Gempa di Sulut
Update Gempa Filipina: Korban Meninggal Mencapai 37 Orang di Dua Region
Filipina mengungkapkan total korban jiwa gempa mencapai 37 orang. 4 Meninggal di Region Davao, 22 Meninggal di Regopn Soccsksargen
Ringkasan Berita:
- Korban meninggal dunia akibat gempa M 7,8 di Mindanao, Filipina, kini mencapai 37 orang, dengan mayoritas korban berasal dari wilayah Region Soccsksargen
- Gempa dipicu oleh pergerakan aktif di Palung Cotabato, jalur seismik yang sama dengan peristiwa bencana besar di Teluk Moro pada tahun 1976.
- Guncangan yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani menyebabkan kerusakan parah, termasuk hancurnya pusat perbelanjaan di General Santos dan robohnya bangunan sekolah.
TRIBUNNEWS.COM – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina pada Senin kemarin (8/6/2026) dilaporkan terus bertambah.
Gempa ini juga terasa hingga Sulawesi Utara, Indonesia.
Melansir dari ABS-CBN, Kantor Pertahanan Sipil Filipina dalam wawancara media dengan DZMM Teleradyo pada Selasa pagi (9/6/2026) mengungkapkan bahwa total korban jiwa terkini telah mencapai 37 orang.
Dari jumlah tersebut, empat orang dilaporkan berasal dari wilayah Region Davao yang mencakup lima provinsi dan satu kota otonom.
Kelima provinsi tersebut adalah Davao de Oro, Davao del Norte, Davao del Sur, Davao Occidental, dan Davao Oriental.
Sementara itu, 33 korban meninggal lainnya tercatat berada di wilayah Region Soccsksargen terletak di bagian selatan hingga tengah kepulauan Mindanao.
Soccksargen sendiri merupakan akronim dari empat provinsi dan satu kota urban: South Cotabato, Cotabato, Sultan Kudarat, Sarangani, dan General Santos.
Pihak berwenang setempat menyampaikan bahwa angka ini masih bersifat sementara dan kemungkinan besar akan terus bertambah seiring dengan terus berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi terdampak.
Baca juga: 7 Fakta Gempa M 7,8 Filipina: 3 Tewas, Jollibee Ambruk, Tsunami Sempat Ancam Kepulauan Sangihe
Kaitan dengan Gempa Besar Masa Lalu
Dampak destruktif yang meluas ini disinyalir berkaitan erat dengan karakter seismik di wilayah tersebut.
Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) mengonfirmasi bahwa gempa yang terjadi pada senin dipicu oleh pergerakan di Palung Cotabato (Cotabato Trench).
Pihak otoritas geologi Filipina menyatakan bahwa palung yang sama merupakan penyebab utama bencana gempa bumi dan tsunami Teluk Moro pada tahun 1976 yang menelan ribuan korban jiwa.
Peneliti spesialis aktivitas gempa dan Seismologi dari Phivolcs, Winchelle Sevilla, menjelaskan bahwa aktivitas seismik di jalur ini memang cukup signifikan.
“Palung Cotabato aktif. Kami mencatat banyak gempa bumi di sini, meskipun kecil. Bahkan, sejak Januari hingga Mei lalu, terjadi serangkaian gempa susulan. Hal ini dirasakan oleh saudara-saudara kita di Sultan Kudarat,” ujar Sevilla.
Sevilla juga menegaskan tingkat bahaya dari fenomena gempa berskala di atas 7 skala Richter ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gempa-filipina-mindanao-2026.jpg)