Selasa, 2 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Ancam Serangan Besar tapi Tak Kunjung Terjadi, Ukraina Sebut Ini Permainan Psikologis

Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina.

Tayang:
Kremlin
TENTARA RUSIA - Foto prajurit Rusia yang berbaris dalam parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Raya di Lapangan Merah, Moskow, Rusia pada 9 Mei 2026. - Para pejabat Ukraina menganggap Rusia mungkin menunda serangannya untuk meningkatkan tekanan psikologis terhadap warga Ukraina. 

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa militer Ukraina kini mampu menyerang jalur logistik Rusia hampir di seluruh wilayah Ukraina yang masih diduduki pasukan Moskow.

Menurut Zelenskyy, kemampuan serangan jarak jauh Ukraina telah berkembang pesat sehingga hampir tidak ada lagi jalur aman bagi pasukan Rusia di wilayah selatan dan timur Ukraina.

Serangan terhadap jalur logistik dinilai sangat penting karena dapat menghambat pengiriman pasukan, amunisi, dan perlengkapan militer Rusia ke garis depan pertempuran.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ukraina berupaya meningkatkan tekanan militer terhadap Rusia sambil mempersiapkan posisi yang lebih kuat dalam kemungkinan perundingan damai mendatang.

Rusia Hadapi Krisis Bahan Bakar Akibat Dampak Perang

Pemerintah Rusia dilaporkan tengah menghadapi masalah pasokan bahan bakar dalam negeri. Untuk mengatasi situasi tersebut, Moskow berencana meningkatkan impor bahan bakar dari Belarus serta memperketat pengawasan ekspor bensin dan solar.

Media Rusia RBC melaporkan bahwa pemerintah bahkan sedang mempertimbangkan larangan total ekspor bensin selama dua bulan. Selain itu, Rusia juga telah melarang ekspor bahan bakar penerbangan hingga akhir November 2026.

Di wilayah Krimea yang diduduki Rusia, khususnya di Sevastopol, pemerintah setempat mulai memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar kepada masyarakat. Kelangkaan tersebut disebut berkaitan dengan serangan Ukraina yang mengganggu jalur distribusi dan fasilitas energi Rusia.

Puluhan Negara di PBB Kecam Rusia Setelah Drone Hantam Rumania

Sebanyak 56 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk negara-negara Uni Eropa dan NATO, mengecam Rusia setelah sebuah drone Rusia dilaporkan menghantam gedung apartemen di Rumania.

Insiden tersebut menyebabkan dua orang terluka dan memicu kekhawatiran internasional karena Rumania merupakan anggota NATO.

Menteri Luar Negeri Rumania, Oana-Silvia Toiu, menyampaikan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat diterima menurut hukum internasional.

Negara-negara yang mendukung pernyataan tersebut mendesak Rusia menghentikan tindakan yang berpotensi memperluas konflik di luar wilayah Ukraina dan meningkatkan ketegangan keamanan di Eropa.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina secara terbuka dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke berbagai wilayah Ukraina.

Namun, penyebab konflik ini sebenarnya sudah muncul sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991. Setelah merdeka, Ukraina mulai menjalankan kebijakan politik dan hubungan luar negeri secara mandiri.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa.

Ukraina juga menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO, yaitu aliansi pertahanan yang beranggotakan sejumlah negara Barat. Rusia menganggap langkah tersebut dapat mengancam keamanan dan kepentingannya di kawasan.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan di Ukraina. Peristiwa itu menyebabkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal dekat dengan Rusia, kehilangan jabatannya.

Tidak lama kemudian, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di kawasan Donbas. Sejak saat itu, konflik bersenjata di wilayah tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Berbagai usaha perdamaian sempat dilakukan, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, kesepakatan tersebut sulit dijalankan karena Rusia dan Ukraina saling menuduh telah melanggar perjanjian.

Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Rusia menyatakan tindakan tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina dan mencegah perluasan NATO. Namun, Ukraina dan banyak negara Barat menilai tindakan itu sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara Ukraina.

Sejak perang dimulai, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu memberikan bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan kepada Ukraina. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor ekonomi, keuangan, dan energinya.

Perang ini tidak hanya berdampak pada Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi banyak negara di dunia. Konflik tersebut menyebabkan gangguan pasokan energi dan pangan global serta meningkatkan ketegangan politik internasional.

Hingga sekarang, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian yang berkelanjutan.

Upaya pembicaraan yang sebelumnya ditengahi oleh AS kini mandek setelah AS meluncurkan agresi terhadap Iran yang membuatnya memprioritaskan konflik tersebut yang hingga saat ini belum berakhir.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved