Kamis, 28 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei: AS Tak Selamanya Punya 'Tameng' di Timur Tengah

Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei mengatakan AS tak punya tempat aman di Timur Tengah dan menyerukan kepada negara Arab untuk mendukung Iran.

Tayang:
Tangkapan Layar
PEMIMPIN IRAN - Potret Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang diunggah situs berita resmi milik pemerintah Iran, PressTV. Pada 26 Mei 2026, Mojtaba Khamenei mengatakan AS tak punya tempat aman di Timur Tengah dan menyerukan kepada negara Arab untuk bersatu mendukung Iran. 
Ringkasan Berita:
  • Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan AS tidak lagi memiliki tempat aman di Timur Tengah dan menyerukan persatuan negara-negara Islam.
  • Iran juga membantah laporan bahwa Khamenei terluka parah akibat serangan AS-Israel, dengan menyebut lukanya hanya ringan.
  • Delegasi Iran menggelar pembicaraan di Doha terkait perang, Selat Hormuz, dan dana Iran yang dibekukan.
  • Sementara AS menyebut negosiasi masih berlangsung dan belum ada kepastian damai dalam waktu dekat.

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi memiliki tempat aman di Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui saluran Telegram resmi dan televisi pemerintah Iran pada Selasa, Khamenei mengatakan negara-negara di kawasan tidak akan terus menjadi “tameng” bagi pangkalan militer AS.

Ia menilai pengaruh Washington di Timur Tengah semakin melemah, sementara negara-negara Islam mulai bergerak menuju tatanan regional baru yang lebih mandiri.

"Waktu tidak akan diputar mundur, dan rakyat serta tanah di kawasan ini tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan-pangkalan Amerika," kata Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya, Selasa (26/5/2026).

Khamenei juga menyerukan agar negara-negara Islam memperkuat kerja sama dan persatuan untuk menghadapi tantangan kawasan.

“Saya dengan tulus dan jujur ​​menyerukan kepada semua negara dan pemerintah Islam untuk berteman dan bekerja sama," lanjutnya.

Menurutnya, rakyat dan pemerintah di Timur Tengah memiliki kepentingan bersama yang bisa menjadi dasar pembentukan stabilitas baru tanpa dominasi kekuatan asing.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan slogan “Matilah Amerika dan Matilah Israel” masih akan terus digaungkan di Iran dan di kalangan kelompok yang menentang kebijakan Barat di kawasan, seperti diberitakan Al Jazeera.

Iran Sebut Mojtaba Khamenei Hanya Luka Ringan

Keberadaan Mojtaba Khamenei masih dirahasiakan oleh Iran, sementara AS yakin bahwa Pemimpin Tertinggi Iran itu mengalami luka yang parah.

Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei hanya mengalami luka ringan akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Baca juga: AS Kembali Serang Iran, Targetkan Lokasi Peluncuran Rudal, Bagaimana Nasib Gencatan Senjata?

Cedera tersebut disebut berupa luka dangkal di wajah, kepala, dan kaki sehingga hanya membutuhkan jahitan ringan tanpa operasi besar.

"Dari sudut pandang saya sebagai dokter, cedera ini tidak serius dan hanya membutuhkan satu atau dua jahitan," kata pejabat tersebut.

Menurut laporan media Iran, juru bicara Kementerian Kesehatan Hossein Kermanpour mengatakan Mojtaba Khamenei sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum meninggalkan lokasi pada 1 Maret.

Sejak pecahnya perang, Mojtaba Khamenei belum muncul di depan publik dan hanya menyampaikan pesan tertulis bahkan setelah ia terpilih menggantikan posisi ayahnya.

Hal ini memicu spekulasi soal kondisi kesehatan dan keberadaannya, seperti diberitakan Al Arabiya.

Media AS melaporkan putra mendiang Ali Khamenei itu kini berada di lokasi rahasia dengan pengamanan ketat untuk menghindari serangan lanjutan.

Para pejabat AS menyebut komunikasi dengan dirinya sangat terbatas dan hanya dilakukan melalui jaringan kurir khusus, sehingga memperlambat proses pengambilan keputusan pemerintah Iran terkait negosiasi dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Meski demikian, sejumlah pejabat Iran dilaporkan masih dapat bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei untuk menerima arahan terkait situasi perang dan kebijakan negara.

Delegasi Iran Pergi ke Qatar

Pernyataan keras tersebut muncul di tengah upaya diplomatik Iran dan Amerika Serikat untuk membahas kemungkinan kesepakatan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Pada hari Senin, delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dilaporkan tiba di Doha guna menggelar pembicaraan dengan pejabat Qatar terkait isu Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Kantor berita Tasnim melaporkan pada hari Selasa, kunjungan Ketua Parlemen dan kepala negosiator Mohammad Baqer Qalibaf ke ibu kota Qatar, Doha, "secara umum berjalan baik" dan menghasilkan kemajuan dalam pembicaraan dengan Amerika.

Laporan Reuters menyebutkan tujuan kunjungan tersebut untuk membahas negosiasi penghentian perang serta tuntutan Iran terkait pencairan dana mereka yang dibekukan di luar negeri.

Menurut kantor berita resmi IRNA, pembicaraan itu dilakukan bersama pejabat senior Qatar dalam jalur diplomatik yang dimediasi Pakistan.

Di tengah perundingan tersebut, pejabat keamanan Iran Mohammad Baqer Zolghadr menegaskan Iran tidak akan mundur dan meminta seluruh pihak menjaga persatuan nasional.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi dengan Iran kemungkinan masih memerlukan beberapa hari, sehingga peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat dinilai belum pasti.

Rubio menyebut Washington masih memberi kesempatan bagi jalur diplomasi, meski menegaskan AS siap mengambil langkah lain jika perundingan gagal.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran hanya akan terjadi jika benar-benar menguntungkan Amerika Serikat dan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru. AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, namun Teheran menegaskan programnya hanya untuk energi dan riset sipil.

Ketegangan semakin meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan awal, dan posisinya disebut digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, serta memperketat pengawasan di Selat Hormuz yang berdampak pada gangguan distribusi energi global.

Setelah hampir 40 hari pertempuran, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan damai masih berjalan sulit, terutama terkait tuntutan AS mengenai uranium Iran dan kebijakan di Selat Hormuz.

Di tengah proses diplomasi, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan ke Teheran untuk melanjutkan mediasi, sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan situasi masih sangat kritis dan mengancam akan melancarkan serangan baru jika tidak ada respons yang dianggap memadai, seperti diberitakan Al Jazeera.

Saat ini, Qatar ikut mengambil peran lebih aktif, terutama karena pembicaraan mulai masuk ke isu teknis dan ekonomi mengenai tuntutan Iran untuk pencairan dana Iran yang dibekukan.

Selain itu, kunjungan delegasi Iran ke Qatar juga membahas pembukaan kembali Selat Hormuz dan uranium Iran yang menjadi tuntutan AS.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved