 30 kali mencapai puncak Gunung Everest.

Sementara itu, Lakpa Sherpa sukses menuntaskan pendakiannya yang ke-11, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pendaki perempuan dengan rekor puncak Everest terbanyak di dunia.

Kami Rita Sherpa, yang kini dijuluki sebagai "Everest Man", pertama kali menaklukkan puncak ini pada tahun 1994.

Prestasinya yang luar biasa bukan cuma modal nekat atau kekuatan fisik semata, melainkan karena pengetahuan mendalamnya tentang medan gunung yang terkenal mematikan.

Sejarah Panjang Pendakian Everest

Sejak pertama kali ditaklukkan pada 29 Mei 1953 oleh Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dengan Tenzing Norgay Sherpa asal Nepal, Everest telah memikat hati ribuan petualang.

Hingga akhir tahun 2025, tercatat sudah ada lebih dari 13.700 kali pendakian sukses yang dilakukan oleh sekitar 7.500 pendaki individu, dengan tingkat keberhasilan rata-rata sekitar 43 persen.

Baca juga: Deretan Peristiwa Gunung Meletus Besar di Indonesia, Erupsi Gunung Tambora 1815 Berdampak pada Dunia

Jalur Nepal tetap menjadi primadona karena menyumbang 62 persen dari total lalu lintas pendakian sepanjang sejarah.

Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak main-main.

Pendaki harus merogoh kocek mulai dari Rp 354 juta hingga Rp 885 juta lebih per orang.

Biaya ini sudah mencakup izin pendakian resmi dari pemerintah, jasa pemandu, dan kebutuhan logistik.

Namun, harga mahal ini terbukti tidak menyurutkan minat. Buktinya, izin pendakian musim semi 2026 mencetak rekor baru dengan terbitnya 492 izin resmi.

Everest Alami Overtourism

Di balik gemerlap rekor baru ini, tersimpan kekhawatiran besar mengenai kondisi overtourism atau kedatangan turis yang berlebihan di kawasan Gunung Everest.

Akibat fenomena ini, risiko overcrowding atau kemacetan parah di jalur pendakian yang sempit pun kian membesar.

Kondisi ini sangat berbahaya, terutama saat pendakian berlangsung di wilayah death zone atau zona kematian.

Istilah ini digunakan untuk menamai wilayah di atas ketinggian 8.000 meter di mana kadar oksigen sangat menipis dan tubuh manusia mulai sekarat secara biologis.

Antrean panjang di zona ini bisa berakibat fatal karena meningkatkan risiko hipotermia, kelelahan ekstrem, dan kehabisan tabung oksigen darurat. 

Selain keselamatan nyawa, masalah penumpukan sampah di base camp dan sepanjang jalur pendakian juga menjadi isu lingkungan akut yang terus disorot.

Pihak berwenang Nepal kini terus menggodok regulasi yang lebih ketat, seperti kewajiban menyertakan sertifikat pengalaman mendaki gunung lain sebelum ke Everest, serta keharusan menggunakan jasa Sherpa profesional.

Pada akhirnya, rekor 274 pendaki dalam sehari ini bukan sekadar pamer kekuatan manusia melawan alam.

Momen ini menjadi bukti pentingnya kesiapan fisik yang matang, akurasi teknologi prediksi cuaca modern, serta peran krusial komunitas Sherpa lokal yang menjadi roda penggerak ekonomi utama bagi sektor pariwisata Nepal.

(Tribunnews.com/Bobby)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved