Sumatera Blackout
Usai Blackout Sumatera, Kini Warga AS Dilanda Blackout Massal Dua Kali dalam Sepekan
Blackout melanda Kepulauan Virgin AS dua kali sepekan, puluhan ribu warga terdampak, sistem listrik tua dinilai tak andal.
Ringkasan Berita:
- Kepulauan Virgin AS alami blackout dua kali dalam satu akhir pekan, memengaruhi puluhan ribu warga St. Thomas dan St. John.
- WAPA menyebut hilangnya kapasitas pembangkit jadi pemicu.
- Infrastruktur tua, badai, dan minim energi terbarukan memperburuk kondisi. Publik mendesak perbaikan sistem listrik
TRIBUNNEWS.COM - Pemadaman listrik total atau blackout tidak hanya terjadi di Indonesia.
Wilayah Amerika Serikat juga mengalami gangguan serupa setelah dua pulau di Kepulauan Virgin AS, yakni St. Thomas dan St. John, mengalami pemadaman listrik total sebanyak dua kali dalam satu akhir pekan.
Warga AS Dilanda Blackout Massal Dua Kali dalam Sepekan
Blackout terbaru terjadi pada Minggu (31/5/2026) dini hari waktu setempat.
Insiden ini menjadi pemadaman kedua dalam akhir pekan yang sama di tengah meningkatnya frekuensi gangguan listrik yang dialami wilayah teritori Amerika Serikat tersebut.
Otoritas Air dan Listrik Kepulauan Virgin (Virgin Islands Water and Power Authority/WAPA) menyatakan bahwa pemadaman disebabkan oleh hilangnya kapasitas pembangkit listrik di salah satu fasilitas pembangkit utama.
Pemadaman pertama terjadi pada Sabtu malam.
Meskipun petugas berhasil memulihkan pasokan listrik sepanjang malam, blackout kembali terjadi hanya beberapa jam kemudian.
St. Thomas, pulau utama di wilayah tersebut, dihuni lebih dari 42.000 penduduk.
Sementara itu, sekitar 4.000 orang lainnya tinggal di St. John, sehingga puluhan ribu warga terdampak gangguan listrik berulang tersebut.
Pemadaman Listrik Sering Terjadi
Dalam beberapa tahun terakhir, pemadaman listrik semakin sering terjadi di Kepulauan Virgin AS.
Kondisi ini memicu gelombang keluhan warga di media sosial yang mendesak pemerintah segera memperbaiki sistem kelistrikan yang dianggap tidak stabil.
Gubernur Albert Bryan Jr. sebelumnya telah berjanji menyelesaikan persoalan tersebut dengan mengalokasikan sekitar 100 juta dolar AS dari dana federal untuk mendukung perusahaan utilitas yang tengah menghadapi berbagai masalah operasional.
Namun demikian, WAPA masih kesulitan menyediakan layanan yang andal.
Pada April lalu, pejabat perusahaan menjelaskan kepada legislatif bahwa pemadaman listrik disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari badai, kekurangan peralatan, kapasitas pembangkit yang lemah, kerusakan peralatan, hingga bertahun-tahun penundaan pemeliharaan infrastruktur.
Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan lebih dari separuh unit pembangkit berbahan bakar minyak di wilayah tersebut telah berusia lebih dari 25 tahun.
Selain itu, badai besar Irma dan Maria yang melanda pada September 2017 juga menyebabkan kerusakan parah pada jaringan transmisi dan distribusi listrik. Kedua badai tersebut merusak atau menghancurkan hingga 90 persen sistem distribusi tenaga listrik di Kepulauan Virgin AS.
Untuk mengurangi risiko pemadaman berulang, WAPA berencana memasang pembangkit sementara dan menambah sistem penyimpanan energi baterai di pembangkit utama dalam beberapa bulan mendatang.
Ketergantungan wilayah tersebut terhadap energi fosil juga masih sangat tinggi. Sumber energi terbarukan hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total kapasitas pembangkit listrik.
Sementara itu, harga listrik rata-rata pada 2024 mencapai sekitar 33 sen per kilowatt-jam, atau hampir dua kali lipat lebih mahal dibandingkan rata-rata nasional Amerika Serikat yang berada di angka 16 sen per kilowatt-jam.
Baca juga: Pakar ITB Sebut Blackout Sumatra Diduga akibat Tekanan Angin Kencang pada Sambungan Kabel Transmisi
Blackout Sumatra Jadi Sorotan
Sebelumnya, pemadaman listrik massal atau blackout juga terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra pada Jumat (22/5/2026) malam.
Gangguan sistem kelistrikan tersebut berdampak luas di sejumlah provinsi, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau hingga Jambi.
Setelah berlangsung selama beberapa hari, kondisi kelistrikan berangsur pulih sejak Sabtu (23/5/2026) hingga akhirnya dinyatakan normal sepenuhnya pada Senin (25/5/2026).
Dalam proses pemulihan, PT PLN (Persero) terlebih dahulu melakukan asesmen terhadap gardu induk dan jaringan transmisi guna memastikan tidak ada kerusakan fisik yang membahayakan sistem.
Setelah itu, perusahaan secara bertahap menghidupkan kembali pembangkit yang terdampak akibat efek domino blackout hingga pasokan listrik kembali normal 100 persen.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan yang berdampak terhadap rumah tangga, fasilitas vital, hingga aktivitas ekonomi.
“Kami atas nama PT PLN Persero menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang berada di Sumatra,” ujar Darmawan saat konferensi pers, Sabtu (25/5/2026).
Kerusakan Jaringan Transmisi Jadi Pemicu
Direktur Transmisi PLN, Edwin Nugraha Putra menjelaskan pemadaman massal bermula ketika jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi mengalami gangguan akibat cuaca ekstrem.
Menurut Edwin, sistem kelistrikan Sumatra memiliki dua jalur utama, yakni jalur timur bertegangan 500 kV dan jalur barat bertegangan 275 kV.
Pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB, cuaca ekstrem menyebabkan perpindahan arus listrik dari jalur timur menuju jalur barat. Perpindahan tersebut memicu fenomena power swing atau osilasi yang menyebabkan ketidakstabilan sistem.
"Jadi, tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu karena berpindahnya ke arah 275 kV tadi," ujar Edwin di Bareskrim Senin (25/5/2026).
Akibat gangguan tersebut, sistem kelistrikan Sumatra terpisah menjadi dua bagian. Wilayah selatan yang memiliki pasokan pembangkit cukup tetap stabil sehingga daerah seperti Palembang dan Lampung tidak mengalami pemadaman. Sementara itu, wilayah utara mengalami kekurangan pasokan listrik yang berujung pada gangguan besar.
"Akhirnya pembangkit-pembangkit di bagian utara trip semua, sehingga pelanggan-pelanggan kami di Jambi, di Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman," imbuhnya.
PLN juga masih menghitung total kerugian akibat insiden tersebut, termasuk biaya perbaikan jaringan yang rusak.
"Ya tentu kita melakukan perbaikan di sistem jaringan itu gitu ya. Jadi kita akan coba ganti kabelnya, karena ada yang putus tadi, biar kita pakai pressan yang baru lagi," pungkasnya.
Baca juga: Blackout di Sumatera, Anggota Komisi VI DPR Tekankan Pentingnya Penguatan Infrastruktur Listrik
Polisi Pastikan Tidak Ada Sabotase
Di tengah beredarnya spekulasi mengenai kemungkinan sabotase, Bareskrim Polri memastikan bahwa blackout tidak disebabkan oleh unsur kesengajaan.
Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin mengatakan hasil penyelidikan awal menunjukkan gangguan berasal dari kerusakan jaringan transmisi akibat faktor cuaca ekstrem.
"Sampai dengan saat ini, bisa kami pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut," ujar Nunung di Bareskrim, Senin (25/5/2026).
Penyelidikan menemukan titik gangguan berada pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumpeh di wilayah Jambi. Gangguan tersebut memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan yang kemudian berdampak pada pemadaman di berbagai daerah.
"Berdampak pada blackout massal di sejumlah wilayah Sumatra meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan," imbuhnya.
Polisi juga mendalami laporan warga yang mengaku mendengar suara ledakan sebelum pemadaman terjadi. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan kerusakan kabel yang ditemukan tidak memiliki karakteristik sabotase.
"Kenapa kami bisa memastikan ini bukan faktor sabotase? Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Dia lebih bersifat atau berbentuk serabut, ya," pungkasnya. (ABC News/AP/Tribunnews)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.