Selasa, 9 Juni 2026

Gempa di Sulut

Filipina Pastikan Gempa 7,8 SR Terjadi Karena Pergerakan Palung Cotabato

Pihak otoritas geologi Filipina menyatakan bahwa palung yang sama merupakan penyebab utama gempa bumi dan tsunami Teluk Moro pada tahun 1976

Tayang:
Penulis: Bobby W
Tangkap Layar Akun Facebook Resmi ABS-CBN
BADAN GEOLOGI FILIPINA - Peneliti spesialis aktivitas gempa dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) , Winchelle Sevilla, menjelaskan informasi terkait gempa pada Senin (8/6/2026). Pihak otoritas geologi Filipina menyatakan bahwa palung yang sama merupakan penyebab utama bencana gempa bumi dan tsunami Teluk Moro pada tahun 1976 yang menelan ribuan korban jiwa.  

Ringkasan Berita:
  • Gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo yang mengguncang Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026) dipicu oleh pergerakan aktif di Palung Cotabato.
  • Dampak gempa juga memicu peringatan dini tsunami untuk wilayah Filipina, Indonesia, Palau, Taiwan, dan Papua Nugini.
  • Pihak berwenang Filipina, melalui peneliti Winchelle Sevilla, menegaskan bahwa Palung Cotabato merupakan jalur seismik aktif yang pernah memicu gempa dan tsunami besar pada tahun 1976

 

TRIBUNNEWS.COM - Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) mengonfirmasi bahwa gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo yang mengguncang wilayah Mindanao pada Senin (8/6/2026) dipicu oleh pergerakan di Palung Cotabato

Guncangan kuat ini mengakibatkan setidaknya satu orang dilaporkan meninggal dunia, sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah hingga runtuh, serta memicu peringatan dini tsunami di seluruh kawasan sekitar.

Kaitan dengan Gempa Besar Masa Lalu

Melansir dari ABS-CBN, Pihak otoritas geologi Filipina menyatakan bahwa palung yang sama merupakan penyebab utama bencana gempa bumi dan tsunami Teluk Moro pada tahun 1976 yang menelan ribuan korban jiwa. 

Peneliti spesialis aktivitas gempa dan Seismologi dari Phivolcs, Winchelle Sevilla, menjelaskan bahwa aktivitas seismik di jalur ini memang cukup signifikan.

“Palung Cotabato aktif. Kami mencatat banyak gempa bumi di sini, meskipun kecil. Bahkan, sejak Januari hingga Mei lalu, terjadi serangkaian gempa susulan. Hal ini dirasakan oleh saudara-saudara kita di Sultan Kudarat,” ujar Sevilla.

Sevilla juga menegaskan tingkat bahaya dari fenomena gempa berskala di atas 7 skala Richter ini. 

“Gempa dengan intensitas 7 SR ini membuat seseorang sangat sulit untuk berdiri karena guncangannya sangat kuat, cepat, dan berlangsung lama. Benda-benda yang tergantung namun tidak terpasang dengan kuat berisiko jatuh, dan struktur bangunan yang lemah kemungkinan besar akan mengalami kerusakan atau bahkan runtuh,” tambahnya.

Terkait upaya mitigasi, Sevilla juga memberikan sejumlah arahan bagi masyarakat. 

Baca juga: Detik-Detik Restoran Cepat Saji Ambruk setelah Gempa M 7,8 Guncang Filipina, 1 Orang Meninggal Dunia

“Jika Anda berada di dalam gedung saat gempa kuat terjadi, langkah paling penting yang harus segera dilakukan adalah melakukan prosedur duck, cover, and hold (merunduk, berlindung, dan berpegangan)," tegas Sevilla.

"Hal ini perlu dilakukan karena guncangan yang sangat kuat dapat menyebabkan benda-benda yang tergantung berjatuhan," sambungnya.

Sevilla juga memberikan tips mitigasi bagi mereka yang sedang dalam mobilitas tinggi atau keadaan sedang bepergian.

"Sementara itu, jika Anda sedang berada di dalam kendaraan, segera menepi ke pinggir jalan atau mencari lokasi yang dirasa aman untuk berhenti.” pungkas Sevilla

Dampak Kerusakan di Lapangan

Berdasarkan data resmi Phivolcs, episenter gempa yang terjadi pada Senin tersebut berlokasi di lepas pantai, sekitar 24 kilometer di sebelah barat Provinsi Sarangani.

Dampak guncangan terasa cukup destruktif di beberapa titik.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved