Iran Vs Amerika Memanas
Trump ke Netanyahu: Anda Akan Berada di Penjara Jika Bukan Karena Saya
Trump menuduh Netanyahu mendorong Israel menuju isolasi internasional dan membahayakan upaya diplomatik AS dengan Iran.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump dilaporkan berkonfrontasi dengan Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon terkait serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
- Trump menuduh Netanyahu mendorong Israel menuju isolasi internasional dan membahayakan upaya diplomatik AS dengan Iran.
- Menurut Axios, Trump marah sampai menyebut Netanyahu 'gila".
TRIBUNNEWS.COM, AS - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan meluapkan amarahnya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait meningkatnya serangan militer Israel ke Lebanon.
Dalam percakapan melalui telepon itu, Trump dikabarkan melontarkan kata-kata kasar karena serangan Israel ke Lebanon dikhawatirkan menggagalkan negosiasi sensitif AS dengan Iran.
Seperti diketahui beberapa hari ini, Israel mengintensifkan serangan militer ke Lebanon dengan alasan menargetkan Hizbullah di pinggiran selatan Beirut.
Menurut Axios, Senin (1/6/2026), Trump menuduh Netanyahu mendorong Israel menuju isolasi internasional dan membahayakan upaya diplomatik AS dengan Iran.
Dua pejabat AS dan sumber lainnya mengatakan itu kepada Axios.
Dimana percakapan telepon tersebut Trump sampai menyebut Netanyahu "gila".
Trump juga mengeluhkan pemimpin Israel itu bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
“Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," demikian sumber pertama Axios yang mengetahui percakapan itu.
Sumber kedua mengatakan Trump, yang tampak marah selama percakapan telepon itu, pada satu titik berteriak. “Apa yang kau lakukan?”
Penangkapan Netanyahu
Tahun 21 November 2024 lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik di Jalur Gaza.
Surat perintah ini mengikat 124 negara anggota ICC.
Ancaman Iran, Israel Meleleh ditelepon Trump?
Senin kemarin, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz memerintahkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai Hizbullah di distrik Dahiyeh, Beirut.
Pengumuman tersebut membuat warga melarikan diri dari pinggiran selatan ibu kota Lebanon di tengah kekhawatiran akan serangan udara besar-besaran.
Iran, yang mendukung Hizbullah, memperingatkan bahwa serangan Israel yang berkelanjutan di Lebanon dapat merusak negosiasi yang sedang berlangsung dengan Washington yang bertujuan untuk meredakan ketegangan setelah berbulan-bulan konflik.
"Jika kejahatan ini terus berlanjut, kami tidak hanya akan menghentikan proses negosiasi dengan Amerika Serikat, tetapi kami juga akan berdiri langsung di garis depan untuk melawan Israel," tegas Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dikutip dari kantor berita Iran Fars.
Para pejabat AS mengatakan Trump memahami argumen Israel bahwa mereka menanggapi serangan roket dan pesawat tak berawak Hizbullah, tetapi percaya Netanyahu meningkatkan konflik secara tidak proporsional.
Seorang pejabat AS mengatakan Trump sangat terganggu oleh jumlah korban sipil di Lebanon dan keberatan dengan serangan skala besar yang menargetkan komandan Hizbullah tertentu.
Israel batal serang Beirut?
Panggilan telepon Trump itu tampaknya berdampak langsung.
Seorang pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa Israel tidak lagi berencana untuk menyerang target Hizbullah di Beirut.
Trump mengatakan dia telah berbicara dengan Netanyahu dan bahwa pasukan Israel yang menuju Beirut telah dipukul mundur.
Dia juga mengklaim Hizbullah, melalui perantara, telah setuju untuk menghentikan serangan terhadap Israel.
“Saya melakukan panggilan telepon yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu,” tulis Trump di Truth Social, menambahkan bahwa “tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut.”
Namun, Netanyahu tidak memberi sinyal perubahan apa pun dalam postur militer Israel secara keseluruhan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah panggilan telepon tersebut, ia mengatakan Israel akan melanjutkan operasi di Lebanon selatan dan memperingatkan bahwa serangan terhadap Beirut tetap menjadi pilihan jika Hizbullah tidak berhenti menembaki Israel.
“Posisi kami tetap sama,” kata Netanyahu.
Bentrokan tersebut menyoroti meningkatnya ketegangan antara kedua pemimpin meskipun ada koordinasi erat mengenai Iran dan isu-isu keamanan regional.
Seorang pejabat AS menggambarkannya sebagai salah satu percakapan paling sengit antara Trump dan Netanyahu sejak Trump kembali menjabat.
Para pejabat mengatakan frustrasi Trump sebagian besar berasal dari kekhawatiran bahwa konflik Lebanon dapat meruntuhkan negosiasi AS-Iran yang sedang berlangsung, yang kemudian ia tegaskan "berlanjut, dengan cepat."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/donald-trump-dan-Benjamin-Netanyahu-212.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.