Konflik Rusia Vs Ukraina
Rusia Diguncang Berbagai Ledakan, Pejabat Militer Tewas dalam Bom Mobil
Rusia melaporkan sejumlah ledakan yang terjadi pada hari Selasa. Pejabat militer yang bertugas terkait amunisi berat tewas dalam bom mobil.
“Moskow dan Kyiv harus duduk di meja perundingan untuk mengakhiri perang.”
Di sisi lain, Kremlin melalui juru bicara Dmitry Peskov menyebut belum ada rencana pembicaraan langsung antara Donald Trump dan Vladimir Putin.
Ia juga menilai Uni Eropa belum siap menjadi mediator karena dianggap terlalu memberi syarat dalam proses perdamaian.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia–Ukraina yang kini menjadi salah satu konflik terbesar di Eropa pada abad ke-21 secara resmi pecah pada 24 Februari 2022.
Pada saat itu, Rusia melancarkan operasi militer skala besar ke wilayah Ukraina, yang kemudian memicu kecaman luas dari berbagai negara di dunia.
Namun, akar permasalahan kedua negara sebenarnya telah muncul jauh sebelum perang dimulai.
Setelah meraih kemerdekaan dari Uni Soviet pada 1991, Ukraina perlahan memperkuat hubungan politik, ekonomi, dan keamanan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Salah satu isu utama yang menjadi sumber ketegangan adalah keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO.
Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya, serta menilai perluasan aliansi militer Barat ke kawasan Eropa Timur dapat mengurangi pengaruh Moskow di wilayah yang dianggap strategis.
Ketegangan semakin memburuk pada 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menyebabkan lengsernya Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki kedekatan dengan Rusia.
Tak lama setelah itu, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata juga pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk antara kelompok separatis pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina.
Berbagai upaya diplomasi kemudian dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman.
Namun, implementasi perjanjian tersebut tidak berjalan mulus karena masing-masing pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Eskalasi terbesar terjadi pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina.
Rusia menyatakan tindakan tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah perluasan NATO.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PUTlN-234324333r4.jpg)