Iran Vs Amerika Memanas
Harga Minyak Melonjak! Serangan Netanyahu ke Iran dan Lebanon Guncang Pasar Dunia
Harga minyak dunia melonjak usai Israel serang Iran dan Lebanon. Ancaman krisis energi global hingga gangguan Selat Hormuz makin dikhawatirkan.
Namun peringatan tersebut tampaknya tidak dihiraukan. Israel justru kembali membombardir fasilitas energi, jalur produksi, dan infrastruktur yang dianggap mendukung aktivitas militer Iran.
Akibat eskalasi terbaru ini, gencatan senjata yang sempat berlangsung sejak April kini berada di ambang kehancuran.
Selat Hormuz Jadi Kekhawatiran Utama Pasar
Bagi pasar energi global, persoalan paling penting bukan hanya perang antara Israel dan Iran, tetapi ancaman terhadap Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur transit utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur laut strategis tersebut.
Sejak perang AS-Iran pecah pada Februari lalu, Iran disebut masih menghambat sebagian arus pelayaran di kawasan itu. Kondisi tersebut membuat distribusi minyak global terganggu dan memicu kekhawatiran besar di pasar internasional.
Jika Selat Hormuz terus mengalami gangguan, banyak negara produsen minyak diperkirakan akan kesulitan mengirim pasokan ke konsumen dunia.
Karena itulah setiap peningkatan ketegangan di kawasan Teluk langsung memicu lonjakan harga minyak dunia.
OPEC+ Tambah Produksi, Tapi Pasar Tetap Cemas
Di tengah meningkatnya konflik, kelompok OPEC+ pada Minggu memutuskan tetap melanjutkan peningkatan produksi minyak untuk bulan keempat secara berturut-turut.
Tujuh anggota inti OPEC+ diperkirakan menaikkan target produksi sekitar 188 ribu barel per hari pada Juli mendatang.
Namun keputusan tersebut belum mampu menenangkan pasar. Pelaku pasar menilai persoalan utama saat ini bukan jumlah produksi minyak, melainkan kemampuan negara-negara produsen untuk benar-benar menyalurkan minyak ke pasar global di tengah konflik yang terus memanas.
Data OPEC menunjukkan produksi kelompok tersebut justru turun tajam sejak perang pecah. Produksi rata-rata anjlok menjadi 33,19 juta barel per hari pada April dari sebelumnya 42,77 juta barel per hari pada Februari.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi menghadapi kendala besar akibat terganggunya jalur ekspor minyak. Rusia juga mengalami tekanan setelah sejumlah infrastruktur energinya terkena serangan.
Kondisi ini membuat pasar mulai mengabaikan tambahan kuota produksi OPEC+.
Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan konflik geopolitik terus meningkat, ancaman kekurangan pasokan minyak dunia masih sangat besar.