Iran Vs Amerika Memanas
Menyoroti Kesepakatan Trump, JD Vance: AS Tak akan Bayar Apa Pun ke Iran
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan AS tidak akan membayar apa pun kepada Iran, sebut kesepakatan ini adalah kemenangan bagi AS.
Ringkasan Berita:
- JD Vance menegaskan AS tidak akan memberikan “uang” atau kompensasi kepada Iran, termasuk pelonggaran sanksi dan aset yang dibekukan, dalam bentuk apa pun.
- Ia juga memperingatkan bahwa program nuklir, militer, dan rudal Iran akan tetap ditekan jika tidak mematuhi kesepakatan.
- Vance menegaskan negosiasi bukan hadiah, melainkan langkah serius untuk mencapai hasil bagi AS.
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD. Vance mengatakan Washington tidak akan membayar uangnya kepada Iran dalam keadaan apa pun.
Ia merujuk pada hal yang diperdebatkan mengenai pencabutan sanksi ekonomi, pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, dan hal lain yang dianggap "kompensasi" untuk Iran.
Pernyataan JD. Vance disampaikan hanya beberapa hari sebelum penandatanganan resmi nota kesepahaman antara Washington dan Teheran di Swiss Jumat, 19 Juni 2026.
Dalam pernyataannya pada hari Selasa, JD. Vance mengancam Teheran bahwa program nuklir, militer, dan rudalnya akan tetap terganggu dan lumpuh jika tidak melaksanakan ketentuan perjanjian tersebut.
Wakil Trump itu mengatakan ia akan menghadiri negosiasi Jenewa seperti yang telah ia hadiri dalam pembicaraan dengan Pakistan untuk melihat niat Iran dan seberapa serius mereka.
Ia menjelaskan dirinya dan Presiden AS Donald Trump tidak melihat negosiasi langsung dengan Iran sebagai hadiah atas hal itu, melainkan sebagai langkah serius untuk mencapai hasil, menekankan bahwa mereka akan tetap terlibat dalam pembicaraan dengan Teheran dalam upaya untuk mencapai hasil positif bagi rakyat Amerika.
"Kami telah mengubah Timur Tengah secara fundamental, terlepas dari apakah Iran patuh atau tidak," kata Vance, Selasa (16/6/2026).
Ia memperingatkan Iran bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa pun kecuali mereka melakukan perubahan "radikal" dalam perilaku mereka.
Pada hari Senin, Presiden Trump mengatakan nota kesepahaman dengan Iran telah ditandatangani secara elektronik dan Selat Hormuz telah dibuka "sebagian".
Trump menambahkan bahwa selat tersebut akan dibuka sepenuhnya Jumat depan setelah upacara penandatanganan perjanjian.
Sementara JD. Vance kemudian menyatakan Trump mungkin memutuskan untuk mengungkapkan ketentuan perjanjian tersebut sebelum itu, lapor Al Jazeera.
Baca juga: Iran Ultimatum Netanyahu, Ancam Gempur Israel jika Lebanon Terus Dibombardir
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang sejumlah fasilitas strategis Iran, menyusul kegagalan perundingan nuklir di Jenewa, Swiss.
Washington dan Tel Aviv menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan programnya hanya untuk tujuan damai.
Ketegangan meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan wafat dan digantikan oleh Mojtaba Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk, sekaligus memperketat pengawasan di Selat Hormuz.
Setelah sekitar 40 hari pertempuran, mediasi yang dipimpin Pakistan berhasil menghasilkan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Wakil-Presiden-Amerika-Serikat-AS-JD-Vance-rwerwer.jpg)