PBB Peringatkan Seluruh Dunia untuk Hadapi El Nino dalam Waktu Dekat
PBB melalui WMO memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpeluang besar kembali terjadi pada paruh kedua 2026
Ringkasan Berita:
- PBB melalui WMO memperingatkan bahwa fenomena El Nino berpeluang besar kembali terjadi pada paruh kedua 2026
- Fenomena ini dapat memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.
- El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang dapat mengubah pola cuaca global, termasuk meningkatkan risiko hujan ekstrem dan kekeringan.
TRIBUNNEWS.COM - Dunia harus bersiap menghadapi kembalinya fenomena El Nino beserta cuaca ekstrem yang menyertainya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan.
Dilansir Guardian, fenomena cuaca alami yang kuat ini dapat meningkatkan suhu global dan memperburuk pola curah hujan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Selasa (2/6/2026) memperkirakan peluang El Nino terbentuk mencapai 80 persen sebelum September dan 90 persen sebelum November.
World Meteorological Organization (WMO) merupakan badan khusus PBB yang bertugas mengoordinasikan kerja sama internasional di bidang ilmu atmosfer, klimatologi, hidrologi, dan geofisika.
WMO menemukan bahwa sebagian besar model iklim memproyeksikan kembalinya fenomena El Nino dengan kekuatan setidaknya sedang, bahkan berpotensi kuat.
Sebelumnya, sejumlah ilmuwan telah memperingatkan bahwa El Nino kali ini bisa menjadi yang terkuat abad ini.
Namun, WMO belum mendukung proyeksi tersebut dan menegaskan bahwa prakiraan masih berada dalam periode ketidakpastian.
“Sebarannya luas,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
“Ada model yang tidak memberikan indikasi El Nino yang kuat, sementara yang lain menunjukkannya.”
Baca juga: BMKG Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan di 6 Provinsi Buntut El Nino dan Kemarau Terjadi Bersamaan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dunia harus menganggap perkembangan ini sebagai peringatan iklim yang mendesak.
“Kondisi El Nino akan menambah bahan bakar pada api pemanasan global,” katanya.
“Dampaknya akan terasa lebih keras, menyebar lebih jauh, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan yang menghancurkan.”
El Nino terakhir, yang terjadi pada 2023–2024, merupakan salah satu dari lima peristiwa El Nino terkuat yang pernah tercatat dan berkontribusi terhadap rekor suhu global pada 2024.
WMO mengatakan suhu yang sangat tinggi diperkirakan terjadi di hampir seluruh wilayah dunia dalam tiga bulan ke depan.
WMO juga memperingatkan meningkatnya risiko curah hujan ekstrem dan kekeringan.
Meskipun setiap peristiwa El Nino memiliki karakteristik yang berbeda, para ilmuwan umumnya mengaitkannya dengan curah hujan yang lebih tinggi di sebagian wilayah Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.
Sebaliknya, kondisi yang lebih kering biasanya terjadi di Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, dan beberapa wilayah Asia Selatan.
Perairan yang lebih hangat juga dapat memicu pembentukan badai di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, tetapi menghambat pembentukannya di kawasan Atlantik.
Apa Itu El Nino?
Mengutip USGS, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur hingga berada di atas kondisi normal.
Pada kondisi normal, angin permukaan tingkat rendah atau angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang khatulistiwa.
Namun saat El Nino terjadi, angin tersebut melemah atau bahkan berbalik arah dari barat ke timur.
El Nino terjadi secara tidak teratur, mulai dari interval dua tahun hingga satu dekade, dan tidak ada dua peristiwa yang benar-benar sama.
Fenomena ini dapat mengganggu pola cuaca normal di berbagai belahan dunia.
Asal Usul El Nino
Mengutip Welthungerhilfe, berabad-abad lalu para nelayan di Peru memperhatikan fenomena yang tidak biasa setiap beberapa tahun sekali.
Perairan Samudra Pasifik menjadi jauh lebih hangat dan populasi ikan berkurang drastis.
Karena fenomena ini sering muncul menjelang Natal, mereka menamainya dengan istilah dalam bahasa Spanyol untuk "anak laki-laki" atau "Bayi Kristus", yaitu El Nino.
Para ilmuwan kemudian menghubungkan pemanasan laut tersebut dengan berbagai anomali cuaca di wilayah lain di dunia dan menemukan adanya keterkaitan yang memengaruhi sistem iklim global.
Fenomena El Nino bermula di kawasan Pasifik timur.
Dalam kondisi normal, Arus Humboldt membawa air dingin dari wilayah Antartika ke lepas pantai Amerika Selatan.
Sementara itu, angin pasat yang bertiup dari tenggara mendorong air permukaan yang hangat ke arah barat menuju Asia Tenggara, sehingga air dingin dari lapisan bawah laut terus naik ke permukaan dan menjaga suhu laut tetap rendah.
Namun, pada periode tertentu yang tidak teratur, angin pasat melemah karena alasan yang belum sepenuhnya dipahami.
Akibatnya, air hangat di permukaan tidak lagi terdorong ke arah barat dan bahkan dapat bergerak kembali ke arah timur.
Kondisi ini menghambat naiknya air dingin dari kedalaman laut di lepas pantai Amerika Selatan, sehingga suhu permukaan laut terus meningkat.
Plankton yang menjadi sumber makanan ikan tidak mampu bertahan di perairan yang terlalu hangat.
Akibatnya, kawanan ikan bermigrasi ke wilayah lain.
Fenomena El Nino tidak hanya memengaruhi kawasan Pasifik.
Sistem iklim Bumi saling terhubung dalam jaringan yang sangat kompleks.
Karena itu, El Nino dapat menimbulkan dampak di wilayah yang jauh, seperti Afrika Timur.
Kemungkinan Dampak El Nino
Berikut kemungkinan dampak El Nino di berbagai belahan dunia:
- Hujan lebat di Amerika Selatan bagian barat.
- Kekeringan di Australia dan Asia Tenggara.
- Kekeringan di wilayah Sahel.
- Hujan lebat di Afrika Timur.
- Kekeringan di Afrika bagian selatan.
- Kekeringan di anak benua India.
- Hujan lebat di Asia Tengah.
- Hujan lebat di Asia Timur.
- Hujan lebat di Amerika Utara bagian selatan.
- Kekeringan di Amerika Selatan bagian utara dan Amerika Tengah.
- Suhu rata-rata yang lebih tinggi di banyak wilayah.
Fenomena-fenomena ini tidak selalu terjadi secara bersamaan, melainkan dapat muncul pada waktu yang berbeda selama berlangsungnya El Nino.
WMO menyatakan harapannya bahwa peringatan tersebut akan membantu negara-negara untuk bersiap, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim seperti pertanian, pengelolaan air, energi, dan kesehatan.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.