Selasa, 2 Juni 2026

Ledakan Tambang Batu Bara China Tewaskan 82 Orang, Dugaan Pelanggaran dan Keselamatan Disorot Keras

Ledakan tambang di China tewaskan 82 orang, terburuk dalam 10 tahun, picu sorotan pelanggaran keselamatan dan peta bawah tanah “palsu”

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, China, menewaskan sedikitnya 82 orang dan menjadi bencana tambang paling mematikan dalam lebih dari satu dekade.
  • Proses evakuasi berlangsung kacau akibat peta bawah tanah yang tidak sesuai kondisi nyata serta dugaan pekerja yang tidak terdata resmi.
  • Pemerintah China menyelidiki dugaan pelanggaran hukum serius dan lemahnya sistem keselamatan yang memperburuk skala tragedi.

 

TRIBUNNEWS.COM - Ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, menewaskan sedikitnya 82 orang dan menjadi bencana pertambangan paling mematikan di negara itu dalam lebih dari satu dekade.

Kecelakaan besar ini terjadi di wilayah pertambangan utama China utara dan langsung memicu operasi penyelamatan berskala besar yang masih berlangsung.

ratusan petugas dikerahkan ke lokasi yang dipenuhi gas beracun, air, dan reruntuhan.

Dikutip dari CNN, ledakan terjadi sekitar 300 meter di bawah tanah dan membuat kondisi tambang berubah menjadi kacau, termasuk kesalahan data peta bawah tanah yang memperburuk proses evakuasi.

“Setelah kecelakaan itu, lokasi kejadian menjadi kacau,” kata pejabat wilayah Qinyuan, seperti dikutip media pemerintah China.

Kondisi tersebut membuat tim penyelamat tidak bisa mengandalkan peta resmi yang disediakan perusahaan, karena tidak sesuai dengan kondisi nyata di bawah tanah.

Akibatnya, pencarian korban harus dilakukan secara menyeluruh di seluruh terowongan, bukan titik tertentu.

Baca juga: Tim Penyelamat Kerahkan Robot Inspeksi di Ledakan Tambang Batu bara Bawah Tanah China

Seorang pejabat darurat setempat menyebut situasi semakin berbahaya karena adanya risiko gas beracun yang masih tinggi.

“Selama operasi penyelamatan, gas beracun dan berbahaya telah melebihi batas untuk waktu yang lama, dan ada risiko bencana sekunder,” ujar pejabat biro darurat Changzhi, dikutip dari Xinhua.

Media pemerintah China juga mengungkap bahwa hampir 250 pekerja berada di bawah tanah saat ledakan terjadi, namun sebagian tidak terdata secara resmi, sehingga jumlah korban awal sempat simpang siur.

Seorang pejabat lokal bahkan mengakui adanya masalah serius dalam pendataan pekerja.

“Perusahaan tidak dapat memberikan jumlah pasti pekerja di lokasi,” katanya dalam konferensi pers.

Di sisi lain, investigasi awal pemerintah China menemukan dugaan pelanggaran hukum serius oleh perusahaan tambang yang mengelola lokasi tersebut.

“Penilaian awal menunjukkan pelanggaran hukum besar oleh perusahaan yang terlibat,” kata Walikota Changzhi Chen Xiaoyang, seperti dilaporkan CCTV.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved