Iran Vs Amerika Memanas
Perang Belum Usai! Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Masih Sulit Tercapai
Iran akui negosiasi dengan AS mulai maju, tapi perdamaian masih jauh. Selat Hormuz dan sanksi jadi taruhan besar Timur Tengah.
Ringkasan Berita:
- Iran akui negosiasi dengan AS mengalami kemajuan tapi kesepakatan damai belum dekat, banyak isu utama sudah menemukan titik temu.
- Pembahasan negosiasi mencakup penghentian konflik kawasan, keamanan Selat Hormuz, dan pencabutan blokade pelabuhan Iran. Namun isu program nuklir Iran sengaja belum dibahas pada tahap awal perundingan.
- Donald Trump disebut ingin memastikan kesepakatan benar-benar menguntungkan AS dan menjaga stabilitas Timur Tengah sebelum sanksi terhadap Iran dilonggarkan.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran mengungkap adanya perkembangan penting dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri konflik yang memanas sejak akhir Februari lalu.
Meski demikian, Teheran menegaskan kesepakatan final antara kedua negara belum akan tercapai dalam waktu dekat.
Hal itu diungkap langsung oleh Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, yang mengatakan Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepahaman dalam banyak isu utama yang dibahas dalam proses negosiasi.
“Memang benar bahwa kita telah mencapai kesimpulan mengenai sebagian besar isu yang dibahas,” ujar Baqaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran, mengutip dari SBS News.
Namun, ia menegaskan, perkembangan tersebut tidak berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat. Menurutnya, masih ada sejumlah perbedaan yang harus diselesaikan sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan resmi.
“Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa perjanjian akan segera ditandatangani,” katanya sambil menuding Washington masih menunjukkan sikap yang berubah-ubah dalam proses negosiasi.
Iran dan AS Bahas Kerangka Kerja 14 Poin
Pernyataan Iran tersebut muncul setelah pemerintah Teheran mengonfirmasi pembicaraan saat ini difokuskan pada penyusunan kerangka kerja 14 poin untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat yang pecah pada 28 Februari lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pembahasan antara Teheran dan Washington kini memasuki tahap penting dengan fokus utama menghentikan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Baqaei, kerangka kerja yang sedang disusun tidak hanya membahas konflik antara Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga mencakup situasi keamanan regional.
Baca juga: AS-Iran Semakin Dekat Akhiri Perang, tapi Ada Poin-poin Penting Jadi Kendala, Termasuk Selat Hormuz
Termasuk pengaturan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia yang selama ini berada di bawah kontrol Iran sejak konflik pecah.
Iran menegaskan, penghentian blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menjadi syarat penting dalam kesepakatan.
Sebagai imbalannya, Teheran menyatakan siap mengambil langkah untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
“Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk transit yang aman di Selat Hormuz,” kata Baqaei.
Selama konflik berlangsung, Iran hanya mengizinkan sejumlah kapal melintasi selat tersebut dengan persetujuan angkatan bersenjata Iran. Situasi itu sempat memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Iran juga membantah tuduhan mereka memungut tol dari kapal asing yang melintas. Pemerintah Iran menyebut biaya yang dikenakan hanya untuk layanan navigasi dan perlindungan lingkungan di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Meski demikian, Baqaei menegaskan isu program nuklir Iran belum dimasukkan ke dalam pembahasan utama dalam tahap awal negosiasi.
Pemerintah Iran menyebut persoalan nuklir baru akan dibahas setelah kedua pihak mencapai kesepakatan mengenai kerangka dasar perdamaian dan penghentian konflik.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Teheran untuk memisahkan isu keamanan kawasan dari program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan dengan Washington dan negara-negara Barat.
AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi terhadap Iran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meminta tim negosiatornya agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan dengan Iran.
Trump ingin memastikan setiap poin dalam perjanjian benar-benar menguntungkan kepentingan Amerika Serikat serta mampu menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.
Pemerintah AS juga disebut berhati-hati dalam mempertimbangkan kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari kesepakatan untuk meredakan konflik dan membuka kembali jalur perdagangan internasional yang terganggu akibat perang.
Meski demikian, Washington dikabarkan tetap ingin memastikan Iran memenuhi sejumlah syarat keamanan sebelum kebijakan pelonggaran sanksi benar-benar diterapkan.
Perkembangan negosiasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai dapat menentukan arah konflik di Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.
Selain berdampak pada hubungan diplomatik kedua negara, hasil pembicaraan juga dinilai berpengaruh terhadap keamanan global, stabilitas pasar energi dunia, hingga kelancaran distribusi minyak melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Pengamat internasional menilai keberhasilan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menurunkan ketegangan kawasan.
Namun jika negosiasi gagal mencapai titik temu, konflik dikhawatirkan kembali meningkat dan memicu ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.